Menilai Narasi Hilirisasi Jokowi: Pahlawan Kesiangan

Minggu, 17 Maret 2024 - 16:27 WIB
loading...
A A A
Pada 6 Januari 1976, Suharto mendirikan pabrik pengolahan alumunium dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai sumber energinya di Asahan, Sumatera Utara. Perusahaannya bernama Nippon Asahan Alumunium, karena 90 persen sahamnya dimiliki Jepang dengan 12 perusahaan besar diantaranya Mitsubishi, Sumitomo dan Mitsui. 10 persen sisanya dimiliki pemerintah Indonesia.

Sesuai perjanjian, kepemilikan saham Jepang harus dikurangi secara bertahap seiring berjalannya waktu produksi. Hingga akhirnya pada 9 Desember 2013 seluruh sahamnya dipegang oleh pemerintah Indonesia. Yang kemudian mengganti namanya menjadi PT Inalum (Indonesia Asahan Alumunium).

PT Inalum inilah yang menjadi andalan Jokowi dalam membentuk holding BUMN pertambangan MIND ID (Mining Industry Indonesia penggabungan PT Inalum, PT Bukit Asam, PT Aneka Tambang dan PT Timah). PT Inalum jugalah yang ditugaskan Jokowi untuk menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia, 20 persen saham PT Vale Indonesia dan mendirikan PT Industri Baterei Indonesia bersama PLN, Pertamina dan Aneka Tambang.

Sehingga ketika Presiden Jokowi mengatakan Indonesia sejak dari jaman Belanda hingga sekarang selalu mengekspor bahan mentah dari sumber daya alam tambang. Terlihat Jokowi berusaha menutupi sejarah Sukarno dan Suharto yang setengah abad lalu sudah melakukan hilirisasi tambang. Dalam hal ini Jokowi seperti ingin tampil hebat, padahal yang sebenarnya hebat adalah Sukarno dan Suharto. Karena mereka berani meletakkan visi dan harga diri bangsanya pada posisi tertinggi dalam melakukan hilirisasi. Walaupun semua tahu Indonesia waktu itu masih miskin dan bodoh.

Dan ketika Presiden Jokowi mengatakan hilirisasi tambang nikel harus dimulai dan diteruskan, tidak peduli dengan gugatan pihak barat. Tampak Jokowi berusaha tampil bak pahlawan, padahal itu dilakukan di sisa akhir masa jabatannya. Tidak sebanding dengan sejarah heroik Suharto yang melakukan hilirisasi tambang bijih besi dan alumunium di awal masa jabatannya. Sehingga sangat pantas jika dalam kebijakkan hilirisasi tambang, Jokowi diberi julukan "Pahlawan Kesiangan".
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
Debat Ketiga Calon Ketua...
Debat Ketiga Calon Ketua Hipmi Menyoroti Investasi, Hilirisasi hingga Pasar Modal
Rekomendasi
Nikahi Jennifer Coppen,...
Nikahi Jennifer Coppen, Justin Hubner Berikan Mahar 12 Gram Emas dan Uang 2.026 Euro
Ayyoub Bouaddi Moncer...
Ayyoub Bouaddi Moncer di Debut Piala Dunia, Gelandang 18 Tahun Maroko Berhasil Redam Brasil
Alwi Farhan Juara Australia...
Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dan 2 Runner Up
Berita Terkini
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved