Putin, Kampanye Multipolar, dan Indonesia

Senin, 23 Oktober 2023 - 05:03 WIB
loading...
A A A
Pasca-Perang Dunia II, arsitektur pertarungan global mengalami dinamika dan memformat polaritas hubungan internasional. Sistem polaritas yang diperkenalkan kaum realis, termasuk di antaranya Karen A. Mings, sangat lekat dengan konsep power yang merujuk pada perilaku aktor politik yang selalu bermotif meraih dan memperkuat pengaruhnya -baik di bidang politik, ekonomi, militer dan lainnya.

Dalam perjalanannya, metamorfosis pembentukan polaritas merupakan hasil kongkret dari pertarungan era sebelumnya. Sistem bipolar yang terlahir sejak berakhirnya perang Dunia II terbentuk setelah AS dan Uni Sovyet menjadi pemenangnya.

Mereka mengonsolindasikan kekuatan menjadi dua kubu aliansi, yakni Blok Barat atau NATO yang dipimpin AS versus Blok Timur atau Fakta Warsawa dengan pemimpin Uni Sovyet. Rivalitas terjadi tidak sampai meledak menjadi perang terbuka, hingga periodisasi ini disebut sebagai era Perang Dingin (Cold War).

Sistem bipolar saat itu memunculkan konsep balance of poweratau perimbangan kekuatan. Seperti dikemukakan Kenneth Waltz dalamTheory of International Politics, keberadaan dua negara berkekuatan besar bisa diharapkan bertindak sebagai pemelihara sistem. Berangkat dari pemahaman inilah, di era tersebut tidak sampai pecah perang antarnegara adidaya.

Ambruknya tembok Berlin yang memisahkan dua negara Jerman pada 9 November 1989,menandai kemenangan demokrasi dan kebebasan yang menjadi ideologi AS dan sekutunya terhadap komunisme yang merupakan wujud wajah Uni Sovyet. Kemenangan AS pun bersifat mutlak setelah negara Uni Sovyet dibubarkan pada 25 Desember 1991, dengan ditandai mundurnya Presiden Mikhail Gorbacev.

Praktis,sejak itu AS menjadi negara adi kuasa tunggal dan mengubah tatanan dunia menjadi unipolar. Rusia yang menjadi negara inti dari Uni Sovyet pun kehilangan kendali untuk memainkan percaturan politik dunia seperti sebelumnya. Bahkan, dalam perjalanan sejarahnya satu persatu negara bekas wilayahnya mencoba bergabung dengan NATO, termasuk Ukraina, yang menjadi pemicu pecahnya perang kedua negara.

Benar kata Thomas Hobbes dalam bukunya ‘Leviathan’, yang menyebut tentang Homo homini lupus, yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Walaupun AS telah memenangkan pertarungan dan menjadikannya sebagai pemegang tunggal kendali polaritas dunia, atau unipolar, bukan berarti negeri Paman Sam itu mengendorkan langkahnya demi membangun tatanan dunia baru yang harmonis, adil, dan sejahtera.

Justru, seolah memanfaatkan aji mumpung berkuasa, AS memperbesar national interest-nya dengan berbagai cara. Bersama sekutunya ia memperkuat hegemoninya untuk memuluskan kepentingan mulai dari politik, ekonomi, militer, ideologi, dan lainnya.

Demi tujuan tersebut AS pun melakukan berbagai tindakan represif, mulai dari yang paling halus seperti dilakukan lewat proxy war, hingga melakukan penyerangan ke sejumlah negara, di antara menjadi korban adalah Irak. Kalau pun ada nilai yang disematkannya, tidak lebih sebagai bungkus untuk membenarkan tindakannya.

Interaksi yang dibangun AS dan sekutunya dalam hubungan internasional lebih mengedepankan conflict ketimbang cooperationdan competition. Apalagi terhadap negara-negara yang dianggap sebagai ancaman atau mengancam kepentingannya, seperti China -dalam konteks ini memunculkan terjadinya perang dagang (trade war).

