Jenderal TNI Peraih Adhi Makayasa Ini Dijuluki Jago Perang di Timor Timur karena Selalu Lolos dari Maut
Selasa, 19 September 2023 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Setibanya di Timor Leste, Letda Agustadi Sasongko Purnomo selaku Danton 3 Kompi A Yonif Linud 328 melakukan persiapan serangan ke Vamasse. Agustadi bersama pasukannya kemudian melakukan perjalanan sekaligus patrol sejauh 16 Km. Menjelang sampai di Vamasse, Agustadi memutuskan untuk berada di depan. Sorot lampu dari pihak musuh yang melakukan patroli mulai terlihat. Begitu juga suara deru mobil yang melintas mulai terdengar jelas.
Berkekuatan 4 tim, di mana masing-masing tim terdiri dari 6 personel, Agustadi berjalan secara pelan-pelan, merangkak dan tiarap kurang lebih 500 meter dalam waktu satu jam mendekati sasaran. Tepat pukul 04.00 WIT, seorang musuh yang sedang berjaga hendak buang air kecil. Dia berjalan kaki menuju Sersan Marman yang tengah bersembunyi.
Saat itu, pulalah tembakan terjadi karena Sersan Marman mau dikencingi. Agustadi yang tidak sempat menyetel senjatanya langsung terlibat pertempuran sengit. Patroli yang dipimpin Agustadi berhasil menyergap pos musuh yang berkekuatan 14 orang dan menewaskannya. Sementara di barisan Agustadi, seorang anggotanya bernama Elus gugur.
Pada saat pembersihan, Agustadi mendapat 3 roket. Sebagian senjata dibakar. Sambil menunggu bantuan, Agustadi menggendong Elus. Saat kehausan, ada seorang penjual "legen" semacam nira dari pohon Aren. Namun Agustadi punya firasat, bila orang ini adalah mata-mata musuh. Ketika digeledah, ternyata penjual tersebut membawa granat. Berkat kesigapannya, nyawa Agustadi pun selamat.
Kepemimpinan, keberanian dan ketajaman firasat Agustadi di medan operasi membawanya pada kemenangan demi kemenangan. Baru seminggu berada di medan perang di Timor Timur, Agustadi dan pasukannya sudah berhasil mendapatkan 11 pucuk senjata.
Pada 22 Desember 1975, gerakan Kompi dilanjutkan ke arah Barat untuk merebut, menduduki dan mempertahankan Kota Manatuto dengan menyusun pemerintahan sementara di kota tersebut. Karena pada pagi hari sudah ada pertempuran maka gerakan pengintaian diubah.
Rencana gerakan berikutnya merebut dan membersihkan Kota Lalea yang diduduki musuh dengan kekuatan 1 Peleton. Setelah melalui proses perkiraan yang cepat, diputuskan akan dilakukan serangan Batalyon dengan serangan pokok di sebelah kiri oleh Kompi C, dan di sebelah kanan dilakukan oleh Kompi B, sedangkan jam "J" pukul 11.00.
Agustadi bergerak dan berada di garis depan. Setelah menyusuri sungai dengan air yang sedang surut, Agustadi dan pasukannya sempat beristirahat di tepi Sungai Lalea. Agustadi kemudian teringat akan pertempuran Normandia yang dilakukan pada siang hari jam 11. Pada jam tersebut musuh menghadap matahari sehingga silau. Pertempuran kembali terjadi, nahas bagi Danton Kompi Senapan (Kipan) C saat melintas Sungai Lalea yang memiliki lebar 500 meter itu gugur tertembak musuh.
Sementara Kipan B berhasil menembus dari sayap kanan sampai masuk kota, puluhan musuh mati tertembak ataupun kena peluru mortir. Dalam perebutan kota Manatuto tidak ada pertempuran di dalam kota, karena lawan telah lari meninggalkan kota dan tidak melakukan perlawanan, sehingga kota Manatuto dapat dikuasai.
Ketika kembali ke Lalea, sekitar jam jam 04.00 pagi, Agustadi bersama anggotanya memergoki 4 orang musuh, di mana sebagian tidur dan sebagian lain sedang makan. Dalam jarak 20 meter mereka terlibat baku tembak. Musuh kocar- kacir dan dapat dikalahkan oleh Agustadi dan pasukannya.
![Jenderal TNI Peraih Adhi Makayasa Ini Dijuluki Jago Perang di Timor Timur karena Selalu Lolos dari Maut]()
Penugasan Letda Agustadi Sasongko Purnomo pertama ke Timor Timur sebagai Danton 2/A/328/17 berlangsung selama satu tahun lebih tiga bulan. Pada 1976, Agustadi pulang dari penugasan di Timor Leste. Selanjutnya, pada 1977 Agustadi mengikuti pendidikan Sus Ajen/Perwira Personel.
Setelah lulus pendidikan, Agustadi diangkat menjadi Pasipers di Batalyon 328. Bersamaan dengan itu, Wakil Kasum TNI Sanif berencana menghidupkan strategi perang Kujang Teritorial (Kuterimbat). Sebelum dibentuk sekolah, maka dibuat "percobaan" terlebih dahulu di Brigif 17.
Saat itu, Agustadi tiba-tiba dipanggil Panglima ABRI Jenderal TNI Faisal Tanjung. "Agustadi, kau jago perang, ya?" mendapat pertanyaan itu, Agustadi hanya diam tersipu-sipu malu. Jenderal Faisal Tanjung kemudian berujar, "Sopir Danyon, Abdullah bilang, kau bujangan, jago perang, kau ikut seleksi komandan Kuterimbat, berangkat ke Timor Timur!" Agustadi menjawab, "Siap".
Sebagai prajurit TNI, penugasan ke medan operasi merupakan sebuah kehormatan yang harus dijalankan. Agustadi kemudian diminta menjadi Wadanki dengan kekuatan personel sebanyak 160 prajurit yang terdiri dari gabungan tiga Batalyon.
Pada apel pagi, Agustadi mengumpulkan seluruh anggota Batalyon 328 kecuali perwira, di lapangan. "Siapa ingin mati bersama saya di Timor Timur?" kata Agustadi. Ternyata hampir semua tunjuk jari, mulai dari Prada sampai tingkat di atasnya.
Berkekuatan 4 tim, di mana masing-masing tim terdiri dari 6 personel, Agustadi berjalan secara pelan-pelan, merangkak dan tiarap kurang lebih 500 meter dalam waktu satu jam mendekati sasaran. Tepat pukul 04.00 WIT, seorang musuh yang sedang berjaga hendak buang air kecil. Dia berjalan kaki menuju Sersan Marman yang tengah bersembunyi.
Saat itu, pulalah tembakan terjadi karena Sersan Marman mau dikencingi. Agustadi yang tidak sempat menyetel senjatanya langsung terlibat pertempuran sengit. Patroli yang dipimpin Agustadi berhasil menyergap pos musuh yang berkekuatan 14 orang dan menewaskannya. Sementara di barisan Agustadi, seorang anggotanya bernama Elus gugur.
Pada saat pembersihan, Agustadi mendapat 3 roket. Sebagian senjata dibakar. Sambil menunggu bantuan, Agustadi menggendong Elus. Saat kehausan, ada seorang penjual "legen" semacam nira dari pohon Aren. Namun Agustadi punya firasat, bila orang ini adalah mata-mata musuh. Ketika digeledah, ternyata penjual tersebut membawa granat. Berkat kesigapannya, nyawa Agustadi pun selamat.
Kepemimpinan, keberanian dan ketajaman firasat Agustadi di medan operasi membawanya pada kemenangan demi kemenangan. Baru seminggu berada di medan perang di Timor Timur, Agustadi dan pasukannya sudah berhasil mendapatkan 11 pucuk senjata.
