Sains, Corona, dan Agama

Rabu, 29 April 2020 - 12:31 WIB
loading...
Sains, Corona, dan Agama
Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Moderate Muslim Institute, UIN Sunan Ampel Surabaya. Foto/Dok. Pribadi
A A A
Ahmad Zainul Hamdi
Direktur Moderate Muslim Institute
UIN Sunan Ampel Surabaya

PERSIS seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan, upaya penghentian pandemi Covid-19 oleh pemerintah bisa terganggu dengan datangnya bulan Ramadhan. Kekhawatiran ini sama sekali bukan sebentuk Islamophobia, tapi karena tradisi Ramadhan di Indonesia dipenuhi dengan berbagai ritual komunal, mulai buka bersama, jamaah tarawih, tadarrus, pengajian, hingga salat Idul Fitri.

Sekalipun semua ritual ini bukan kategori kewajiban agama, namun keistimewaan Ramadhan bagi umat Islam telah mendorong seluruh ritual ini beraura “kewajiban” agama. Di mana partisipasi umat tergolong sangat tinggi.

Jika kita mengamati di banyak tempat, kekhawatiran ini agaknya cukup beralasan. Misalnya, banyak masjid yang masih menyelenggarakan ibadah jamaah shalat tarawih seakan kita tidak sedang berada di tengah wabah.

Bahkan, sebuah video viral di mana para jamaah shalat tarawih berlompatan menghindari protokol pencegahan penyebaran Coronavirus. Penjagaan aparat seakan aparat merintangi umat Islam yang hendak beribadah.

Sebegitu mengkhawatirkan situasi ini hingga Menkopolhukam, Mahfud MD, membuat pernyataan bahwa pihak-pihak yang masih ngotot menyelenggarakan jamaah shalat tarawih bisa diberi sanksi karena bisa dianggap melawan keputusan pemerintah.

Bahkan menteri yang juga mumpuni dalam ilmu agama ini menjelaskan pernyataannya itu dengan argumen agama bahwa dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan itu lebih didahulukan/diutamakan daripada mengambil kebaikan). Apalagi, jika kemaslahatan atau kebaikan itu bukan kategori kewajiban agama seperti jama’ah shalat tarawih.

Di samping ‘ekonomi’, mungkin ‘agama’ adalah kata yang paling banyak disebut dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Jika ekonomi menawarkan cara untuk mendapatkan kemakmuran di dunia, agama menawarkan keselamatan di dunia dan akhirat. Tidak seperti ilmu ekonomi di mana cara kemakmuran yang ditawarkannya boleh disanggah dan ditantang, jalan keselamatan yang ditawarkan agama selalu disegel dengan klaim kebenaran absolut.

Tapi justru karena inilah agama seringkali problematik. Dari mata air agama, kita menemukan pesan-pesan damai, tapi dari jantung agama pula kita menemukan berbagai konflik kekerasan yang berdarah-darah. Keduanya mengklaim sebagai jalan keselamatan. Agama adalah pedang bermata dua.

Saat wabah, ketika manusia dihantui kematian yang bisa datang kapan saja, agama yang mendaku sebagai jalan keselamatan itu mau tak mau dicari-cari pemeluknya untuk membuktikan janjinya. Sayangnya, dalam sejarah wabah, yang datang untuk menyelamatkan manusia dari kepunahan adalah sains.

Sains yang lahir dari rasio manusia tak pernah mengklaim kebenaan absolut. Dia hanya menjelaskan mengapa sesuatu terjadi. Mungkin penjelasannya salah, tapi dia mencari penyebab yang ada di bumi. Penyebab yang ada di langit yang seringkali keluar dari lisan para agamawan tak pernah bisa dimasukkan ke dalam tabung-tabung laboratorium untuk diperiksa.

Saat Wabah Hitam (Black Death) membunuh seperempat hingga setengah penduduk Eropa pada abad ke-14, misalnya, para agamawan nyaris kehilangan reputasinya karena doa-doanya tak bisa menjaga umatnya dari serbuan wabah. Mereka juga tumbang oleh bakteri yang menginfeksi kutu tikus-tikus yang ngendon di geladak kapal-kapal yang berlayar dari Asia ke Eropa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Meraih Hak Pemajakan...
Meraih Hak Pemajakan Indonesia melalui Implementasi PPh Digital Asing yang Sederhana
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
Rekomendasi
BMW Umumkan M3 Elektrik...
BMW Umumkan M3 Elektrik Tetap Gunakan Nama M3, Bukan iM3
Pastikan MPLS 2026 Aman...
Pastikan MPLS 2026 Aman untuk Murid Baru, Wamendikdasmen: Sekolah Harus Jadi Rumah Kedua
IRGC Tegaskan Selat...
IRGC Tegaskan Selat Hormuz akan Tetap Tertutup sampai Kejahatan AS Berakhir
Berita Terkini
Kapolri Utamakan Stabilitas...
Kapolri Utamakan Stabilitas Negara, Haidar: Penegakan Hukum Tak Boleh Picu Rivalitas
Menhut Dinilai Punya...
Menhut Dinilai Punya Peran Sentral dalam Menjaga Kredibilitas Karbon Hutan
Sidang Banding Nadiem...
Sidang Banding Nadiem Makarim Digelar 5 Agustus 2026
Menaker: Pemerintah...
Menaker: Pemerintah Komitmen Cegah PHK dengan Berbagai Program Nyata
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia...
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia usai Pelantikan oleh Kapolri Juli 2026, Ini Nama-namanya
Korban Penipuan Haji...
Korban Penipuan Haji Ilegal Capai 3.550 Orang, DPR Desak Kemenhaj Perkuat Pengawasan
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved