Paradoks Mobile First Culture
Kamis, 16 Juli 2020 - 12:28 WIB
loading...
A
A
A
Yang jelas, ketika kini ketergantungan manusia makin tinggi pada perangkat mobile, Insight for Brand, Google 2019, memperbaiki pembacaannya: penduduk Indonesia bukan lagi pelaku mobile first culture, namun bergeser jadi pelaku mobile only culture. Sebuah budaya yang menjadikan perangkat mobile sebagai pilihan utama aktivitas kehidupan, nyaris tanpa alternatif.
Bahagiakah manusia dengan migrasinya dari ruang hidup analog ke digital ? Dalam What to Do When Machine Do Everyithing, Malcolm Frank, Paul Roehrig dan Ben Pring, 2017, menyebut teknologi hadir di tengah kehidupan manusia dengan 3 sifat. Pertama ubipresent.
Ia hadir di mana mana. Mulai bangun tidur, jalani ritual pagi, aktivitas pendidikan maupun kerja, sampai tidur lagi, ada teknologi yang mengiringi. Kegiatan menyeduh kopi pagi, ada coffee machine-nya yang dapat menyediakan kopi ala kafe. Kebutuhan berita disediakan agregator berita yang dapat diakses di smartphone.
Pengaturan suhu ruangan dilakukan oleh teknologi AC terkini. Hingga menjalankan hobby, tersedia konsol yang makin mampu membaca algoritma pemakainya. Semua ada teknologinya. Sifat ubipresent teknologi karena mampu melayani aneka kebutuhan, lalu disambut sebagai harapan baru yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Maka pada tahap kedua, manusia menerima teknologi dengan tangan terbuka, welcome.
Sayangnya, keterbukaan tangan manusia menerima teknologi tak selalu disertai kesadaran atas dampak, di luar kegunaannya. Ini adalah sifat ketiga yang diuraikan Frank, Roehrig dan Pring. Banyak aplikasi mobile yang ditawarkan secara massif, penuh variasi dan tak jarang bebas biaya, diikuti dengan konsekuensi yang tersembunyi sebagai syarat dan ketentuan adopsinya.
Celakanya, konsekuensi itu dapat mengubah hidup penggunannya dari tingkat mikro hingga makro di komunitas. Calon pengguna teknologi hanya berfokus pada kenikmatan yang dijanjikan. Hal-hal yang jadi dampak, sekaligus sumber keuntungan pengembang teknologi, diabaikan.
Bahagiakah manusia dengan migrasinya dari ruang hidup analog ke digital ? Dalam What to Do When Machine Do Everyithing, Malcolm Frank, Paul Roehrig dan Ben Pring, 2017, menyebut teknologi hadir di tengah kehidupan manusia dengan 3 sifat. Pertama ubipresent.
Ia hadir di mana mana. Mulai bangun tidur, jalani ritual pagi, aktivitas pendidikan maupun kerja, sampai tidur lagi, ada teknologi yang mengiringi. Kegiatan menyeduh kopi pagi, ada coffee machine-nya yang dapat menyediakan kopi ala kafe. Kebutuhan berita disediakan agregator berita yang dapat diakses di smartphone.
Pengaturan suhu ruangan dilakukan oleh teknologi AC terkini. Hingga menjalankan hobby, tersedia konsol yang makin mampu membaca algoritma pemakainya. Semua ada teknologinya. Sifat ubipresent teknologi karena mampu melayani aneka kebutuhan, lalu disambut sebagai harapan baru yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Maka pada tahap kedua, manusia menerima teknologi dengan tangan terbuka, welcome.
Sayangnya, keterbukaan tangan manusia menerima teknologi tak selalu disertai kesadaran atas dampak, di luar kegunaannya. Ini adalah sifat ketiga yang diuraikan Frank, Roehrig dan Pring. Banyak aplikasi mobile yang ditawarkan secara massif, penuh variasi dan tak jarang bebas biaya, diikuti dengan konsekuensi yang tersembunyi sebagai syarat dan ketentuan adopsinya.
Celakanya, konsekuensi itu dapat mengubah hidup penggunannya dari tingkat mikro hingga makro di komunitas. Calon pengguna teknologi hanya berfokus pada kenikmatan yang dijanjikan. Hal-hal yang jadi dampak, sekaligus sumber keuntungan pengembang teknologi, diabaikan.
Lihat Juga :