Dokter dan Paramedis Deklarasikan Penggiat Alam Kemenkes
Minggu, 26 November 2023 - 10:44 WIB
loading...
A
A
A
Setali tiga uang, Anggota Kehormatan Mapala Universitas Indonesia (UI) Syamsirwan Ichien menyambut baik berdirinya organisasi Penggiat Alam Kemenkes, yang dinilainya memiliki kekhasan dan menambah khasanah organisasi penggiat alam bebas. “Ini sangat positif, kuat misi kemanusiaan dan ada unsur edukasinya. Jadi tidak hanya menyalurkan hobi naik gunung dan senang-senang aja,” kata dia antusias.
Menurut Ichien, para penggiat alam bebas terutama pendaki gunung wajib tahu tentang ilmu kesehatan. Apalagi aktivitas alam bebas berisiko tinggi bahkan bisa merenggut jiwa. “Minimal mereka harus mengerti tentang PPGD dan P3K (Pertolongan Pertama Gawat Darurat/Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan),” tukasnya.
Ichien bercerita, di pegunungan Himalaya, pada setiap musim ramai pendakian selalu ada volunteer kesehatan dari berbagai negara dikirim ke wilayah tersebut. “Para dokter dan paramedis itu dikirim pakai helikopter menuju ke permukiman masyarakat, pos dan shelter-shelter pendakian, memberikan pengetahuan tentang kesehatan terutama cara menangani altitude sickness atau mountain sickness yang biasa menyerang para pendaki gunung,” tutur Ichien.
baca juga: Jurnalis Senior Don Hasman Posting Foto Kebersamaan dengan Herman Lantang
Sekadar diketahui, penyakit ketinggian (altitude sickness atau mountain sickness) terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan udara dan kadar oksigen di ketinggian. Akibatnya, muncul gangguan pada sistem saraf, otot, paru-paru, dan jantung.
Penyakit ketinggianmenyerang seseorang yang tengah berada di ketinggian, biasanya di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Penyakit ini karena kurangnya oksigen yang cukup di udara yang tipis di ketinggian tersebut.
Kondisi ini dapat memengaruhi siapa saja yang naik ke ketinggian yang tinggi, tidak peduli apakah mereka sudah terbiasa dengan ketinggian atau tidak. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, bahkan mereka yang sebelumnya telah naik ke ketinggian yang sama tanpa ada masalah pun memiliki peluang terjadinya altitude sickness.
Menurut Ichien, para penggiat alam bebas terutama pendaki gunung wajib tahu tentang ilmu kesehatan. Apalagi aktivitas alam bebas berisiko tinggi bahkan bisa merenggut jiwa. “Minimal mereka harus mengerti tentang PPGD dan P3K (Pertolongan Pertama Gawat Darurat/Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan),” tukasnya.
Ichien bercerita, di pegunungan Himalaya, pada setiap musim ramai pendakian selalu ada volunteer kesehatan dari berbagai negara dikirim ke wilayah tersebut. “Para dokter dan paramedis itu dikirim pakai helikopter menuju ke permukiman masyarakat, pos dan shelter-shelter pendakian, memberikan pengetahuan tentang kesehatan terutama cara menangani altitude sickness atau mountain sickness yang biasa menyerang para pendaki gunung,” tutur Ichien.
baca juga: Jurnalis Senior Don Hasman Posting Foto Kebersamaan dengan Herman Lantang
Sekadar diketahui, penyakit ketinggian (altitude sickness atau mountain sickness) terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan udara dan kadar oksigen di ketinggian. Akibatnya, muncul gangguan pada sistem saraf, otot, paru-paru, dan jantung.
Penyakit ketinggianmenyerang seseorang yang tengah berada di ketinggian, biasanya di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Penyakit ini karena kurangnya oksigen yang cukup di udara yang tipis di ketinggian tersebut.
Kondisi ini dapat memengaruhi siapa saja yang naik ke ketinggian yang tinggi, tidak peduli apakah mereka sudah terbiasa dengan ketinggian atau tidak. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, bahkan mereka yang sebelumnya telah naik ke ketinggian yang sama tanpa ada masalah pun memiliki peluang terjadinya altitude sickness.
Lihat Juga :