Terhadap Rusia yang dianggap sebagai potensi tandingan pun seolah tidak memberi ampun. AS terus memperluas pengaruhnya ke negara-negara eks Blok Timur, dan memasukkan beberapa negara menjadi anggota NATO. Sejauh ini ini sudah ada sembilan eks Blok Timur yang menjadi geng militer AS tersebut atau disebut Bucharest Nine. Mereka adalah Bulgaria, Republik Ceko, Estonia, Hungaria, Latvia, Lituania, Polandia, Rumania dan Slovakia.

Tak puas, AS juga merayu Ukraina – negara eks Uni Sovyet yang dianggap sangat strategis bagi Rusia- untuk turut bergabung dengan NATO. Rusia yang tidak bisa menerima ancaman di depan pintu rumahnya pun langsung memilih perang dan menginvansi negeri yang dipimpin Volodymyr Zelenskyy itu.

Selain berupaya melumpuhkan Rusia, AS terus berupaya mengebiri kebangkitan China, apalagi negeri tersebut menunjukkan agresivitasnya memperluas wilayah di Laut China Selatan (LCS). Dalam konteks inilah, AS merangkul Inggris dan Australia membentuk persekutuan AUKUS. Bila melihat perilaku AS dan sekutunya selama ini, sangat mungkin warning Putin bahwa AS akan mengintegrasikan NATO dan AUKUS bisa menjadi kenyataan.

Indikator Pergeseran Kekuatan

Walaupun sekilas AS dan sekutunya masih terlihat sangat dominan, sejatinya hegemoni mereka belakangan ini menunjukkan tren penurunan. Secara kasat mata, tren ini bisa dilihat dengan menguatnya bargaining positionChina dalam percaturan global. Negeri Panda tersebut menunjukkan lompatan luar dalam bidang ekonomi dan meluaskan pengaruhnya ke banyak negara berkembang, dengan indikasi Inisiatif Sabuk dan Jalan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sekolah Nasional Terintegrasi:...
Sekolah Nasional Terintegrasi: Investasi Besar yang Harus Dijaga Konsistensinya
NU dan Arsitektur Peradaban...
NU dan Arsitektur Peradaban Abad Kedua
Menakar Masa Depan di...
Menakar Masa Depan di Balik Dana Abadi Daerah
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Jeda Perang dan Gencatan...
Jeda Perang dan Gencatan Senjata Selalu Menguntungkan Iran, Ini 4 Alasannya
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
Rekomendasi
Siswi SMAK Penabur Sabet...
Siswi SMAK Penabur Sabet Medali Perunggu Olimpiade Matematika Internasional 2026
Penerbangan Netanyahu...
Penerbangan Netanyahu ke AS Melintasi Wilayah Udara Negara-negara Anggota ICC
Koalisi Masyarakat Sipil...
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pengusutan Tuntas Kematian Sutrimo
Berita Terkini
Sekolah Nasional Terintegrasi:...
Sekolah Nasional Terintegrasi: Investasi Besar yang Harus Dijaga Konsistensinya
Marak Kasasi Jaksa atas...
Marak Kasasi Jaksa atas Vonis Bebas, Pakar Nilai Bertentangan dengan Asas Hukum
Sambut HUT Ke-81 RI,...
Sambut HUT Ke-81 RI, Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
Titi Anggraini: Tak...
Titi Anggraini: Tak Libatkan Parpol Nonparlemen Bahas RUU Pemilu Tindakan Inkonstitusional
Polemik Kabinet Bayangan,...
Polemik Kabinet Bayangan, Pengamat Menyoroti Mekanisme Kritik dalam Demokrasi
Di Forum ASEAN, Indonesia...
Di Forum ASEAN, Indonesia Perkuat Kepemimpinan Pengelolaan Hutan Lestari
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved