Suarakan Solidaritas, OIC Youth Indonesia Gelar Seminar soal Uighur

Rabu, 20 Desember 2023 - 06:13 WIB
loading...
Suarakan Solidaritas,...
OIC Youth Indonesia dan Center for Uighur Studies menggelar seminar dan press conference bertema solidaritas dan update terkini terkait Uighur, di Jakarta. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - OIC Youth Indonesia dan Center for Uighur Studies menggelar seminar dan press conference bertema solidaritas dan update terkini terkait Uighur, di Jakarta, Selasa 19 Desember 2023. Presiden OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita mengatakan, seminar ini merupakan bagian dari rangkaian seminar.

"Rangkaian seminar yang diselenggarakan di berbagai kota Indonesia mulai dari 8-18 Desember 2023, melibatkan kota-kota seperti Yogyakarta, Makassar, Jakarta, Bandung, dan Medan. Dengan tema Uyghur Plight: Call for Solidarity," kata Asrid dalam keterangannya, Rabu (20/12/2023).

"Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan solidaritas terhadap situasi yang dihadapi oleh masyarakat Uighur," tambahnya.

Astrid menegaskan, advokasi dan peningkatan kesadaran terhadap isu Uighur telah menjadi fokus organisasi OIC Youth Indonesia sejak pendiriannya. Melalui pendekatan HAM dan antiislamofobia, pihaknya terus berkomitmen untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan memerangi ketidakadilan.

"Kami, sebagai civil society, melakukan tugas kami untuk raise awareness. Selain itu, kami sangat paham bahwa Indonesia memiliki landasan politik luar negeri bebas aktif, dan ini bukan berarti kita netral, tapi bagaimana bersikap sesuai pada nilai-nilai," tegasnya.

Hadir narasumber utama dalam seminar ini, Mr Abdulhakim Idris, selaku direktur eksekutif Center of Uighur Studies, serta Astrid Nadya Rizqita, dan peneliti tentang Uighur dari STAI Persis Imam Sopyan.

Abdulhakim memberikan pemahaman mendalam terkait situasi Uighur, dengan menggambarkan penindasan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 tahun.

"Pemerintah Tiongkok menghilangkan statistik di Xinjiang pada akhir 2019, menyulitkan pemantauan dunia," ungkapnya.

Ia juga menyoroti isu kerja paksa yang menimpa warga etnis Uighur, ketika dipaksa bekerja 12 jam sehari dan diharuskan mengikuti kelas pembelajaran Partai Komunis pada malam hari.

"Pembatasan kebebasan beragama juga menjadi isu serius, dengan keluarganya ditahan di kamp konsentrasi," ujarnya.

Abdulhakim menjelaskan, dalam perjalanan seminar mereka, pihaknya membawa laporan dan buku untuk menguraikan situasi di Uighur, membahas islamofobia, serta memberikan pemahaman mendalam mengenai sejarah dan budaya Uighur.

"Misi Center for Uighur Studies adalah mempelajari sejarah, budaya, politik Uighur, dan mempromosikan karya sastra serta tokoh sejarah Uighur kepada dunia," ucapnya.

Dia juga menyampaikan hasil penilaian UN Human Rights Office of the High Commissioner (OHCHR) terhadap kekhawatiran hak asasi manusia di Wilayah Otonom Uighur Xinjiang, Republik Rakyat Tiongkok.

"OHCHR menyuarakan keprihatinan yang serius terhadap situasi di Xinjiang, yang semakin menunjukkan urgensi untuk tindakan internasional," pungkasnya.

Masih di forum yang sama, Imam Sopyan menyoroti sejarah panjang bangsa Uighur sejak abad 5 dan 6. Ia menyampaikan bahwa situasi HAM yang dialami dapat dikategorikan sebagai genosida.

"Dari pendekatan budaya dan peradaban, akan sangat disayangkan jika bangsa Uighur terhapus dan punah," ujarnya.

Sekjen OIC Youth Indonesia Adlan Athori, selaku ketua penyelenggara seminar menyampaikan, konferensi ini memberikan kesempatan bagi pemangku kepentingan, aktivis, dan masyarakat umum untuk mendengarkan pembaruan terkini mengenai isu Uyghur dan bersatu dalam menyuarakan keadilan.

"Berharap melalui kesadaran dan solidaritas yang terbangun, kita dapat berkontribusi pada penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat Uighur," pungkasnya.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nasib Uighur Dinilai...
Nasib Uighur Dinilai Masih Butuh Perhatian Publik Dunia
Indonesia di Tengah...
Indonesia di Tengah Rivalitas Amerika Serikat dengan China
Uighur dalam Kerangka...
Uighur dalam Kerangka Separatisme dan Gerakan Politik
PRIK KT dan Revera Institute...
PRIK KT dan Revera Institute Gelar Seminar HAM dan Penanggulangan Terorisme
DPP IMM Minta Indonesia...
DPP IMM Minta Indonesia Berperan Aktif Lindungi Muslim Uighur di Afghanistan
Uighur Masih Menderita,...
Uighur Masih Menderita, IMM Desak KOI dan DPR RI Boikot Winter Olympics Beijing
UU Persatuan Etnis China...
UU Persatuan Etnis China Jadi Sorotan, Dinilai Tekan Identitas Minoritas
HRW Sebut China Lakukan...
HRW Sebut China Lakukan Represi Lintas Negara terhadap Uyghur
Dugaan Pengambilan Paksa...
Dugaan Pengambilan Paksa Organ di China Jadi Sorotan, G7 Diminta Bertindak
Rekomendasi
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Berita Terkini
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Ade Darmawan Minta Jaksa...
Ade Darmawan Minta Jaksa Tolak Segala Intervensi di Kasus Ijazah Jokowi
Nostalgia dengan Fotografi...
Nostalgia dengan Fotografi Analog, Lomography Kini Hadir di Indonesia
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved