Paradoks Mobile First Culture
Kamis, 16 Juli 2020 - 12:28 WIB
loading...
A
A
A
Apakah ketaksadaran calon penggunakan teknologi merupakan bentuk kecurangan sistematis yang dilakukan pengembang teknologi apapun ? Secara etis tentunya para pengembang teknologi berupaya bertindak transparan, tak menjebak, menipu, mengelabui calon penggunanya. Namun saat calon penggunanya terbuai pada kenikmatan yang ditawarkan, konsekuensi kerugian jangka panjang kerap diabaikan.
Hal lain yang turut menyumbang relasi yang tak menguntungkan pengguna, berupa rendahnya literasi teknologi. Ini menyebabkan tak dikenalinya dampak kerugian jangka panjang teknologi, berupa penggunaan data pribadi, analisis pola interaksi, pentemaan posting foto, hingga algoritma yang dapat memprediksi perilaku.
Maka yang harus jadi pertimbangan bagi tiap adopter, adanya sisi transaksional dari teknologi. “Tak ada makan siang gratis”. Para pengguna diuntungkan oleh aplikasi yang tampak gratis, namun informasi pribadinya terancam dimanfaatkan pengembang teknologi.
Teknologi hadir disambut, bersamaan tergadainya privasi. Ini sisi yang wajib dipahami. Tak mungkin pengembangan teknologi berjalan tanpa biaya. Ada kebutuhan riset, tenaga kerja, pemasaran, yang untuk semua itu harus ada yang menanggung. Kalau bukan biaya dalam bentuk uang, ya bentuk lain yang mengkompensasinya. Sehingga untuk menghindarkan transaksi yang merugikan, ya tolak ketika relasi terjadi tak setara. Pengenalan terhadap risiko adopsi mutlak dikenali.
Lagi pula, hubungan pengembang dan calon pengguna teknologi saling bebas. Maka, pada mobile only culture maupun groundswell yang telah dihayati manusia seraya dijadikan sebagai harapan hidup baru, namun konsekuensinya tak dipahami ada paradoks yang nyata. Ini akibat, tak jarang akibat modus memperoleh keuntungan yang hendak ditangguk pengembang taknologi, tak selalu tampak nyata dan segera dikenali. Hadir samar, namun fatal di tahap berikutnya. Sebuah ganjaran yang tak pernah setara.
Hal lain yang turut menyumbang relasi yang tak menguntungkan pengguna, berupa rendahnya literasi teknologi. Ini menyebabkan tak dikenalinya dampak kerugian jangka panjang teknologi, berupa penggunaan data pribadi, analisis pola interaksi, pentemaan posting foto, hingga algoritma yang dapat memprediksi perilaku.
Maka yang harus jadi pertimbangan bagi tiap adopter, adanya sisi transaksional dari teknologi. “Tak ada makan siang gratis”. Para pengguna diuntungkan oleh aplikasi yang tampak gratis, namun informasi pribadinya terancam dimanfaatkan pengembang teknologi.
Teknologi hadir disambut, bersamaan tergadainya privasi. Ini sisi yang wajib dipahami. Tak mungkin pengembangan teknologi berjalan tanpa biaya. Ada kebutuhan riset, tenaga kerja, pemasaran, yang untuk semua itu harus ada yang menanggung. Kalau bukan biaya dalam bentuk uang, ya bentuk lain yang mengkompensasinya. Sehingga untuk menghindarkan transaksi yang merugikan, ya tolak ketika relasi terjadi tak setara. Pengenalan terhadap risiko adopsi mutlak dikenali.
Lagi pula, hubungan pengembang dan calon pengguna teknologi saling bebas. Maka, pada mobile only culture maupun groundswell yang telah dihayati manusia seraya dijadikan sebagai harapan hidup baru, namun konsekuensinya tak dipahami ada paradoks yang nyata. Ini akibat, tak jarang akibat modus memperoleh keuntungan yang hendak ditangguk pengembang taknologi, tak selalu tampak nyata dan segera dikenali. Hadir samar, namun fatal di tahap berikutnya. Sebuah ganjaran yang tak pernah setara.
(dam)
Lihat Juga :