Diplomasi China di Balkan: Antara Realisme Geopolitik dan Konstruktivisme Normatif
Jum'at, 10 Mei 2024 - 14:08 WIB
loading...
A
A
A
Selama pertemuan, kedua pemimpin menandatangani pernyataan bersama untuk memperkuat hubungan kemitraan strategis komprehensif dan membangun masa depan bersama. China berkomitmen untuk mendukung pembangunan komunitas masa depan bersama dengan Serbia melalui sejumlah inisiatif, termasuk perjanjian perdagangan bebas yang akan mulai berlaku pada Juli 2024 dan peningkatan impor produk pertanian dari Serbia.
Selain itu, Xi juga menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan penolakan terhadap campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Serbia, terutama dalam konteks peristiwa pemboman kedutaan besar China yang terjadi 25 tahun lalu. Melalui artikel yang dipublikasikan di surat kabar Serbia, Xi menegaskan bahwa China tidak akan membiarkan tragedi serupa terulang kembali dan akan terus mendukung Serbia dalam mempertahankan kedaulatan dan integritasnya.
Dengan mengunjungi situs kedutaan besar yang pernah dibom dan melakukan penghormatan kemiliteran di tempat tersebut, Xi juga mengirimkan pesan kuat kepada Barat bahwa China menentang separatisme dan campur tangan asing dalam urusan domestik suatu negara. Tindakan ini sejalan dengan prinsip-prinsip diplomasi Henry Kissinger yang menekankan pentingnya stabilitas dan keutuhan negara dalam hubungan internasional.
Dalam konteks ini, peristiwa pemboman tersebut juga diangkat sebagai peringatan bagi Barat, khususnya dalam hubungannya dengan situasi di Selat Taiwan. Xi menegaskan bahwa China tidak akan membiarkan sejarah tragis tersebut terulang kembali dan akan terus memperjuangkan kedaulatan dan integritas teritorialnya. Dengan demikian, kunjungan ini bukan hanya tentang memperkuat hubungan antara China dan Serbia, tetapi juga sebagai peringatan bagi pihak-pihak yang berpotensi mengganggu stabilitas regional.
Jadi, kunjungan Xi Jinping ke Serbia dan penekanannya terhadap kedaulatan serta penolakan terhadap campur tangan asing dapat dipahami sebagai upaya yang kompleks yang melibatkan faktor-faktor realpolitik serta upaya untuk membentuk norma-norma dan persepsi internasional.
Selain itu, Xi juga menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan penolakan terhadap campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Serbia, terutama dalam konteks peristiwa pemboman kedutaan besar China yang terjadi 25 tahun lalu. Melalui artikel yang dipublikasikan di surat kabar Serbia, Xi menegaskan bahwa China tidak akan membiarkan tragedi serupa terulang kembali dan akan terus mendukung Serbia dalam mempertahankan kedaulatan dan integritasnya.
Dengan mengunjungi situs kedutaan besar yang pernah dibom dan melakukan penghormatan kemiliteran di tempat tersebut, Xi juga mengirimkan pesan kuat kepada Barat bahwa China menentang separatisme dan campur tangan asing dalam urusan domestik suatu negara. Tindakan ini sejalan dengan prinsip-prinsip diplomasi Henry Kissinger yang menekankan pentingnya stabilitas dan keutuhan negara dalam hubungan internasional.
Dalam konteks ini, peristiwa pemboman tersebut juga diangkat sebagai peringatan bagi Barat, khususnya dalam hubungannya dengan situasi di Selat Taiwan. Xi menegaskan bahwa China tidak akan membiarkan sejarah tragis tersebut terulang kembali dan akan terus memperjuangkan kedaulatan dan integritas teritorialnya. Dengan demikian, kunjungan ini bukan hanya tentang memperkuat hubungan antara China dan Serbia, tetapi juga sebagai peringatan bagi pihak-pihak yang berpotensi mengganggu stabilitas regional.
Jadi, kunjungan Xi Jinping ke Serbia dan penekanannya terhadap kedaulatan serta penolakan terhadap campur tangan asing dapat dipahami sebagai upaya yang kompleks yang melibatkan faktor-faktor realpolitik serta upaya untuk membentuk norma-norma dan persepsi internasional.
(abd)
Lihat Juga :