Duel Pendiri Bangsa yang Mematikan
Senin, 19 Juni 2023 - 14:09 WIB
loading...
A
A
A
The New Yorker menyebut pertunjukan itu merupakan pencapaian rekonstruksi ulang sejarah dan budaya Amerika Serikat. Kemudian The Wall Street Journal menulis: “'Hamilton' is the most exciting and significant musical of the decade. Sensationally potent and theatrically vital, it is plugged straight into the wall socket of contemporary music. This show makes me feel hopeful for the future of musical theater.” Sedangkan The New York Times berkomentar: “Historic. 'Hamilton' is brewing up a revolution. This is a show that aims impossibly high and hits its target. It's probably not possible to top the adrenaline rush.”
Layaknya sebuah museum, di dalam rumah itu dipaparkan latar belakang sejarah Amerika Serikat dan peran Alexander Hamilton. Kemudian secara bergiliran (per 14 orang dalam satu kelompok) para pengunjung diizinkan oleh petugas di situ untuk naik ke lantai dua. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan daya tahan lantai rumah. Maklum, ini bangunan asli, meski lokasinya tak berada di tempat asalnya. Bangunan ini pernah dipindah sebanyak dua kali dengan cara mengangkat langsung rumah itu secara utuh.
Di lantai dua, ada ruangan belajar dan meja tempat Hamilton menulis. Lalu ada ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Kemudian ada ruang bersantai yang cukup lengang. Meski tidak terlalu luas, tapi terkesan lega dan nyaman. Saya bermaksud naik lagi ke lantai atasnya, tapi tidak diizinkan. Di lantai tiga itu, kata petugas, hanya untuk staf museum bekerja dan dua tempat tidur di sana.
Acara terakhir saya menonton film dokumenter pendek mengenai tokoh ini. Alexander Hamilton lahir di Hindia Barat, Kepulauan Karibia, pada 11 Januari 1757 (ada yang menyebut tahun 1955). Konon ia anak di luar nikah. Pada tahun 1765, ketika Alexander berusia delapan tahun, keluarga itu pindah ke St. Croix, tak jauh dari tempat asalnya. Selama empat tahun berikutnya, Alexander Hamilton dan saudaranya mulai kehilangan satu demi satu kerabatnya. Bibinya meninggal, lalu pamannya, kemudian nenek mereka. Tak cuma itu. Ayahnya meninggalkan keluarga begitu saja alias kabur. Tak lama kemudian ibunya meninggal akibat demam pada 1768, disusul saudaranya yang bunuh diri pada 1769. Jadilah ia remaja yatim piatu.
Hamilton muda bekerja sebagai juru tulis untuk sebuah perusahaan perdagangan. Dia sangat dipercaya oleh atasannya. Bahkan, ketika dia masih berusia empat belas tahun, dia mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab atas keseluruhan bisnis selama beberapa bulan sementara atasannya berada di New York. Hamilton dikenal sebagai remaja yang pintar. Sehingga pada tahun 1772, ketika usianya 17, ia dikirim ke New York untuk belajar di King's College (sekarang University of Columbia) atas sponsor atasannya itu. Di sini pun ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.
Ketika perang pecah pada 1775, ia bergabung dengan kelompok milisi. Pada awal 1776, ia membentuk tentara artileri daerah dan diangkat sebagai kapten. Ia kemudian ditunjuk sebagai pembantu senior George Washington, komandan tertinggi militer Amerika Serikat. Washington mengutusnya dalam berbagai misi penting untuk menyampaikan keinginannya kepada para jenderal di lapangan. Seusai perang, Hamilton terpilih sebagai anggota Kongres Konfederasi dari New York.
Hamilton tidak menyukai pemerintahan pusat (federal) yang lemah. Ia memimpin Konvensi Annapolis yang berhasil meminta Kongres untuk menyelenggarakan Konvensi Philadelphia dalam rangka perumusan undang-undang dasar Amerika yang baru. Ia sangat aktif di Konvensi Philadelphia dan membantu proses ratifikasi dengan menulis sebanyak 51 dari 85 bagian The Federalist Papers, yakni kumpulan dokumen yang sampai sekarang masih dijadikan acuan penafsiran undang-undang dasar Amerika Serikat. Singkatnya, banyak hal telah dilakukannya, termasuk mendirikan Koran The New York Post; dan aneka jabatan pernah diraihnya – misalnya menjadi menteri keuangan pertama.
