Perlu Lebih Hati-Hati Menulis Sejarah Kepanduan
Kamis, 18 April 2024 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Dari awal sudah terlihat tidak tepat. Bagaimana mungkin Baden-Powell (bukan Powel dengan satu huruf "l" seperti ditulis dalam artikel tersebut, mendirikan gerakan kepanduan atas dasar anak-anak muda harus disiapkan menghadapi situasi tak menentu seperti kala Perang Dunia I. Padahal, Baden-Powell telah melaksanakan perkemahan (yang kemudian dianggap sebagai perkemahan kepanduan pertama) di Pulau Brownsea pada 1 Agustus 1907. Itu berarti tujuh tahun sebelum Perang Dunia I meletus.
Demikian pula dengan buku Scouting for Boys (Boys dengan huruf s). Awalnya diterbitkan dalam bentuk buklet (buku kecil) secara serial dalam enam kali penerbitan sejak Januari sampai Maret 1908 dan kemudian dibukukan juga pada tahun yang sama. Jelas, buku itu telah ada enam tahun sebelum berkecamuknya Perang Dunia I.
Kemudian di paragraf kedua, sang penulis menambahkan, "Di Indonesia secara resmi gerakan kepanduan ini masuk pada 1912 di Bandung melalui sebuah organisasi kepanduan yang diinisiasi oleh Pemerintah Hindia Belanda Bernama Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO) yang kemudian pada 1916 berubah menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV)."
Baca Juga: Tegaskan Ekstrakurikuler Pramuka Tidak Dihapus, Nadiem: Mohon Tidak Lagi Dibahas
Ini juga kesalahan yang cukup fatal. Sesungguhnya, gerakan kepanduan pertama kali masuk pada 1912 di Batavia (sekarang Jakarta), bukan di Bandung. Hal itu telah cukup jelas diuraikan dalam dua buku penting yang diterbitkan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka beberapa tahun silam. Kedua buku itu adalah Berbakti Tanpa Henti – Catatan Perjalanan 60 Tahun Gerakan Pramuka 1961-2021 (ISBN 978-979-8318-51-1) dan Mengabdi Tanpa Batas – 110 Tahun Gerakan Kepanduan di Indonesia (ISBN 978-979-8318-67-3). Kedua buku itu mendokumentasikan catatan sejarah perjalanan Gerakan Pramuka secara mendalam.
Demikian pula dengan buku Scouting for Boys (Boys dengan huruf s). Awalnya diterbitkan dalam bentuk buklet (buku kecil) secara serial dalam enam kali penerbitan sejak Januari sampai Maret 1908 dan kemudian dibukukan juga pada tahun yang sama. Jelas, buku itu telah ada enam tahun sebelum berkecamuknya Perang Dunia I.
Kemudian di paragraf kedua, sang penulis menambahkan, "Di Indonesia secara resmi gerakan kepanduan ini masuk pada 1912 di Bandung melalui sebuah organisasi kepanduan yang diinisiasi oleh Pemerintah Hindia Belanda Bernama Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO) yang kemudian pada 1916 berubah menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV)."
Baca Juga: Tegaskan Ekstrakurikuler Pramuka Tidak Dihapus, Nadiem: Mohon Tidak Lagi Dibahas
Ini juga kesalahan yang cukup fatal. Sesungguhnya, gerakan kepanduan pertama kali masuk pada 1912 di Batavia (sekarang Jakarta), bukan di Bandung. Hal itu telah cukup jelas diuraikan dalam dua buku penting yang diterbitkan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka beberapa tahun silam. Kedua buku itu adalah Berbakti Tanpa Henti – Catatan Perjalanan 60 Tahun Gerakan Pramuka 1961-2021 (ISBN 978-979-8318-51-1) dan Mengabdi Tanpa Batas – 110 Tahun Gerakan Kepanduan di Indonesia (ISBN 978-979-8318-67-3). Kedua buku itu mendokumentasikan catatan sejarah perjalanan Gerakan Pramuka secara mendalam.
Lihat Juga :