Dekan FU UIN Syarif Hidayatullah: Islamophobia Sama dengan Fenomena Rasisme
Rabu, 27 Maret 2024 - 13:13 WIB
loading...
A
A
A
Ismatu Ropi menjelaskan, istilah Islamophobia muncul pertama kali di Perancis (Islamophobie) pada awal abad ke-19 dan muncul pada akhir 1990-an dalam Bahasa Inggris. Menurut Ismatu Ropi, Islamophobia berarti ketakutan terhadap Islam, tetapi dalam arti yang lebih luas bisa juga berarti sikap yang melibatkan emosi, kognisi, penilaian, dan tindakan yang mengekspresikan ketakutan baik kepada Islam maupun kepada Muslim.
“Jadi kalau kita bicara tentang Islamophobia maka kita berbicara tentang sebuah cara pandang yang dibangun secara sistematis untuk membenci sebuah kelompok tertentu yang dalam hal ini Islam itu sendiri tentunya,” imbuhnya.
Edwin P. Wieringa dalam pemaparannya mengangkat sebuah karya yang ditelitinya berjudul “Suluk Gatholoco”. Buku ini karangan seorang priyayi, berisikan kritik terhadap agama kulturalis dan sangat kejawen.
”Sebagai fakta bahwa fenomena Islamophobia sudah terjadi sejak dahulu kala, dan telah tertulis oleh naskah klasik yang bahkan ditulis oleh penganut Islam sendiri,” katanya.
Sedangkan, Amin Nurdin menyebut istilah Islamophobia secara bahasa diartikan ketakutan. Secara definitif pertama kali diperkenalkan sebagai suatu konsep dalam sebuah laporan Runnymede Trust Report di 1991 sebagai permusuhan yang tidak berdasar terhadap Islam.
“Insiden WTC merupakan puncak Islamophobia dan menjadi fenomena yang global dan merupakan hal yang normal, yang awalnya Islamophobia ini hanya seputar teologis, namun kemudian merebak menjelma menjadi kebencian itu sendiri,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Andar Nubowo, dalam pemaparannya mengangkat judul “Islamophobia di Eropa Barat: Sejarah, Akar dan Aktor”. Menurutnya, Islamophobia adalah ketakutan pada Islam dan simbolnya.
“Jadi kalau kita bicara tentang Islamophobia maka kita berbicara tentang sebuah cara pandang yang dibangun secara sistematis untuk membenci sebuah kelompok tertentu yang dalam hal ini Islam itu sendiri tentunya,” imbuhnya.
Edwin P. Wieringa dalam pemaparannya mengangkat sebuah karya yang ditelitinya berjudul “Suluk Gatholoco”. Buku ini karangan seorang priyayi, berisikan kritik terhadap agama kulturalis dan sangat kejawen.
”Sebagai fakta bahwa fenomena Islamophobia sudah terjadi sejak dahulu kala, dan telah tertulis oleh naskah klasik yang bahkan ditulis oleh penganut Islam sendiri,” katanya.
Sedangkan, Amin Nurdin menyebut istilah Islamophobia secara bahasa diartikan ketakutan. Secara definitif pertama kali diperkenalkan sebagai suatu konsep dalam sebuah laporan Runnymede Trust Report di 1991 sebagai permusuhan yang tidak berdasar terhadap Islam.
“Insiden WTC merupakan puncak Islamophobia dan menjadi fenomena yang global dan merupakan hal yang normal, yang awalnya Islamophobia ini hanya seputar teologis, namun kemudian merebak menjelma menjadi kebencian itu sendiri,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Andar Nubowo, dalam pemaparannya mengangkat judul “Islamophobia di Eropa Barat: Sejarah, Akar dan Aktor”. Menurutnya, Islamophobia adalah ketakutan pada Islam dan simbolnya.
Lihat Juga :