Teori Konspirasi dan Relaksasi Kelelahan Massa
Jum'at, 01 Mei 2020 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Namun, lantaran antimainstream, mengandung persekongkolan dan strukturnya sederhana tak serta merta suatu pernyataan digolongkan teori konspirasi. Ini juga gegabah. Harus dipastikan dulu validas premis penyusunnya. Maka untuk pernyataan sekelas Prof Tasuku Honjo atau ilmuwan lainnya, masyarakat yang tak punya perangkat cukup untuk menerima atau menolak, boleh memosisikannya sebagai kebolehjadian. Boleh jadi benar, boleh jadi salah. Ini disimpan, sampai ada teori lain yang membantah pernyataan Prof Honjo, maupun ilmuwan pelontar lain.
Hal yang pantas dipikirkan atas maraknya teori alternatif, yang kemudian disebut sebagai teori konspirasi, dan dikonsumsi lahap oleh masyarakat, dapat dibaca sebagai lelahnya masyarakat oleh tak kunjung diformulasikannya rumus tunggal, menghadang Covid-19. Ia hadir sebagai misteri yang melelahkan, sekaligus menakutkan. Masyarakat perlu relaksasi. Mereka mengalihkan perhatian pada teori alternatif yang mudah dicerna. Penerimaan terhadap teori alternatif, implisit juga menyatakan ketakberdayaan masyarakat. Tak berdaya akibat kuatnya persekongkolan pihak yang berkepentingan, dan konsumen teori konspirasi berharap pihak lain, termasuk pemerintah, melawan kekuatan itu.
Apa yang bahaya dari keadaan ini ? Tak bisa ditarik satu pernyataan umum. Harus diperiksa pihak yang melontarkan teori alternatif ini. Jika yang melontarkan punya kredibilitas, masyarakat akan menerima teori tersebut seraya meyakininya. Manusia adalah mahluk yang bertindak berdasar persepsinya. Oleh persepsi ini, tak heran misalnya, muncul tuntutan meminta pemerintah melakukan penanganan yang sesuai isi teori. Tapi jika yang melontarkan adalah pihak yang secara kredibilitas dianggap meragukan, tak punya kecakapan memformulasi teori, tak punya data pendukung, hal yang dinyatakannya segera menguap dalam perbantahan di masyarakat. Pernyataan spekulatif patah oleh teori yang lebih kuat. Teori konspiratif dianggap sekedar hiburan kala pandemi, alih-alih untuk menaikan trafic media sosial.
Dilemmanya, tak semua masyarakat paham soal kredibilitas pihak yang dianggap cakap membangun teori untuk menjelaskan. Ditambah lemahnya literasi konsumen pengetahuan di Indonesia, hanya membuat mereka makin terombang-ambing dalam wacana keraguan Covid-19. Ini melelahkan. Dan tak mustahil, malah menjatuhkan ke pilihan teori yang memberi kenyamanan, namun substansi pencegahannya justru diabaikan.
Tak ada pilihan lain, menghadapi ini harus dilawan dengan menyodorkan fakta yang nyata di lapangan. Pada kenyataannya, banyak orang tertular, dan itu terjadi di seluruh dunia. Bahkan yang tertular dan meninggal beruntun, para dokter maupun perawat yang berpengalaman menghadapi berbagai penyakit. Demikian juga jika disebut penyakit lain lebih berbahaya, dan bahaya Covid-19 akibat propaganda ketakutan belaka. Pada kenyataannya, aids, tbc, ebola tak menyebar seluas ini dan menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Jadi berspekulasi dengan teori yang belum terbukti benar, adalah tindakan yang berbahaya. Daripada terlibat dengan teori alternatif yang spekulatif, lebih baik patuh pada protokol pencegahan penularan. Karena resiko yang menghadang nyata
Hal yang pantas dipikirkan atas maraknya teori alternatif, yang kemudian disebut sebagai teori konspirasi, dan dikonsumsi lahap oleh masyarakat, dapat dibaca sebagai lelahnya masyarakat oleh tak kunjung diformulasikannya rumus tunggal, menghadang Covid-19. Ia hadir sebagai misteri yang melelahkan, sekaligus menakutkan. Masyarakat perlu relaksasi. Mereka mengalihkan perhatian pada teori alternatif yang mudah dicerna. Penerimaan terhadap teori alternatif, implisit juga menyatakan ketakberdayaan masyarakat. Tak berdaya akibat kuatnya persekongkolan pihak yang berkepentingan, dan konsumen teori konspirasi berharap pihak lain, termasuk pemerintah, melawan kekuatan itu.
Apa yang bahaya dari keadaan ini ? Tak bisa ditarik satu pernyataan umum. Harus diperiksa pihak yang melontarkan teori alternatif ini. Jika yang melontarkan punya kredibilitas, masyarakat akan menerima teori tersebut seraya meyakininya. Manusia adalah mahluk yang bertindak berdasar persepsinya. Oleh persepsi ini, tak heran misalnya, muncul tuntutan meminta pemerintah melakukan penanganan yang sesuai isi teori. Tapi jika yang melontarkan adalah pihak yang secara kredibilitas dianggap meragukan, tak punya kecakapan memformulasi teori, tak punya data pendukung, hal yang dinyatakannya segera menguap dalam perbantahan di masyarakat. Pernyataan spekulatif patah oleh teori yang lebih kuat. Teori konspiratif dianggap sekedar hiburan kala pandemi, alih-alih untuk menaikan trafic media sosial.
Dilemmanya, tak semua masyarakat paham soal kredibilitas pihak yang dianggap cakap membangun teori untuk menjelaskan. Ditambah lemahnya literasi konsumen pengetahuan di Indonesia, hanya membuat mereka makin terombang-ambing dalam wacana keraguan Covid-19. Ini melelahkan. Dan tak mustahil, malah menjatuhkan ke pilihan teori yang memberi kenyamanan, namun substansi pencegahannya justru diabaikan.
Tak ada pilihan lain, menghadapi ini harus dilawan dengan menyodorkan fakta yang nyata di lapangan. Pada kenyataannya, banyak orang tertular, dan itu terjadi di seluruh dunia. Bahkan yang tertular dan meninggal beruntun, para dokter maupun perawat yang berpengalaman menghadapi berbagai penyakit. Demikian juga jika disebut penyakit lain lebih berbahaya, dan bahaya Covid-19 akibat propaganda ketakutan belaka. Pada kenyataannya, aids, tbc, ebola tak menyebar seluas ini dan menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Jadi berspekulasi dengan teori yang belum terbukti benar, adalah tindakan yang berbahaya. Daripada terlibat dengan teori alternatif yang spekulatif, lebih baik patuh pada protokol pencegahan penularan. Karena resiko yang menghadang nyata
(eko)
Lihat Juga :