Pemilu 2024 dan Tiktok: Komputasional Propaganda dan Hegemoni
Sabtu, 09 Maret 2024 - 19:14 WIB
loading...
A
A
A
Selain secara teknis, secara sosial komputasional propaganda juga menghasilkan hegemoni. Dengan bots politik yang kemudian dibantu oleh influencer dan buzzer, komputasional propaganda mendominasi perbincangan dan mengendalikan sudut pandang masyarakat tentang politik, yang pada akhirnya ia menguasai kesadaran masyarakat serta keputusan politik warga sesuai keinginan sang propagandis.
Bahkan dengan otomatisasi dan pesan propaganda dipersonalisasi untuk mengelabuhi pengguna, maka distribusi konten propaganda komputasi dalam jumlah besar dan cepat merangsek ke dalam jaringan luas orang-orang terdekat layaknya keluarga dan teman, lingkaran orang-orang yang dipercaya dan disayangi. Sehingga secara tak sadar alur berpikir seseorang telah dikendalikan dan akhirnya berpengaruh besar pada proses pengambilan keputusan politik.
Kehadiran komputasional propaganda ini kemudian memicu perdebatan perihal "partisipasi" publik terkait hal politik dalam media sosial. Hegemoni yang dihasilkan oleh komputasional propaganda dengan kekuatan otomatisasi, skalabilitas, dan anonimitas, memicu problematika terkait partisipasi warga.
Media sosial yang menawarkan akses luar biasa terhadap data, pengetahuan, jaringan sosial, dan peluang keterlibatan kolektif justru menciptakan apa yang disebut Eggo Muller sebagai "ruang partisipasi yang terformat" (formatted spaces of participation) yakni partisipasi yang berisifat semu (tokenisme) akibat pengondisian yang dilakukan oleh mesin komputasional propaganda yang mengendalikan kesadaran pengguna.
Apalagi konten-konten politik yang bertebaran Tiktok kerapkali dirancang dengan prinsip ludo-politics yang menampilkan politik yang menyenangkan dan menggemaskan layaknya citra gemoy yang ditampilkan melalui AI, peniruan karakteristik kartun seperti Naruto, berjoget hingga mengeksploitasi emosi dengan skema menangis berjamaah semakin jauh dari rasionalitas komunikatif sebagai syarat pembangunan ruang publik yang rasional dan demokrasi yang substansial.
Alih-alih meningkatkan partisipasi politik Gen-z dan milenial, ludo-politics konten Tiktok justru menghasilkan gejala psikologis dan digital culture yang disebut FOMO (Fearing Of Missing Out) yaitu perilaku yang takut atau tak mau ketinggalan dengan sesuatu yang sedang viral di media sosial. Artinya, pesan politik yang dangkal, keliru bahkan menyesatkan apabila dikemas dengan prinsip ludo-politics maka akan tersebar luas dan dikonsumsi banyak orang.
Fenomena komputasional propaganda yang menghasilkan hegemoni melalui konten Tiktok yang dikemas dengan ludic (lucu) dan casual politicking (politik santai) ala Gen-z dan milenial menyisakan pertanyaan mendasar dalam masyarakat demokratis yakni apakah proses demokrasi tersebut mampu menghasilkan pemimpin politik yang bisa merealisasikan kesejahteraan, keadilan yang menjadi hak warga negara hingga menjaga supremasi sipil dan nilai-nilai demokrasi layaknya freedom of speech, hak asasi dan sebagainya.
Bahkan dengan otomatisasi dan pesan propaganda dipersonalisasi untuk mengelabuhi pengguna, maka distribusi konten propaganda komputasi dalam jumlah besar dan cepat merangsek ke dalam jaringan luas orang-orang terdekat layaknya keluarga dan teman, lingkaran orang-orang yang dipercaya dan disayangi. Sehingga secara tak sadar alur berpikir seseorang telah dikendalikan dan akhirnya berpengaruh besar pada proses pengambilan keputusan politik.
Kehadiran komputasional propaganda ini kemudian memicu perdebatan perihal "partisipasi" publik terkait hal politik dalam media sosial. Hegemoni yang dihasilkan oleh komputasional propaganda dengan kekuatan otomatisasi, skalabilitas, dan anonimitas, memicu problematika terkait partisipasi warga.
Media sosial yang menawarkan akses luar biasa terhadap data, pengetahuan, jaringan sosial, dan peluang keterlibatan kolektif justru menciptakan apa yang disebut Eggo Muller sebagai "ruang partisipasi yang terformat" (formatted spaces of participation) yakni partisipasi yang berisifat semu (tokenisme) akibat pengondisian yang dilakukan oleh mesin komputasional propaganda yang mengendalikan kesadaran pengguna.
Apalagi konten-konten politik yang bertebaran Tiktok kerapkali dirancang dengan prinsip ludo-politics yang menampilkan politik yang menyenangkan dan menggemaskan layaknya citra gemoy yang ditampilkan melalui AI, peniruan karakteristik kartun seperti Naruto, berjoget hingga mengeksploitasi emosi dengan skema menangis berjamaah semakin jauh dari rasionalitas komunikatif sebagai syarat pembangunan ruang publik yang rasional dan demokrasi yang substansial.
Alih-alih meningkatkan partisipasi politik Gen-z dan milenial, ludo-politics konten Tiktok justru menghasilkan gejala psikologis dan digital culture yang disebut FOMO (Fearing Of Missing Out) yaitu perilaku yang takut atau tak mau ketinggalan dengan sesuatu yang sedang viral di media sosial. Artinya, pesan politik yang dangkal, keliru bahkan menyesatkan apabila dikemas dengan prinsip ludo-politics maka akan tersebar luas dan dikonsumsi banyak orang.
Fenomena komputasional propaganda yang menghasilkan hegemoni melalui konten Tiktok yang dikemas dengan ludic (lucu) dan casual politicking (politik santai) ala Gen-z dan milenial menyisakan pertanyaan mendasar dalam masyarakat demokratis yakni apakah proses demokrasi tersebut mampu menghasilkan pemimpin politik yang bisa merealisasikan kesejahteraan, keadilan yang menjadi hak warga negara hingga menjaga supremasi sipil dan nilai-nilai demokrasi layaknya freedom of speech, hak asasi dan sebagainya.
(maf)
Lihat Juga :