Pada 22 Desember 1975, gerakan Kompi dilanjutkan ke arah Barat untuk merebut, menduduki dan mempertahankan Kota Manatuto dengan menyusun pemerintahan sementara di kota tersebut. Karena pada pagi hari sudah ada pertempuran maka gerakan pengintaian diubah.
Rencana gerakan berikutnya merebut dan membersihkan Kota Lalea yang diduduki musuh dengan kekuatan 1 Peleton. Setelah melalui proses perkiraan yang cepat, diputuskan akan dilakukan serangan Batalyon dengan serangan pokok di sebelah kiri oleh Kompi C, dan di sebelah kanan dilakukan oleh Kompi B, sedangkan jam "J" pukul 11.00.
Agustadi bergerak dan berada di garis depan. Setelah menyusuri sungai dengan air yang sedang surut, Agustadi dan pasukannya sempat beristirahat di tepi Sungai Lalea. Agustadi kemudian teringat akan pertempuran Normandia yang dilakukan pada siang hari jam 11. Pada jam tersebut musuh menghadap matahari sehingga silau. Pertempuran kembali terjadi, nahas bagi Danton Kompi Senapan (Kipan) C saat melintas Sungai Lalea yang memiliki lebar 500 meter itu gugur tertembak musuh.
Sementara Kipan B berhasil menembus dari sayap kanan sampai masuk kota, puluhan musuh mati tertembak ataupun kena peluru mortir. Dalam perebutan kota Manatuto tidak ada pertempuran di dalam kota, karena lawan telah lari meninggalkan kota dan tidak melakukan perlawanan, sehingga kota Manatuto dapat dikuasai.
Ketika kembali ke Lalea, sekitar jam jam 04.00 pagi, Agustadi bersama anggotanya memergoki 4 orang musuh, di mana sebagian tidur dan sebagian lain sedang makan. Dalam jarak 20 meter mereka terlibat baku tembak. Musuh kocar- kacir dan dapat dikalahkan oleh Agustadi dan pasukannya.

Penugasan Letda Agustadi Sasongko Purnomo pertama ke Timor Timur sebagai Danton 2/A/328/17 berlangsung selama satu tahun lebih tiga bulan. Pada 1976, Agustadi pulang dari penugasan di Timor Leste. Selanjutnya, pada 1977 Agustadi mengikuti pendidikan Sus Ajen/Perwira Personel.
Setelah lulus pendidikan, Agustadi diangkat menjadi Pasipers di Batalyon 328. Bersamaan dengan itu, Wakil Kasum TNI Sanif berencana menghidupkan strategi perang Kujang Teritorial (Kuterimbat). Sebelum dibentuk sekolah, maka dibuat "percobaan" terlebih dahulu di Brigif 17.
Saat itu, Agustadi tiba-tiba dipanggil Panglima ABRI Jenderal TNI Faisal Tanjung. "Agustadi, kau jago perang, ya?" mendapat pertanyaan itu, Agustadi hanya diam tersipu-sipu malu. Jenderal Faisal Tanjung kemudian berujar, "Sopir Danyon, Abdullah bilang, kau bujangan, jago perang, kau ikut seleksi komandan Kuterimbat, berangkat ke Timor Timur!" Agustadi menjawab, "Siap".
Sebagai prajurit TNI, penugasan ke medan operasi merupakan sebuah kehormatan yang harus dijalankan. Agustadi kemudian diminta menjadi Wadanki dengan kekuatan personel sebanyak 160 prajurit yang terdiri dari gabungan tiga Batalyon.
Pada apel pagi, Agustadi mengumpulkan seluruh anggota Batalyon 328 kecuali perwira, di lapangan. "Siapa ingin mati bersama saya di Timor Timur?" kata Agustadi. Ternyata hampir semua tunjuk jari, mulai dari Prada sampai tingkat di atasnya.
Lihat Juga :