Kemenaker Beberkan 4 Tantangan Program Pelatihan di Tengah Pandemi
Senin, 03 Agustus 2020 - 21:31 WIB
loading...
Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Utama Kemenaker, Hery Sudarmanto. FOTO/DOK.HUMAS KEMENAKER
A
A
A
JAKARTA - Berbagai terobosan terus dilakukan Balai Besar Peningkatan Latihan Kerja (BBPLK) di bawah Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menggelar pelatihan secara daring (online).
Pelatihan-pelatihan yang biasanya dilakukan BBPLK secara tatap muka, tidak dapat lagi dilakukan karena ada pembatasan untuk berkumpul. Model E-Learning pun menjadi pilihan utama diadaptasi ke dalam dunia pelatihan menjadi pelatihan daring (online), agar pelatihan tetap dapat berjalan.
"Setelah WHO secara resmi menyatakan virus Covid-19 adalah sebuah pandemi global pada Maret lalu, metodologi pelatihan berubah secara luar biasa," kata Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Utama Kemenaker, Hery Sudarmanto melalui siaran pers Kemenaker di Jakarta, Senin (3/8/2020).(Baca juga: Kabar Gembira, Korban PHK Akibat Pandemi Akan Dipekerjakan Kembali )
Hery menyebut ada empat tantangan dalam pelaksanaan pelatihan daring di masa pandemi Covid-19. Pertama, peserta pelatihan yang pasif. Peserta pasif akan menyulitkan instruktur/trainer untuk mengetahui apakah peserta mengerti atau tidak terhadap materi yang diberikan. "Solusinya, trainer/instruktur harus dapat membaca situasi dan banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang interaktif," kata Hery.
Kedua, trainer harus terus terhubung dengan peserta. Sebab saat instruktur/trainer memberikan pelatihan daring, sering kali peserta mengalami "gangguan" dari lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, para peserta harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Tantangan ketiga, melakukan kolaborasi antar peserta. Biasanya, apabila pelatihan dilakukan secara tatap muka, trainer/instruktur dapat membagi kelompok peserta menjadi beberapa kelompok untuk diberikan tugas kelompok. Kecepatan internet yang sering naik turun di beberapa daerah menyebabkan hal ini menjadi hambatan dalam pelaksanaan pelatihan daring.(Baca juga: Fantastis, Ada 5,6 Juta Lapangan Kerja dari Proyek Strategis Nasional )
"Beda dengan pelatihan daring, biasanya sulit untuk membagi peserta menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga keterikatan antar peserta menjadi sangat rendah," katanya.
Pelatihan-pelatihan yang biasanya dilakukan BBPLK secara tatap muka, tidak dapat lagi dilakukan karena ada pembatasan untuk berkumpul. Model E-Learning pun menjadi pilihan utama diadaptasi ke dalam dunia pelatihan menjadi pelatihan daring (online), agar pelatihan tetap dapat berjalan.
"Setelah WHO secara resmi menyatakan virus Covid-19 adalah sebuah pandemi global pada Maret lalu, metodologi pelatihan berubah secara luar biasa," kata Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Utama Kemenaker, Hery Sudarmanto melalui siaran pers Kemenaker di Jakarta, Senin (3/8/2020).(Baca juga: Kabar Gembira, Korban PHK Akibat Pandemi Akan Dipekerjakan Kembali )
Hery menyebut ada empat tantangan dalam pelaksanaan pelatihan daring di masa pandemi Covid-19. Pertama, peserta pelatihan yang pasif. Peserta pasif akan menyulitkan instruktur/trainer untuk mengetahui apakah peserta mengerti atau tidak terhadap materi yang diberikan. "Solusinya, trainer/instruktur harus dapat membaca situasi dan banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang interaktif," kata Hery.
Kedua, trainer harus terus terhubung dengan peserta. Sebab saat instruktur/trainer memberikan pelatihan daring, sering kali peserta mengalami "gangguan" dari lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, para peserta harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Tantangan ketiga, melakukan kolaborasi antar peserta. Biasanya, apabila pelatihan dilakukan secara tatap muka, trainer/instruktur dapat membagi kelompok peserta menjadi beberapa kelompok untuk diberikan tugas kelompok. Kecepatan internet yang sering naik turun di beberapa daerah menyebabkan hal ini menjadi hambatan dalam pelaksanaan pelatihan daring.(Baca juga: Fantastis, Ada 5,6 Juta Lapangan Kerja dari Proyek Strategis Nasional )
"Beda dengan pelatihan daring, biasanya sulit untuk membagi peserta menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga keterikatan antar peserta menjadi sangat rendah," katanya.
Lihat Juga :