Menyiapkan Drone untuk Kekuatan Masa Depan TNI

Senin, 11 Desember 2023 - 05:09 WIB
loading...
A A A
Hanya saja, kedua negara tetangga ini lebih progresif mengembangkan kemandirian drone tempur. Singapura misalnya dalam proses pengembangan drone serang supersonic, yaitu Arrow. Drone yang dikembangkan Kelley Aerospace itu diarahkan untuk multi-misi: pengintaian, serangan darat, serangan udara, mengawal pesawat berawak, dan jenis misi lainnya. Sedangkan Australia membangun UCAVloyal wingmanbersama Boeing, yakni MQ-28Ghost Bat.

Indonesia sebetulnya jauh hari sudah merintis pembangunan drone, namun dengan kapasitas dan fungsi terbatas. Beberapa drone karya anak bangsa adalah drone Wulung, Lapan Surveillance Unnamed (LSU), Gagak dan lainnya. Bahkan untuk drone MALE yang dipersenjatai, yakni drone Elang Hitam yang digarap BPPT, PT LEN, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia dan beberapa lembaga lain. Sayangnya, setelah lembaga riset disatukan dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), proyek tersebut malah dihentikan dengan berbagai alasan.

Melihat pentingnya perang drone tempur dalam peperangan modern serta kebutuhan penguatan kapasitas militer agar mampu merespons dinamika tantangan dan ancaman, termasuk di Laut China Selatan, proyek Elang Hitam urgen kembali dihidupkan. Jika persoalan terkendala keterbatasan teknologi dan kemampuan SDM, BRIN bisa memanfaatkan kerja sama dengan Turki sebagai bagian mekanisme transfer of technology (ToT) akuisisi drone BayraktarTB2 dan Anka.

baca juga: Pertahanan Udara Rusia Hancurkan 21 Drone Tempur Ukraina

Atau, kalau memang BRIN tidak bisa diharapkan, pemerintah bisa mendorong partisipasi swasta. Tapi, rasanya aneh bila Indonesia yang sudah memiliki kompetensi membangun pesawat terbang tidak mampu membangun drone. Karenanya, decision maker negeri ini harus belajar dari kesungguhan Turki yang sudah mampu drone dan bahkan mengekspor, hingga drone buatanya mereka menjadi alutsista andalan banyak negara untuk memenangkan pertempuran.

Perkembangan termutakhir juga menunjukkan jenis droneKamikaze telah menjadi alutsista penting dalam medan laga. Iran misalnya, memproduksi drone Shahed-136 dan sudah digunakan Rusia untuk melumpuhkan Ukraina. Bahkan Hamas pun sudah mampu membuat jenis drone ini, Zouari, dan telah dioperasikan dalam misi penyerangan ke wilayah Israel.

Indonesia sendiri sebenarnya tidak ketinggalan. PT Dahana yang merupakan BUMN produsen bahan peledak telah mengembangkan droneKamikaze Rajata. Bahkan, drone yang dikembangkan sejak 2021 itu diklaim tak kalah canggih dibanding Kalashnikov milik Rusia, Warmate (Polandia), Switchblade (Amerika Serikat), dan Hero-30 (Israel). Istimewanya, walaupun memiliki kemampuan bersaing, harga Rajata paling murah.

Tak mau kalah, PT Pindad juga sedang mengembangkan drone Minibe. Drone kamikaze yang dilengkapi sistem seperti misil ini memiliki kemampuan jarak terbang mencapai 25 km dengan kecepatan 250 km per jam, dan membawa bahan peledak hingga hampir satu kilo. Selain Dahana dan Pindad, TNI AL melalui Perwira Siswa (Pasis) Seskoal juga tengah merancang jenis drone sama.

Hanya saja, setiap pengembangkan alutsista di Tanah Air selalui dihantui keraguan akan berhenti di prototipe, atau tidak dilanjutkan seperti nasib yang dialami Elang Hitam. Jawaban tentu dikembalikan ke Kemhan atau institusi terkait seperti BRIN, yakni apakah Indonesia bersungguh-sungguh mewujudkan kemandirian, termasuk membuat drone tempur, atau selamanya bergantung pada negara lain.

Namun, berangkat dari kesadaran akan posisi strategis drone, pentingnya kemandirian alutsista, serta menguatnya dinamika konflik antar-negara, pemerintah dan otoritas terkait harus berani melangkah ke depan mewujudkan berbagai program drone yang dilakukan.

baca juga: Prabowo Dipameri Drone hingga Rudal Tempur Buatan UGM

Komitmen ini merupakan prasarat mutlak membangun kapasitas militer Indonesia, serta menjadi pondasi untuk mengikuti perkembangan teknologi alutsista, termasuk drone, yang berlangsung sangat cepat. Apalagi untuk teknologi drone ini, beberapa negara bahkan sudah melangkah mewujudkan loyal wingman.

Konsep loyal wingman adalah drone yang dibenamkan kemampuan kecerdasan buatan (AI) dan dirancang mampu berkolaborasi dengan pesawat tempur berawak generasi berikutnya. Termasuk pesawat tempur dan pembom generasi keenam seperti Northrop Grumman B- 21. Di Amerika Serikat, konsep ini dikenal dengan nama collaborative combat aircraft (CCA).

Beberapa negara maju sudah mengembangkan loyal wingman, termasuk Korea Selatan. Negeri Gingseng ini pada 2021 mengumumkan mengembangkan Stingray-X yang diproyeksikan mendampingi Boromae. Alutsista yang diagendakan kelar 2025 itu disebut mampu menembus jaringan pertahanan udara, melumpuhkan radar, dan mendukung pertempuran udara. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
Seskab Teddy: Langit...
Seskab Teddy: Langit Indonesia Harus Aman, Kedaulatan Tidak Bisa Ditawar
Momen Prabowo Cek Cockpit...
Momen Prabowo Cek Cockpit Jet Tempur Rafale Buatan Prancis
Presiden Prabowo Tegaskan...
Presiden Prabowo Tegaskan Pertahanan Kunci Stabilitas Negara
Tambah Alutsista, Prabowo:...
Tambah Alutsista, Prabowo: Indonesia Tak Punya Kepentingan Selain Menjaga Wilayah Sendiri
Pengadaan Alutsista...
Pengadaan Alutsista TNI Harus Didukung Anggaran Perawatan dan Inhan Dalam Negeri
Amankan Piala Dunia...
Amankan Piala Dunia 2026, AS Kerahkan Sistem Pertahanan Anti-drone
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
Rekomendasi
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Hari Kedua Diserbu Talenta Muda Berprestasi
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Berita Terkini
Presiden Jerman Kunjungi...
Presiden Jerman Kunjungi Indonesia, Dijadwalkan ke Istiqlal dan Katedral
Walhi Minta Pembahasan...
Walhi Minta Pembahasan Revisi UU HAM Ditunda
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved