Uji Klinis Demi Kesehatan Bersama

Selasa, 11 Agustus 2020 - 06:01 WIB
loading...
A A A
Seperti diketahui, saat ini berbagai negara di dunia tengah berlomba memproduksi vaksin untuk menghentikan pandemi korona. Berdasarkan data yang dihimpun Satgas Penanganan Covid-19, setidaknya terdapat 188 kandidat vaksin yang tengah dikembangkan. (Baca juga: Demi Vaksin Corona, Erick Thohir Siap Rogoh Kocek Rp65,9 Triliun)

Perinciannya, ada 139 kandidat vaksin masuk dalam tahap pre-klinis, dan 25 kandidat vaksin yang berproses di kandidat vaksin dengan uji klinis tahap I; 17 kandidat vaksin dengan uji klinis tahap II; dan ada 7 yang berada pada uji klinis tahap II. Sejauh ini belum ada satu pun di dunia yang sudah lulus uji.

Dari 7 kandidat vaksin yang sudah masuk tahap III uji klinis, di antaranya dikembangkan Sinovac, Wuhan Institute of Biological Products atau Sinopharm, dan Beijing Institute of Biological Products yang juga dari Sinopharm. Selanjutnya adalah vaksin yang dikembangkan BioNTech/Fosun Pharma dan Pfizer, University of Oxford bekerja sama dengan AstraZeneca, Moderna yang bekerja sama dengan NIAID dari Amerika, dan University of Melbourne dan Murdoch Children's Research Institute.

Pakar epidemiologi Tri Yunis Miko Wahyono menerangkan, uji klinis terhadap suatu vaksin harus dilakukan di banyak negara. Hanya, menurut dia, uji coba tahap I dan II juga dilakukan di Indonesia. Uji coba di Indonesia cukup penting karena memiliki keberagaman ras.

“Tapi bukan ras itu Jawa dan Sunda, tapi ras secara genetik reaksi imunnya akan berbeda. Kita dengan China rasnya hampir sama. Brasil itu agak berbeda, ada keturunan Eropanya,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.

Dia menjelaskan, pengujian vaksin harus bertahap. Fase I itu biasanya jumlahnya puluhan hingga 100 orang. Pada fase ini untuk melihat efektivitas dan efek sampingnya. Fase II itu jumlah orang dibutuhkan sebagai sampel berkisar 100–400 orang. Ini akan kelihatan efek harmful (bahaya) atau merugikan dari vaksin tersebut.

“Efek harmful yang ringan itu akan timbul seperti alergi, panas, dan gatal. Efek harmful bisa karena suntikannya, bisa efek obat, dan virus karena virus mati bisa menimbulkan reaksi. Kalau dari 10.000 sampel itu, kira-kira 50–100. Itu efek ringan, berarti aman,” tuturnya.

Tri Yunis lantas menuturkan, kesuksesan sebuah vaksin dalam melawan virus itu akan terlihat dari dalam situasi normal. World Health Organization (WHO) menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk membuat vaksin minimal 18 bulan. Namun karena virus Sars Cov-II ini melumpuhkan nyaris seluruh sendi kehidupan, maka dilakukan berbagai upaya percepatan untuk membuat vaksinnya. (Baca juga: Bio Farma Bisa Penuhi Vaksin untuk Seluruh Penduduk Indonesia)

“Ini WHO yang memperbolehkan (percepatan) dengan tidak mengurangi batasan-batasan (standar) itu. Antibodi harus efektif. Pas diukur enam bulan kemudian harus di level protektif,” pungkasnya.

Ridwan Kamil Siap

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui, dirinya sudah mendaftar menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac. Tokoh yang akrab disapa Kang Emil itu berujar, dirinya didaftarkan menjadi relawan oleh tim kesehatannya secara daring. Dia pun mengaku telah mengantongi bukti telah terdaftar sebagai relawan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KPK Dalami Kunjungan...
KPK Dalami Kunjungan Luar Negeri Ridwan Kamil hingga Penukaran Uang Miliaran Rupiah
KPK Panggil Asisten...
KPK Panggil Asisten Ridwan Kamil saat Jabat Gubernur Jabar terkait Kasus BJB
Sikapi Penyakit Super...
Sikapi Penyakit Super Flu di Indonesia, Menkes: Tak Mematikan seperti Covid-19
KPK Buka Peluang Periksa...
KPK Buka Peluang Periksa Aura Kasih terkait Dugaan Korupsi Bank BJB
KPK Buka Peluang Panggil...
KPK Buka Peluang Panggil Atalia Praratya dalam Kasus BJB
Ridwan Kamil Tegaskan...
Ridwan Kamil Tegaskan Kendaraan yang Disita KPK Dibeli Pakai Uang Pribadi
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Ayu Aulia Minta Maaf...
Ayu Aulia Minta Maaf ke Ridwan Kamil dan Roby Kurniawan, Akui Unggahan soal Kehamilan Hanya Halusinasi
Rekomendasi
Pesawat Jatuh di Prancis,...
Pesawat Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
NTB Krisis Air Bersih...
NTB Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, 1.129 KK Terdampak
Kontroversi Warnai Laga...
Kontroversi Warnai Laga Perdana Babak 32 Besar, Pakar Wasit Sebut Kanada Seharusnya Dapat Penalti
Berita Terkini
PN Jakpus Gelar Sidang...
PN Jakpus Gelar Sidang Vonis Nadiem Makarim Besok
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Persoalkan Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, hingga Pencekalan
PKS Minta Fenomena Calon...
PKS Minta Fenomena Calon Mahasiswa Tidak Daftar Ulang di PTN Jadi Evaluasi SPMB 2026
Gugat Polda Metro Jaya,...
Gugat Polda Metro Jaya, Roy Suryo: Penangkapannya Melanggar HAM seperti Film G30S/PKI
Roy Suryo Hadiri Sidang...
Roy Suryo Hadiri Sidang Perdana Praperadilan: Tidak Ada Upaya untuk Memperlambat Peristiwa Utamanya
Kapolri: Hari Bhayangkara...
Kapolri: Hari Bhayangkara ke-80 Jadi Evaluasi untuk Wujudkan Harapan Warga
Infografis
Jadwal Cuti Bersama...
Jadwal Cuti Bersama ASN Tahun 2026, Catat Tanggalnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved