Berjeda Cerita

Rabu, 01 Maret 2023 - 08:37 WIB
loading...
A A A
Mereka tak bernafsu menjadi pengarang tapi gandrung sastra. Mereka bertemu gara-gara bahasa Inggris. Di Pare, pertemuan dan percakapan tak mau sia-sia. Mereka sadar sebagai pembaca buku-buku sastra. Janji kecil diadakan agar pertemuan itu langgeng. Mereka pun menulis cerita-cerita.

Mereka mendatangi kita dengan cerita-cerita sederhana. Kita mulai mengutip cerita berjudul “Bermesraan” gubahan Nayla Fitri. Ia mengisahkan perempuan dalam sibuk dan “kutukan” kota. Kita mudah menduga nasib perempuan bekerja dan dilelahkan oleh kota. Nayla Fitri berusaha menghindari klise dengan mengulang kalimat: “Kapan terakhir kali bermesraan?” Kita tak boleh sembarangan menebak itu urusan asmara.

Nayla Fitri menulis: “Kota pun menjadi oksigen baru bagi gadis itu… Oksigen yang menjadikan uang dan karir sebagai senyawa utama dalam hidupnya.” Ia menantang ketetapan publik bahwa kota itu tempat pesta polusi. Oksigen terlalu diimpikan di kota. Di ujung, ia mengelak bermesraan itu asmara lelaki-perempuan. Nayla Fitri agak berhasil mengecoh dengan kerinduan: “Bermesraan dengan alam, berbincang dengan angin, mendengarkan kikik jangkrik.” Cerita mengenai perbedaan kota dan desa. Kita mudah mengerti.

Kita berpindah ke cerita berjudul “Turun Tanah” gubahan Indi Irawan. Ia menggunakan latar desa. Keluarga sederhana dan anjing. kebersamaan dalam keseharian berubah dengan kematian anjing. Kita justru tergoda menikmati kejadian wajar di desa.

Indi Irawan mengisahkan: “Emak masih dengan lesung di dapur menyiapkan bumbu tumis pakis sambil melirik tanakan nasi di tungku yang berada di hadapannya. Hari ini, aku, ayah, dan Blaki, anjing hitam kami, akan ke kebun menunaikan ibadah yang telah lama dinanti. Berbekal nasi dan sayur pakis kami berangkat. Semak kami babat untuk merintis jalan. Saat itu langit masih kelam dan ayah telah berada di pucuk pohon pete.”

Penceritaan panen pete itu “menaruh” pembaca ke kebun hijau dan menakjubkan. Kita terbiasa bersantap nasi dengan pete bakal mendapat kesan-kesan pengalaman saat ikut “memandang” bapak memanen pete. Tokoh “aku” dan anjing di bawah menjadi penangkap pete. Kejadian itu diharapkan sukacita. Kita tak sedang dimanjakan dengan kelezatan pete tapi hubungan tokoh aku dan anjing. Pada suatu hari, anjing itu dikubur di tanah, tak lagi bersama untuk panen pete. Indi Irawan tak tergesa membuat pembaca dirundung haru.

Dua cerita sederhana itu disusul cerita agak kontemplatif gubahan Uun Nurcahyanti berjudul “Kediaman”. Ia mengurusi waktu dengan kalimat-kalimat dimuat dalam buku cuma dua halaman. Pertimbangan “singkat” dan “padat” menjadikan pembuatan kalimat lumrah puitis. Cerita memerlukan pembacaan lambat. Uun Nurcahyanti menulis: “Januari berdiam di tempatnya, lanjutku, manusialah yang mengangkat dan mengangkut peristiwa.”

Ia memasalahkan manusia dan waktu. Pembahasan atas waktu biasa dengan nama-nama bulan, selain nama-nama hari. Waktu itu berurutan. Uun Nurcahyanti mencoba menjadikan waktu “kepemilikan” tanpa kepastian waktu terus berlalu. Kalimat terakhir: “Pelan, kumasuki Februari yang telah dhuha seraya menggenggam Januari semakin erat.”

Kita mendapat cerita ingin menguatkan penokohan terdapat dalam gubahan Rena Yanita. Ia masih coba-coba dalam bercerita tapi tampak ingin mementingkan penokohan. Kita membaca cerita berjudul “Sisir dan Keintelektualan”. Rena memilih cepat mendefinisikan tokoh tanpa rentetan gejolak dan peristiwa.

Kita dikenalkan dengan tokoh: “Dia bukan lelaki berbuku dan bersepatu. Dia laki-laki yang berpeluh dengan matahari dan hujan. Laki-laki yang hanya punya satu hobi: bekerja. Saat berkenalan denganku, dia bilang, hidupnya jadi bergairah dan berwarna. Cerita yang kusuguhkan menjadi minuman segar. Aku bangga, tak banyak laki-laki yang bisa menghargai wanita banyak kata.” Perkenalan singkat berharap pembaca gampang mengenali lelaki dan perempuan dalam cerita. Kecerewetan tak diperlukan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Bukan Motivasi Kosong,...
Bukan Motivasi Kosong, Positivo Theory Jadi Panduan Nyata Anak Muda Bangun Masa Depan
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
Prosumenesia: Era Baru...
Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Cukup Baca 4 Buku Setahun,...
Cukup Baca 4 Buku Setahun, Risiko Stres dan Depresi Bisa Turun Signifikan
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
Rekomendasi
Arie Untung Dorong Sepatu...
Arie Untung Dorong Sepatu Lokal Naik Kelas, Hadir di Mal Bekasi
Emak-emak Kian Banyak...
Emak-emak Kian Banyak Bergabung, DPD Partai Perindo Kota Palu Perkuat Struktur hingga Akar Rumput
Piala Dunia 2026 Ternoda,...
Piala Dunia 2026 Ternoda, Tim Mesir Keluhkan Aksi Polisi Dallas
Berita Terkini
Menhut: Presiden Minta...
Menhut: Presiden Minta Kemenhut Bangun Tata Kelola Kehutanan Antikorupsi
Pertajam DIM RUU Pemilu,...
Pertajam DIM RUU Pemilu, DPR Buka Peluang Kunjungi NU, Muhammadiyah, hingga Walubi
Raksasa (yang) Tak Lagi...
Raksasa (yang) Tak Lagi Menakutkan
Roy Suryo Kembali Ajukan...
Roy Suryo Kembali Ajukan Gugatan Praperadilan, Polda Metro Jaya: Tidak Apa-apa
Transisi Energi, Prabowo...
Transisi Energi, Prabowo Akan Luncurkan BBM B50 pada 9 Juli 2026
AHY Serahkan Penentuan...
AHY Serahkan Penentuan Logo HUT ke-25 Partai Demokrat ke Publik, Ini Alasannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved