Dibandingkan 2019, Operasi Patuh 2020 Mampu Turunkan Laka Lantas

loading...
Dibandingkan 2019, Operasi Patuh 2020 Mampu Turunkan Laka Lantas
Kakorlantas Polri Irjen Pol Istiono saat turun langsung memantau Operasi Patuh 2020. Razia tahun ini ditekankan pada penerapan protokol kesehatan bagi para pengendara. Foto/Dok. SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Operasi Patuh 2020 yang digelar Polri selama 14 hari (23 Juli-5 Agustus 2020) berjalan lancar. Razia kendaraan di tengah pandemi Covid-19 kali ini berbeda dengan sebelumnya. Razia ditekankan pada penerapan protokol kesehatan bagi para pengendara.

Dari hasil evaluasi, Operasi Patuh yang mengedepankan tindakan persuasif dan humanis ini berjalan sesuai harapan. Dalam penegakan hokum, polisi mengepankan mendisiplinkan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, serta menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas. (Baca juga: 99.835 Pelanggaran Selama Operasi Patuh Jaya 2020, Pengendara Motor Terbanyak)

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Istiono mengatakan, sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, pihaknya berusaha semaksimal mungkin melaksanakan harapan Presiden Joko Widodo untuk sosialisasi pencegahan penyebaran pandemi Covid-19. “Dalam Operasi Patuh hal terpenting adalah menyadarkan masyarakat dalam gerak langkah berlalu lintas untuk selalu jaga jarak, memakai masker, dan menjaga kesehatan dengan selalu cuci tangan dalam setiap kesempatan. Ini penting agar pandemi ini segera berakhir," kata Istiono dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/8/2020).

Menurut Istiono, operasi semacam ini setiap tahun diadakan. Tujuannya selalu mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas. (Baca juga: Operasi Patuh Lodaya, Polresta Bandung Garuk 312 Motor Berknalpot Bising)



Hal ini dilakukan karena angka kecelakaan masih cukup tinggi. Diperlukan langkah antisipatif melibatkan seluruh stakeholder yang bertanggung jawab di dalam keselamatan berlalu lintas. “Diharapkan, dengan sinergi yang terbangun sesama stakeholder bisa meminimalisir korban lakalantas,” tuturnya. (Baca juga: Jokowi Terbitkan Inpres Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan)

Fakta menunjukkan, korban meninggal akibat lakalantas banyak berjatuhan. Kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, turut andil terbanyak menjadi penyebab tingginya kecelakaan. Mayoritas korban berusia produktif yakni 15-35 tahun.

Oleh karena itu budaya tertib berkendara dan patuh pada peraturan di jalan raya adalah kunci mengurangi kecelakaan kendaraan bermotor. Meskipun membangun kesadaran terhadap keselamatan berkendara tidaklah mudah. Bahkan banyak cara yang telah dilakukan oleh kepolisian untuk menekan angka kecelakaan tersebut.



Istiono berharap, kegiatan operasi patuh ini bisa menandai sebuah gerakan bersama untuk meningkatkan kualitas keselamatan dan keamanan, serta menurunkan tingkat fatalitas korban lakalantas. Disinilah perlunya terus ditingkatkan memperbaiki moda transportasi umum yang ada. (LIhat grafis: Mulai 3 Agustus, Ganjil Genap di Jakarta Kembali Dilakukan)
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top