Penjelasan UI Terkait Thermometer Gun Dianggap Membahayakan Otak
Selasa, 21 Juli 2020 - 12:48 WIB
loading...
A
A
A
Apakah laser tersebut berbahaya untuk otak manusia?
Sama halnya dengan laser pointer, laser ini tidak ada efek berbahaya untuk otak, tapi jangan sampai menembak ke mata secara langsung karena dapat merusak retina. Yang jelas, penggunaan thermogun industri untuk mendeteksi temperatur tubuh manusia tidak tepat karena bukan peruntukannya.
Sebagai kesimpulan, alat thermogun untuk skrining temperatur seseorang bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari benda, bukan dengan memancarkan radiasi apalagi laser.
Sebagai alat pengukur suhu sebagai indikator kesehatan, thermogun direkomendasikan untuk dikalibrasi minimal 1 tahun sekali. Kalibrasi diperlukan agar skrining suhu terjaga akurasinya karena informasi yang salah bisa membuat gagal skrining suhu (positif palsu dan negatif palsu) sehingga membahayakan banyak orang.
Pengukuran temperatur tubuh dengan thermogun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita Covid-19 atau tidak, karena pasien Covid-19 bisa muncul tanpa gejala demam. Kami berharap penggunaan thermogun secara luas di tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik disertai dengan SOP yang jelas.
Sementara itu Dekan Fakultas Kedokteran UI Prof Ari Fachrial Syam mengutarakan, salah satu faktor penyebab sulitnya penanganan Covid-19 di Indonesia adalah banyaknya hoaks beredar seputar Covid-19 di tengah masyarakat.
Prof Ari Fachrial menegaskan bahwa thermogun itu sudah lolos uji kesehatan jadi sudah diperhitungkan bahwa alat itu aman. "Thermometer inframerah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X dan, karena itu, tidak mempengaruhi sistem saraf termasuk juga tidak merusak retina," ujar Akademisi dan Praktisi Klinik itu.
Sama halnya dengan laser pointer, laser ini tidak ada efek berbahaya untuk otak, tapi jangan sampai menembak ke mata secara langsung karena dapat merusak retina. Yang jelas, penggunaan thermogun industri untuk mendeteksi temperatur tubuh manusia tidak tepat karena bukan peruntukannya.
Sebagai kesimpulan, alat thermogun untuk skrining temperatur seseorang bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari benda, bukan dengan memancarkan radiasi apalagi laser.
Sebagai alat pengukur suhu sebagai indikator kesehatan, thermogun direkomendasikan untuk dikalibrasi minimal 1 tahun sekali. Kalibrasi diperlukan agar skrining suhu terjaga akurasinya karena informasi yang salah bisa membuat gagal skrining suhu (positif palsu dan negatif palsu) sehingga membahayakan banyak orang.
Pengukuran temperatur tubuh dengan thermogun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita Covid-19 atau tidak, karena pasien Covid-19 bisa muncul tanpa gejala demam. Kami berharap penggunaan thermogun secara luas di tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik disertai dengan SOP yang jelas.
Sementara itu Dekan Fakultas Kedokteran UI Prof Ari Fachrial Syam mengutarakan, salah satu faktor penyebab sulitnya penanganan Covid-19 di Indonesia adalah banyaknya hoaks beredar seputar Covid-19 di tengah masyarakat.
Prof Ari Fachrial menegaskan bahwa thermogun itu sudah lolos uji kesehatan jadi sudah diperhitungkan bahwa alat itu aman. "Thermometer inframerah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X dan, karena itu, tidak mempengaruhi sistem saraf termasuk juga tidak merusak retina," ujar Akademisi dan Praktisi Klinik itu.
(maf)
Lihat Juga :