TNI AL Merajut Asa untuk Indonesia Emas
Selasa, 28 Mei 2024 - 06:55 WIB
loading...
A
A
A
Apa yang disampaikan Bung Karno tentang visi mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim kuat bukanlah isapan jempol. Di era kepemimpinannya, armada perang laut Indonesia menjadi terkuat di belahan bumi selatan, termasuk melampaui Australia maupun India.
Seperti dipaparkan buku “Kapal Selam Indonesia” buah tangan Indroyono Soesilo dan Budiman, di masa orde lama tersebut TNI AL memiliki kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam -yaitu KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo (KPT), dan satu kapal penyelamat.
TNI AL juga memiliki KRI Irian, sebuah kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dari kelas light cruiser alias penjelajah ringan yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962.Kapal inilah yang ditugaskan untuk merebut Irian Barat (kini Papua) dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), dan berhasil membuat ciut nyali kapal induk Belanda, HNLMS Karel Doorman R81.
Sayangnya, kekuatan TNI AL di era Orde Baru sempat mengalami penurunan karena beberapa faktor, termasuk sebagai dampak perubahan kebijakan politik yang beralih ke Barat. Baru pada era 80-an. Kala itu dengan membaiknya perekonomian, pemerintah memborong sejumlah kapal perang.
Beberapa akuisisi alutsista matra laut pada fase tersebut adalah destroyer escort (perusak kawal) bekas Amerika Serikat (Kelas Martadinata), koret Kelas Fatahillah, fregat buatan Yugoslavia (Kelas KH Dewantara), patrol ship killer dari Korea Selatan (Kelas KRI Mandau), Fregat Belanda (Kelas Ahmad Yani), Fregat Tribal Class (Kelas KRI Marta Christina Taihahu), dan membangun kapal cepat lisensi Fast Patrol Boat 57 dari Jerman.
Untuk kekuatan bawah air, Indonesia mengakuisisi kapal selam kelas U-29 dari Jerman. Kala itu, TNI AL satu-satunya kesatuan laut di Asean yang mengoperasikan kapal selam, karena Singapura dan Malaysia baru membangun armada kapal selam pada era 2000-an.
Memasuki era Reformasi, pemerintah berupaya membangun kembali kekuatan militernya, termasuk TNI AL, dengan program yang disebut minimum essential force (MEF). Pada 2024 ini, program tersebut menapak bapak akhir dari MEF tahap III yang berlangsung dari 2019-2024. Lewat program inilah, pemerintah dan TNI melakukan modernisasi alusistayang dimiliki Indonesia.
baca juga: TNI AL Prioritaskan Pembelian Alutsista Strategis untuk Percepat Modernisasi
Tentu program ini diharapkan bisa mengakselerasi modernisasi. Namun faktanya, harapan tersebut tidak sepenuhnya menjadi kenyataan. Pada MEF 3, misalnya, KSAL menyebut baru penuhi 60%. Capain ini jauh lebih kecil dari target yang diharapkan Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono sebesar 85%. Kendalanya apa lagi kalau bukan karena keterbatasan anggaran, termasuk pengalihan untuk penanganan wabah Covid-19 seperti disampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Kendati demikian, optimisme TNI AL merajut asa mendapatkan alutsista modern dan kembali menapak kejayaan terbuka lebar saat di fase akhir MEF ini pemerintah melalui Kemenhan mengakuisi alutsista canggih untuk TNI, seperti Fregat Merah Putih, kapal OPV PPA, dan Scorpène Evolved. Di luar itu masih ada tambahan kapal cepat rudal (KCR), kapal patrol, OPV 90, dan sejumlah alutsista lain yang dibangun secara massif di galangan kapal domestik.
Berbagai belanja alutsista belumlah cukup, karena faktanya kebutuhan yang dicanangkan seperti tercantum dalam MEF 2024 tidak terpenuhi. Di sisi lain dinamika tantangan kian kompleks. Tak kalah mendesak, militer tangguh dibutuhkan untuk mendukung visi Indonesia emas 2045, yaitu mewujudkan negara maritim yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan.
Berbagai rencana belanja alutsista yang tercantum dalam daftar tambahan prioritas alutsista TNI AL diproyeksikan tidak berhenti pada rencana strategis 2025-202p. Lebih jauh, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali merencanakan pembangunan postur kekuatan TNI AL 2025-2044. Tentu apa yang diharapkan TNI AL sangat bergantung pada kemampuan anggaran pemerintah.
Namun, melihat dinamika tantangan ke depan dan beratnya tugas TNI menjamin keamanan di sektor laut, langkah TNI AL merajut asa melalui proposal mewujudkan essential force melalui penambahan berbagai alutsista canggih buatan luar negeri maupun karya anak bangsa patutlah menjadi prioritas.
Penguatan armada perang laut dibutuhkan bukan sebatas untuk mengamankan wilayah laut NKRI dan mengantipasi pecahnya konflik di kawasan. Lebih jauh, kekuatan armada yang mampu menghadirkan deterrent effect berperan besar mengembalikan jati diri Indonesia sebagai negara maritim kuat dan menjamin terwujudnya kejayaan Indonesia, dalam hal ini target Indonesia Emas 2045.
