Tito Karnavian: Harus Ada Counter Narasi untuk Meluruskan Narasi Jihad yang Salah

Selasa, 18 Agustus 2020 - 08:59 WIB
loading...
Tito Karnavian: Harus...
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menolak anggapan aksi terorisme bukanlah sebuah jihad yang berkaitan dengan Islam ataupun sebaliknya. Foto/SINDOphoto
A A A
JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menolak anggapan aksi terorisme bukanlah sebuah jihad yang berkaitan dengan Islam ataupun sebaliknya. Oleh karenanya, dia menilai harus ada narasi yang melawan argumentasi tersebut dan perlawanan itu tertuang dalam buku Fikih Kebangsaan Jilid III.

Mantan Kapolri ini menuturkan harus ada perang narasi untuk mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Menurutnya, agar moderasi narasi atau counter narasi lebih kuat, hal itu juga harus disertai dengan ayat-ayat Alquran dan juga hadis. (Baca juga: Alasan Din Syamsuddin dkk Deklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia di Tugu Proklamasi )

Hal tersebut diungkapkannya saat menghadiri peluncuran Buku Fikih Kebangsaan Jilid III secara virtual yang disiarkan langsung dari Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, Senin (17/8/2020).

"Buku Fikih Kebangsaan ini, ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI," ujarnya.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) ini menjelaskan hampir semua pelaku teror mengatakan sedang berjihad. Padahal, itu pemahaman yang keliru. Menurutnya, ada perbedaan dalam akidah Islam yang dianut oleh para pelaku terror.

"Saya melihat ada satu set narasi yang sama dalam melakukan aksi kekerasan. Mereka banyak sekali menyitir dari satu sumber. Sumber-sumber dari Timur Tengah. Konsep jihad bagi mereka adalah jihad peperangan, qital, bahkan hukumnya wajib ain, bukan fardlu khifayah. Jihad ini bahkan seperti rukun Islam keenam. Bagi mereka, harus dilaksanakan," tuturnya.

Lebih lanjut Tito menuturkan, perembangan geopolitik dunia mulai berubah sejak medio tahun 2000-an. Tepatnya, ketika peristiwa pembajakan pesawat dan bunuh diri oleh kelompok esktremis Islam, Al-Qaeda 11 September 2001 yang menyerang sejumlah titik di Amerika, salah satunya World Trade Center (WTC).

"Inilah yang mengubah geopolitik dunia. Amerika belum pernah diserang di jantungnya. Amerika membuat global war on terror. Indonesia pun beruntun dikejutkan peristiwa Bom Bali. Disusul berbagai peristiwa teror berikutnya," ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCINU Australia dan Selandia Baru Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menilai buku Fiqih Kebangsaan III ini sangatlah penting. Menurutnya, buku ini dapat mengisi ruang kosong dalam fikih siyasah dan tema-tema khilafah.

Buku ini, sambungnya, bukan pesanan pemerintah, bahkan bukan dari orang liberal. Ini jelas murni dari Lirboyo dan rujukannya pun sangat komplit.

"Buku ini khas manhaj pesantren. Metodologi ini sangat kokoh dan solid. Ini luar biasa, mestinya dikaji dan dibaca juga oleh kelompok di luar pesantren dan kalangan NU. Harus dicetak, dimasukkan kurikilum baik pesantren maupun sekolah umum. Insyaallah bermanfaat," tandasnya. (Baca juga: Pemuda Muhammadiyah Sebut Deklarasi KAMI Sebagai Kanal Alternatif )

Sebagai catatan, Gus Mus menambahkan pemahaman jihad yang kurang dalam buku tersebut. Perlu ditambah, yakni pemahaman jihad melawan kebodohan. Sebab, sekarang ini, selain korupsi dan pandemi, yang paling harus dilakukan adalah jihad melawan kebodohan untuk menghilangkan kebodohan.

"Banyak yang enggak ngerti tentang agama, bicara soal agama. Ini amat gawat. Padahal ini soal ruh. Bikin celaka banyak orang. Ini harus diluruskan, salah satunya dengan buku ini," katanya.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Cegah Korupsi, Mendagri...
Cegah Korupsi, Mendagri Usul Kepala Daerah Dapat Persenan dari PAD
Dikuntit OTK, Islah...
Dikuntit OTK, Islah Bahrawi Sebut Polanya Mirip Kasus Andrie Yunus
Sebut Banyak Tenaga...
Sebut Banyak Tenaga Honorer Tak Kompeten, Mendagri Singgung Titipan Pejabat Lama
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Mendagri Berikan Penghargaan...
Mendagri Berikan Penghargaan Satyalancana kepada 7 Tokoh Atas Inovasi Sektor Maritim
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Dosen UIN Sunan Ampel:...
Dosen UIN Sunan Ampel: Dana Asing Tak Dilarang tapi Negara Wajib Mengawasi
Mendagri: Kebijakan...
Mendagri: Kebijakan WFH Wajib Diikuti Seluruh Pemerintah Daerah
Rekomendasi
Polisi Amankan Sopir...
Polisi Amankan Sopir Truk Kecelakaan Maut di Bekasi
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Tok, Pemerintah Resmi...
Tok, Pemerintah Resmi Turunkan Harga Gas Industri Jadi USD13/MMBTU
Berita Terkini
Roy Suryo Ngamuk Sidang...
Roy Suryo Ngamuk Sidang Praperadilannya Disusupi Termul
Soroti Kematian 5 Calon...
Soroti Kematian 5 Calon Manajer Kopdes, Pimpinan Komisi XIII DPR Dorong Komnas HAM Investigasi
Pakar Hukum: Konsep...
Pakar Hukum: Konsep Presisi Jadi Kunci Meningkatnya Kepercayaan Publik kepada Polri
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Dimulai, Hakim Ungkap Jadwal Setiap Persidangan
Pemerintah Ajukan RUU...
Pemerintah Ajukan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke DPR, Atur Mekanisme Penyidikan dan Sanksi
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved