Wamenhan Ungkap Sulitnya Pengadaan Alutsista Baru
Senin, 15 Januari 2024 - 19:10 WIB
loading...
Wamenhan M. Herindra mengungkapkan sulitnya melakukan pengadaan alutsista baru ke produsen luar negeri. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) M. Herindra mengungkapkan sulitnya melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru ke produsen luar negeri. Herindra menyebut membeli alutsista baru membutuhkan waktu yang lama.
Herindra mencontohkan pengadaan 42 unit pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. “Pesawat baru itu akan datang dan combat ready tujuh tahun yang akan datang. Oleh karena itu di saat tidak ada perang, maka kita gunakan untuk membangun kekuatan pertahanan negara,” katanya, Senin (15/1/2024).
Menurut Herindra, selama memimpin di Kementerian Pertahanan (Kemhan) Prabowo selalu mengadakan diskusi dengan TNI terkait performance prajurit, kebutuhan alutsista TNI dan pembangunan industri pertahanan dalam negeri.
Baca juga: Tanggapi Soal Alutsista Bekas, Wamenhan: Hanya Mengisi Kekosongan
“Ada beberapa yang harus segera kita perbaiki. Beberapa alat perang kita usianya sudah cukup tua. Untuk itu Kemhan terus berupaya keras agar performa TNI kita optimal. Kita akan berupaya untuk melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Terkait perkuatan kawasan regional, Herindra menegaskan Indonesia adalah negara non-blok. Artinya Indonesia tidak beraliansi dengan blok tertentu atau netral. Dalam konteks ini Kementerian Pertahanan melaksanakan diplomasi pertahanan dan berteman dengan berbagai negara untuk menghadapi berbagai tantangan di bidang pertahanan.
Baca juga: Ini Tiga Hal Terpenting yang Harus Dicek Pemerintah saat Modernisasi Alutsista
Herindra mencontohkan pengadaan 42 unit pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. “Pesawat baru itu akan datang dan combat ready tujuh tahun yang akan datang. Oleh karena itu di saat tidak ada perang, maka kita gunakan untuk membangun kekuatan pertahanan negara,” katanya, Senin (15/1/2024).
Menurut Herindra, selama memimpin di Kementerian Pertahanan (Kemhan) Prabowo selalu mengadakan diskusi dengan TNI terkait performance prajurit, kebutuhan alutsista TNI dan pembangunan industri pertahanan dalam negeri.
Baca juga: Tanggapi Soal Alutsista Bekas, Wamenhan: Hanya Mengisi Kekosongan
“Ada beberapa yang harus segera kita perbaiki. Beberapa alat perang kita usianya sudah cukup tua. Untuk itu Kemhan terus berupaya keras agar performa TNI kita optimal. Kita akan berupaya untuk melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Terkait perkuatan kawasan regional, Herindra menegaskan Indonesia adalah negara non-blok. Artinya Indonesia tidak beraliansi dengan blok tertentu atau netral. Dalam konteks ini Kementerian Pertahanan melaksanakan diplomasi pertahanan dan berteman dengan berbagai negara untuk menghadapi berbagai tantangan di bidang pertahanan.
Baca juga: Ini Tiga Hal Terpenting yang Harus Dicek Pemerintah saat Modernisasi Alutsista
Lihat Juga :