Seperti dipaparkan buku “Kapal Selam Indonesia” buah tangan Indroyono Soesilo dan Budiman, di masa orde lama tersebut TNI AL memiliki kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam -yaitu KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo (KPT), dan satu kapal penyelamat.
TNI AL juga memiliki KRI Irian, sebuah kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dari kelas light cruiser alias penjelajah ringan yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962.Kapal inilah yang ditugaskan untuk merebut Irian Barat (kini Papua) dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), dan berhasil membuat ciut nyali kapal induk Belanda, HNLMS Karel Doorman R81.
Sayangnya, kekuatan TNI AL di era Orde Baru sempat mengalami penurunan karena beberapa faktor, termasuk sebagai dampak perubahan kebijakan politik yang beralih ke Barat. Baru pada era 80-an. Kala itu dengan membaiknya perekonomian, pemerintah memborong sejumlah kapal perang.
Beberapa akuisisi alutsista matra laut pada fase tersebut adalah destroyer escort (perusak kawal) bekas Amerika Serikat (Kelas Martadinata), koret Kelas Fatahillah, fregat buatan Yugoslavia (Kelas KH Dewantara), patrol ship killer dari Korea Selatan (Kelas KRI Mandau), Fregat Belanda (Kelas Ahmad Yani), Fregat Tribal Class (Kelas KRI Marta Christina Taihahu), dan membangun kapal cepat lisensi Fast Patrol Boat 57 dari Jerman.
Untuk kekuatan bawah air, Indonesia mengakuisisi kapal selam kelas U-29 dari Jerman. Kala itu, TNI AL satu-satunya kesatuan laut di Asean yang mengoperasikan kapal selam, karena Singapura dan Malaysia baru membangun armada kapal selam pada era 2000-an.
Memasuki era Reformasi, pemerintah berupaya membangun kembali kekuatan militernya, termasuk TNI AL, dengan program yang disebut minimum essential force (MEF). Pada 2024 ini, program tersebut menapak bapak akhir dari MEF tahap III yang berlangsung dari 2019-2024. Lewat program inilah, pemerintah dan TNI melakukan modernisasi alusistayang dimiliki Indonesia.
baca juga: TNI AL Prioritaskan Pembelian Alutsista Strategis untuk Percepat Modernisasi
Tentu program ini diharapkan bisa mengakselerasi modernisasi. Namun faktanya, harapan tersebut tidak sepenuhnya menjadi kenyataan. Pada MEF 3, misalnya, KSAL menyebut baru penuhi 60%. Capain ini jauh lebih kecil dari target yang diharapkan Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono sebesar 85%. Kendalanya apa lagi kalau bukan karena keterbatasan anggaran, termasuk pengalihan untuk penanganan wabah Covid-19 seperti disampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Kendati demikian, optimisme TNI AL merajut asa mendapatkan alutsista modern dan kembali menapak kejayaan terbuka lebar saat di fase akhir MEF ini pemerintah melalui Kemenhan mengakuisi alutsista canggih untuk TNI, seperti Fregat Merah Putih, kapal OPV PPA, dan Scorpène Evolved. Di luar itu masih ada tambahan kapal cepat rudal (KCR), kapal patrol, OPV 90, dan sejumlah alutsista lain yang dibangun secara massif di galangan kapal domestik.
Berbagai belanja alutsista belumlah cukup, karena faktanya kebutuhan yang dicanangkan seperti tercantum dalam MEF 2024 tidak terpenuhi. Di sisi lain dinamika tantangan kian kompleks. Tak kalah mendesak, militer tangguh dibutuhkan untuk mendukung visi Indonesia emas 2045, yaitu mewujudkan negara maritim yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan.
Berbagai rencana belanja alutsista yang tercantum dalam daftar tambahan prioritas alutsista TNI AL diproyeksikan tidak berhenti pada rencana strategis 2025-202p. Lebih jauh, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali merencanakan pembangunan postur kekuatan TNI AL 2025-2044. Tentu apa yang diharapkan TNI AL sangat bergantung pada kemampuan anggaran pemerintah.
Namun, melihat dinamika tantangan ke depan dan beratnya tugas TNI menjamin keamanan di sektor laut, langkah TNI AL merajut asa melalui proposal mewujudkan essential force melalui penambahan berbagai alutsista canggih buatan luar negeri maupun karya anak bangsa patutlah menjadi prioritas.
Penguatan armada perang laut dibutuhkan bukan sebatas untuk mengamankan wilayah laut NKRI dan mengantipasi pecahnya konflik di kawasan. Lebih jauh, kekuatan armada yang mampu menghadirkan deterrent effect berperan besar mengembalikan jati diri Indonesia sebagai negara maritim kuat dan menjamin terwujudnya kejayaan Indonesia, dalam hal ini target Indonesia Emas 2045.
(hdr)
Lihat Juga :