Reposisi Alquran dalam Kehidupan
Senin, 10 April 2023 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
Tulisan dan cetakan teks Alquran begitu juga tafsirnya terus melonjak, tapi pemahaman dan pengamalan Alquran makin kering dan dangkal karena tidak sampai pada substansinya.
Alquran , mulai dari tulisan, bacaan, dan maknanya yang berlapis-lapis semuanya memang berguna. Ketika Alquran dikaji oleh ahli Matematika, lahirlah Matematika Alquran . Ketika yang mengkaji pakar Psikologi, muncullah Psikologi Alquran . Begitu seterusnya ada Sosiologi Alquran , Antropologi Alquran , dan lain-lain.
Berita lainnyasilakan kunjungi www.koran-sindo.com
Tapi semua kajian itu tidak sampai pada substansi karena si pengkaji memosisikan dirinya sebagai Subjek dan Alquran menjadi objeknya. Karena itulah penulis menawarkan pendekatan sebaliknya. Yaitu, mereposisi Alquran sebagai Subjek dan manusia sebagai objeknya. Alquran hendak berbicara pada manusia guna memberikan petunjuk (huda), memisahkan kebenaran dan kebatilan (al-furqan), mengobati penyakit hati (syifa’), dan sebagai nasihat (mauizah). Inilah misi sekaligus substansi Alquran .
Menempatkan diri sebagai objek Alquran berarti membiarkan ia berbicara pada hati, seolah kita mendengarnya langsung dari lisan Nabi Muhammad. Proses ini akan efektif jika didahului dengan penyucian diri (tazkiah an-nafs) dari berbagai barrier yang menyelimuti hati, berupa sifat-sifat negatif. Dan metode penyucian diri terbaik adalah puasa. Barangkali inilah hikmahnya kenapa Alquran turun di bulan Ramadan.
Tanpa hati yang terbuka dan bersih, rasanya sulit untuk menangkap petunjuk Alquran. Karena seperti disebutkan dalam QS Al-‘Ankabut ayat 49, “Sebenarnya, (Alquran) itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.”
Mari kita posisikan kembali Alquran sebagai Subjek, biarkan ia berbicara, menunjuki, dan men-drive hati kita untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
Alquran , mulai dari tulisan, bacaan, dan maknanya yang berlapis-lapis semuanya memang berguna. Ketika Alquran dikaji oleh ahli Matematika, lahirlah Matematika Alquran . Ketika yang mengkaji pakar Psikologi, muncullah Psikologi Alquran . Begitu seterusnya ada Sosiologi Alquran , Antropologi Alquran , dan lain-lain.
Berita lainnyasilakan kunjungi www.koran-sindo.com
Tapi semua kajian itu tidak sampai pada substansi karena si pengkaji memosisikan dirinya sebagai Subjek dan Alquran menjadi objeknya. Karena itulah penulis menawarkan pendekatan sebaliknya. Yaitu, mereposisi Alquran sebagai Subjek dan manusia sebagai objeknya. Alquran hendak berbicara pada manusia guna memberikan petunjuk (huda), memisahkan kebenaran dan kebatilan (al-furqan), mengobati penyakit hati (syifa’), dan sebagai nasihat (mauizah). Inilah misi sekaligus substansi Alquran .
Menempatkan diri sebagai objek Alquran berarti membiarkan ia berbicara pada hati, seolah kita mendengarnya langsung dari lisan Nabi Muhammad. Proses ini akan efektif jika didahului dengan penyucian diri (tazkiah an-nafs) dari berbagai barrier yang menyelimuti hati, berupa sifat-sifat negatif. Dan metode penyucian diri terbaik adalah puasa. Barangkali inilah hikmahnya kenapa Alquran turun di bulan Ramadan.
Tanpa hati yang terbuka dan bersih, rasanya sulit untuk menangkap petunjuk Alquran. Karena seperti disebutkan dalam QS Al-‘Ankabut ayat 49, “Sebenarnya, (Alquran) itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.”
Mari kita posisikan kembali Alquran sebagai Subjek, biarkan ia berbicara, menunjuki, dan men-drive hati kita untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
(ynt)
Lihat Juga :