alexametrics

Teror Bom Surabaya

loading...
Teror Bom Surabaya
Warga Surabaya dari lintas agama dan elemen, menyalakan lilin dan orasi ketika melakukan aksi solidaritas untuk korban peristiwa bom bunuh diri, di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. SINDOnews/Ali Masduki
A+ A-
AKTIVITAS warga Kota Surabaya baru saja menggeliat pagi hari kemarin saat ledakan bom mengguncang di tiga lokasi berbeda. Sasaran pengeboman adalah gereja tempat para jemaat menjalankan ibadah.

Peledakan bom oleh pelaku yang diduga sekeluarga ini menewaskan 13 korban jiwa dan melukai lebih 40 lainnya. Pada malam harinya ledakan juga terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, di belakang Kantor Polsek Taman. Ledakan ini menyebabkan sejumlah korban luka.

Siapa pun yang peduli martabat dan kemanusiaan akan mengutuk perbuatan teroris yang biadab ini. Sebagai bentuk simpati dan keprihatinan, mengalir ucapan dukacita bagi korban meninggal dan luka atas kejadian ini. Tak hanya dari dalam negeri, ucapan simpati juga datang dari masyarakat internasional. Publik Tanah Air ramai-ramai menyatakan sikapnya bahwa mereka tidak pernah takut teror dan siap bersatu untuk memeranginya.   

Tak ada ruang sesenti pun di Bumi Pertiwi ini yang bisa jadi tempat bagi tumbuh kembangnya terorisme. Untuk itu, kasus teror di Surabaya dan Sidoarjo ini harus segera diungkap, termasuk menemukan aktor yang bekerja di baliknya. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut bahwa terduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya masih terkait dengan kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Mereka sekaligus kelompok pendukung Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Kerja cepat aparat sangat diharapkan. Apalagi, kurang dari sepekan sebelumnya, penyerangan oleh napi terorisme terjadi di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat dan menewaskan lima polisi. Pengungkapan kasus penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap organ negara yang berkaitan dengan keamanan, terutama Polri, dan Badan Intelijen Negara (BIN). Atas kasus di Mako Brimob dan ledakan gereja di Surabaya, polisi dan intelijen disebut kecolongan. Betapa tidak, pelaku teror beraksi di tempat-tempat yang seharusnya memiliki kepastian keamanan.

Menyikapi teror ini, sejumlah langkah perlu dikedepankan. Pertama,  masyarakat harus tetap tenang demi menjaga situasi tetap kondusif. Penanganan kasus ini harus dipercayakan kepada aparat keamanan. Semua pihak juga perlu menahan diri dan menghindari tindakan yang tidak perlu.

Kedua, menghindari saling tuding. Terorisme adalah perbuatan biadab dan tidak mencerminkan tindakan orang yang beragama. Karena itu, tidak tepat pula jika mengaitkan terorisme dengan agama atau keyakinan tertentu. Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan individu. Tak satu pun agama yang membenarkan pembunuhan terhadap manusia lainnya.

Ketiga, dukungan masyarakat dalam memerangi teror juga sangat diperlukan. Mulai dari ihwal sederhana. Kebiasaan menyebar foto korban atau kerusakan yang terjadi akibat peristiwa teror di media sosial seharusnya tidak dilakukan karena secara tak langsung itu menguntungkan pelaku yang pada dasarnya membutuhkan pengakuan atas setiap aksinya. Menyebar foto atau informasi yang tidak semestinya sama saja mendukung upaya teroris yang ingin menyebarkan propaganda dan ketakutan. Jauh lebih baik jika masyarakat membantu aparat dengan proaktif mengawasi lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing. Jika ditemukan warga atau aktivitas yang mencurigakan, seyogianya masyarakat proaktif melaporkan ke aparat pemerintah atau kantor polisi terdekat.

Keempat, para elite politik, baik dari kubu rezim penguasa ataupun barisan oposisi pemerintah juga perlu menjaga suasana agar tidak semakin keruh dengan membuat pernyataan-pernyataan kontraproduktif. Sangat tidak etis menggunakan isu seperti ini untuk tujuan dan kepentingan politik tertentu.

Kelima, aparat perlu lebih tegas lagi dalam menanggulangi teror. Maka itu, penting untuk segera mengesahkan RUU Antiterorisme. Di RUU tersebut memuat sejumlah perubahan aturan yang memberi ruang bagi aparat keamanan melakukan penanggulangan teror antara lain waktu yang lebih panjang untuk melakukan penahanan terhadap terduga teroris yang ditangkap.

Keenam, butuh kerja sama yang padu dan solid oleh seluruh organ keamanan negara, yakni Polri, BIN, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Mereka perlu melakukan pendekatan cermat dan komprehensif  dalam pencegahan maupun penanggulangan setiap aksi teror. Memang tidak mudah memberantas terorisme di Bumi Pertiwi dalam waktu singkat.

Namun, dengan kerja keras terus-menerus seluruh aparat keamanan ditambah dukungan penuh seluruh komponen masyarakat, kejahatan ini pasti akan mampu ditanggulangi. Mari bersatu meng­hadapi terorisme, jangan pernah takut!
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak