Asa Rudal Nasional, Mungkinkah Terwujud?
Kamis, 22 Februari 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan yang disampaikan pemimpin Turki tersebut secara jelas menegaskan negeri tersebut membuka lebar kepada negara lain untuk membangun kemitraan mengembangkan industri pertahanan. Apalagi dengan Indonesia, negara sahabat yang sama-sama negeri berpenduduk mayoritas muslim, peluang bekerja sama terbuka lebih lebar.
Secara formal, Indonesia-Turki telah menandatangani MoU kerja sama industri pertahanan melalui Menhan Prabowo Subianto bersama Menhan Turki Hulusi Akar, sela-sela KTT G20 di Nusa Dua, Bali beberapa waktu lalu. Kedua negara sepakat membentuk dewan kerja sama strategis tingkat tinggi. Sebelumnya, Indonesia-Turki sejak 2012 juga telah menjalin kemitraan strategis.
Pintu kemitraan Indonesia-Turki sudah tidak lagi di atas kertas. Melalui perusahaan pertahanan BUMN maupun swasta, keduanya sudah melangkah untuk bekerja bersama membuat sejumlah alutsista, seperti Tank Harimau dan Tank amfibhi Zaha; membangun combat management system (CMS) berbagai jenis kapal perang jenis KCR 90, OPV hingga Fregat Merah Putih; dan lainnya.
baca juga: Wamenhan Ungkap Sulitnya Pengadaan Alutsista Baru
Di sisi lain, Turki merupakan negara yang pantas untuk Indonesia menimba ilmu dan mendapatkan bantuan kompetensi teknologi alutsista. Hal ini terkait kapasitas industri pertahanan Turki yang sudah bersaing dengan negara-negara besar. Berdasar data Denfense News yang dirilis 2022, dari 100 perusahaan pertahanan terkemuka dunia, tujuh di antaranya berasal dari Turki.
Bahkan, ASELSAN masuk dalam 50 besar. Perusahaan yang berdiri pada 1975 itu mengembangkan produk mulai dari sistem komunikasi, radar, dan berbagai sistem pertahanan. Produksinya telah digunakan 65 negara di dunia. Selain Aselsan, Turki juga memiliki perusahaan alutsista top global player seperti TAI, BMC, Roketsan, STM Defense Technologies & Engineering Ltd, FNSS, dan Havelsan.
Hampir semua teknologi militer sudah mampu dikembangkan dan diproduksi Turki, dengan kualitas yang tidak kalah dengan negara-negara pemain utama alutsista dunia seperti Amerika Serikat, Prancis, Rusia maupun China. Indikasinya bisa terlihat pada kian banyaknya negara yang mengandalkan alutsista made in Turki untuk memperkuat otot militernya.
Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), negeri tersebut menyumbang 1% dari total ekspor global. Raihan ini mengindikasikan Turki mampu menyiapkan SDM tangguh, melewati dinamika perekonomian, mengurangi ketergantungan pada pemasok asing, dan mengatasi perselisihan politik regional. Prestasi inilah yang harus Indonesia pelajari dari Turki.
Tinggal Selangkah
Jika ditelusuri, Indonesia sebenarnya tinggal selangkah memiliki kemampuan membuat rudal nasional. Pasalnya, sejumlah perusahaan BUMN dan swasta yang bergerak di bidang industri pertahanan telah mampu membuat bahan peledak atau propelan, amunisi, peledak, bom, hingga roket.
baca juga: Kontroversi Lonjakan Utang untuk Belanja Alutsista
Penguasaan teknologi roket bisa disebut sebagai backbone pembuatan rudal. Untuk roket, Indonesia telah berhasil membuat RHan-122B, yang digarap Pusat Teknologi Roket LAPAN bersama Konsorsium Roket Nasional sejak 2006. Setelah melewati tahapan penuh kesabaran --mulai dari desain konseptual, desain awal, pembuatan purwarupa (prototype), serta serangkaian pengujian statis dan dinamis sejak 2009--, Rhan-122B telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan roket GRAD RM 70 milik Marinir TNI-AL.
Hebatnya, dalam proses pengembangan R-HAN-122B, hingga pertengahan 2023 lalu LAPAN yang kemudian bergabung ke BRIN berhasil membuat tujuh paten yang diraih selama learning process. Roket pun sudah memulai pembahasan kontrak lisensi dengan industri pertahanan.
Secara formal, Indonesia-Turki telah menandatangani MoU kerja sama industri pertahanan melalui Menhan Prabowo Subianto bersama Menhan Turki Hulusi Akar, sela-sela KTT G20 di Nusa Dua, Bali beberapa waktu lalu. Kedua negara sepakat membentuk dewan kerja sama strategis tingkat tinggi. Sebelumnya, Indonesia-Turki sejak 2012 juga telah menjalin kemitraan strategis.
Pintu kemitraan Indonesia-Turki sudah tidak lagi di atas kertas. Melalui perusahaan pertahanan BUMN maupun swasta, keduanya sudah melangkah untuk bekerja bersama membuat sejumlah alutsista, seperti Tank Harimau dan Tank amfibhi Zaha; membangun combat management system (CMS) berbagai jenis kapal perang jenis KCR 90, OPV hingga Fregat Merah Putih; dan lainnya.
baca juga: Wamenhan Ungkap Sulitnya Pengadaan Alutsista Baru
Di sisi lain, Turki merupakan negara yang pantas untuk Indonesia menimba ilmu dan mendapatkan bantuan kompetensi teknologi alutsista. Hal ini terkait kapasitas industri pertahanan Turki yang sudah bersaing dengan negara-negara besar. Berdasar data Denfense News yang dirilis 2022, dari 100 perusahaan pertahanan terkemuka dunia, tujuh di antaranya berasal dari Turki.
Bahkan, ASELSAN masuk dalam 50 besar. Perusahaan yang berdiri pada 1975 itu mengembangkan produk mulai dari sistem komunikasi, radar, dan berbagai sistem pertahanan. Produksinya telah digunakan 65 negara di dunia. Selain Aselsan, Turki juga memiliki perusahaan alutsista top global player seperti TAI, BMC, Roketsan, STM Defense Technologies & Engineering Ltd, FNSS, dan Havelsan.
Hampir semua teknologi militer sudah mampu dikembangkan dan diproduksi Turki, dengan kualitas yang tidak kalah dengan negara-negara pemain utama alutsista dunia seperti Amerika Serikat, Prancis, Rusia maupun China. Indikasinya bisa terlihat pada kian banyaknya negara yang mengandalkan alutsista made in Turki untuk memperkuat otot militernya.
Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), negeri tersebut menyumbang 1% dari total ekspor global. Raihan ini mengindikasikan Turki mampu menyiapkan SDM tangguh, melewati dinamika perekonomian, mengurangi ketergantungan pada pemasok asing, dan mengatasi perselisihan politik regional. Prestasi inilah yang harus Indonesia pelajari dari Turki.
Tinggal Selangkah
Jika ditelusuri, Indonesia sebenarnya tinggal selangkah memiliki kemampuan membuat rudal nasional. Pasalnya, sejumlah perusahaan BUMN dan swasta yang bergerak di bidang industri pertahanan telah mampu membuat bahan peledak atau propelan, amunisi, peledak, bom, hingga roket.
baca juga: Kontroversi Lonjakan Utang untuk Belanja Alutsista
Penguasaan teknologi roket bisa disebut sebagai backbone pembuatan rudal. Untuk roket, Indonesia telah berhasil membuat RHan-122B, yang digarap Pusat Teknologi Roket LAPAN bersama Konsorsium Roket Nasional sejak 2006. Setelah melewati tahapan penuh kesabaran --mulai dari desain konseptual, desain awal, pembuatan purwarupa (prototype), serta serangkaian pengujian statis dan dinamis sejak 2009--, Rhan-122B telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan roket GRAD RM 70 milik Marinir TNI-AL.
Hebatnya, dalam proses pengembangan R-HAN-122B, hingga pertengahan 2023 lalu LAPAN yang kemudian bergabung ke BRIN berhasil membuat tujuh paten yang diraih selama learning process. Roket pun sudah memulai pembahasan kontrak lisensi dengan industri pertahanan.
Lihat Juga :