Lebaran Vibe, Konsumsi, Digitalisasi
Senin, 08 April 2024 - 09:03 WIB
loading...
A
A
A
Nilai transaksi belanja beraneka produk yang dijual di daerah-daerah melonjak, sajian-sajian kuliner laris diserbu banyak pembeli dari luar daerah. Selain itu, angka kunjungan wisata lokal pun turut meningkat seiring maraknya jumlah pemudik yang hadir di wilayah setempat. Tak luput konsumsi di sektor transportasi turut terakselerasi. Masifnya penggunaan kendaraan pribadi dan transportasi umum membuat belanja sektor tersebut memiliki andil besar dalam berkontribusi mendorong kemajuan ekonomi masa lebaran.
Adapun perputaran uang selama bulan Ramadan dan Idulfitri 1445 H diprediksi sangat signifikan untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2024. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan bahwa potensi perputaran uang selama Ramadan dan libur Lebaran 2024 mencapai Rp157,3 triliun.
Teknologi belanja online membawa masyarakat dapat menjelajahi berbagai produk dan melakukan pembelian dengan mudah melalui aplikasi e-commerce. Tak hanya itu, kemajuan dalam pembayaran online dan digital pun telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Metode pembayaran elektronik seperti e-wallet, kartu kredit, dan transfer bank secara online telah memberikan alternatif yang lebih praktis dan aman dibandingkan dengan pembayaran tunai. Permasalahannya, tren peningkatan aktivitas ekonomi digital belum sepenuhnya diikuti pemerataan akses infrastruktur internet agar penduduk di luar kota-kota besar bisa mendapatkan akses yang sama.
Selain itu masalah keamanan, OJK menyampaikan jika inklusi keuangan sudah semakin membaik (85%) sementara literasi keuangan masih sekitar 49%. Hal itu bisa dilihat jumlah pengaduan kepada OJK sekitar 1.900 pengaduan setiap bulannya. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan sebanyak 40% atau sekitar 77 miliar dolar AS (Rp1.146 triliun) dari total transaksi ekonomi digital ASEAN berasal dari Indonesia.
Pada 2025, nilai tersebut diprediksi akan meningkat dua kali lipat menjadi 130 miliar dolar AS (Rp1.934 triliun) dan terus akan meningkat hingga mencapai sekitar 360 miliar dolar AS (Rp5.357 triliun) di 2030.
Oleh sebab itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu terus mengembangkan dan meningkatkan infrastruktur serta kebijakan yang mendukung kemudahan dalam berbelanja online dan digital, sekaligus menjamin rasa aman (terlindungi) bagi para pelaku dan industri keuangan itu sendiri, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, inklusi, menuju Indonesia 2045 lebih optimis. Semoga.
Adapun perputaran uang selama bulan Ramadan dan Idulfitri 1445 H diprediksi sangat signifikan untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2024. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan bahwa potensi perputaran uang selama Ramadan dan libur Lebaran 2024 mencapai Rp157,3 triliun.
Mendorong Kemudahan Konsumsi Melalui Inovasi Digital
Pada era digital seperti saat ini, kemudahan dalam konsumsi melalui inovasi digital menjadi kunci penting dalam mendorong belanja di masa Idulfitri. Hal tersebut lantaran persiapan konsumsi yang intens telah menjadi bagian dari budaya lebaran di Indonesia. Bagi konsumen, salah satu inovasi yang memainkan peran penting dalam mendorong konsumsi adalah kemajuan teknologi online. Sistem belanja online telah memberikan aksesibilitas yang lebih besar bagi masyarakat untuk berbelanja tanpa harus meninggalkan rumah.Teknologi belanja online membawa masyarakat dapat menjelajahi berbagai produk dan melakukan pembelian dengan mudah melalui aplikasi e-commerce. Tak hanya itu, kemajuan dalam pembayaran online dan digital pun telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Metode pembayaran elektronik seperti e-wallet, kartu kredit, dan transfer bank secara online telah memberikan alternatif yang lebih praktis dan aman dibandingkan dengan pembayaran tunai. Permasalahannya, tren peningkatan aktivitas ekonomi digital belum sepenuhnya diikuti pemerataan akses infrastruktur internet agar penduduk di luar kota-kota besar bisa mendapatkan akses yang sama.
Selain itu masalah keamanan, OJK menyampaikan jika inklusi keuangan sudah semakin membaik (85%) sementara literasi keuangan masih sekitar 49%. Hal itu bisa dilihat jumlah pengaduan kepada OJK sekitar 1.900 pengaduan setiap bulannya. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan sebanyak 40% atau sekitar 77 miliar dolar AS (Rp1.146 triliun) dari total transaksi ekonomi digital ASEAN berasal dari Indonesia.
Pada 2025, nilai tersebut diprediksi akan meningkat dua kali lipat menjadi 130 miliar dolar AS (Rp1.934 triliun) dan terus akan meningkat hingga mencapai sekitar 360 miliar dolar AS (Rp5.357 triliun) di 2030.
Oleh sebab itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu terus mengembangkan dan meningkatkan infrastruktur serta kebijakan yang mendukung kemudahan dalam berbelanja online dan digital, sekaligus menjamin rasa aman (terlindungi) bagi para pelaku dan industri keuangan itu sendiri, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, inklusi, menuju Indonesia 2045 lebih optimis. Semoga.
(jon)
Lihat Juga :