Layaknya sebuah museum, di dalam rumah itu dipaparkan latar belakang sejarah Amerika Serikat dan peran Alexander Hamilton. Kemudian secara bergiliran (per 14 orang dalam satu kelompok) para pengunjung diizinkan oleh petugas di situ untuk naik ke lantai dua. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan daya tahan lantai rumah. Maklum, ini bangunan asli, meski lokasinya tak berada di tempat asalnya. Bangunan ini pernah dipindah sebanyak dua kali dengan cara mengangkat langsung rumah itu secara utuh.
Di lantai dua, ada ruangan belajar dan meja tempat Hamilton menulis. Lalu ada ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Kemudian ada ruang bersantai yang cukup lengang. Meski tidak terlalu luas, tapi terkesan lega dan nyaman. Saya bermaksud naik lagi ke lantai atasnya, tapi tidak diizinkan. Di lantai tiga itu, kata petugas, hanya untuk staf museum bekerja dan dua tempat tidur di sana.
Acara terakhir saya menonton film dokumenter pendek mengenai tokoh ini. Alexander Hamilton lahir di Hindia Barat, Kepulauan Karibia, pada 11 Januari 1757 (ada yang menyebut tahun 1955). Konon ia anak di luar nikah. Pada tahun 1765, ketika Alexander berusia delapan tahun, keluarga itu pindah ke St. Croix, tak jauh dari tempat asalnya. Selama empat tahun berikutnya, Alexander Hamilton dan saudaranya mulai kehilangan satu demi satu kerabatnya. Bibinya meninggal, lalu pamannya, kemudian nenek mereka. Tak cuma itu. Ayahnya meninggalkan keluarga begitu saja alias kabur. Tak lama kemudian ibunya meninggal akibat demam pada 1768, disusul saudaranya yang bunuh diri pada 1769. Jadilah ia remaja yatim piatu.
Hamilton muda bekerja sebagai juru tulis untuk sebuah perusahaan perdagangan. Dia sangat dipercaya oleh atasannya. Bahkan, ketika dia masih berusia empat belas tahun, dia mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab atas keseluruhan bisnis selama beberapa bulan sementara atasannya berada di New York. Hamilton dikenal sebagai remaja yang pintar. Sehingga pada tahun 1772, ketika usianya 17, ia dikirim ke New York untuk belajar di King's College (sekarang University of Columbia) atas sponsor atasannya itu. Di sini pun ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.
Ketika perang pecah pada 1775, ia bergabung dengan kelompok milisi. Pada awal 1776, ia membentuk tentara artileri daerah dan diangkat sebagai kapten. Ia kemudian ditunjuk sebagai pembantu senior George Washington, komandan tertinggi militer Amerika Serikat. Washington mengutusnya dalam berbagai misi penting untuk menyampaikan keinginannya kepada para jenderal di lapangan. Seusai perang, Hamilton terpilih sebagai anggota Kongres Konfederasi dari New York.
Hamilton tidak menyukai pemerintahan pusat (federal) yang lemah. Ia memimpin Konvensi Annapolis yang berhasil meminta Kongres untuk menyelenggarakan Konvensi Philadelphia dalam rangka perumusan undang-undang dasar Amerika yang baru. Ia sangat aktif di Konvensi Philadelphia dan membantu proses ratifikasi dengan menulis sebanyak 51 dari 85 bagian The Federalist Papers, yakni kumpulan dokumen yang sampai sekarang masih dijadikan acuan penafsiran undang-undang dasar Amerika Serikat. Singkatnya, banyak hal telah dilakukannya, termasuk mendirikan Koran The New York Post; dan aneka jabatan pernah diraihnya – misalnya menjadi menteri keuangan pertama.
Lihat Juga :