Akusisi Drone Turki dan Program Elang Hitam
Senin, 20 Februari 2023 - 08:49 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konteks lebih spesifik, ToT tersebut menjadi solusi untuk menambal kekurangan yang dimiliki anak bangsa dalam proses pembuatan drone Elang Hitam,yang belakangan dialihkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk tujuan sipil. Dengan demikian, proyek Elang Hitam bisa kembali ke tujuan awal, seperti tercantum dalam Perpres Nomor 109 tahun 2020 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Strategis Nasional.
Bila Elang Hitam terkendala teknologi kunci karena semua negara membatasi transfer teknologi kunci terkait militer seperti Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, maka kerjasama dengan Turki ini bisa menjembatani untuk mengatasi persoalan tersebut.Atau paling tidak menjadi momentum merayu Turki agar bersedia menjual teknologi dimaksud kepada Indonesia. Toh, tidak semua harus dibuat di dalam negeri atau pelan-pelan dibuat dalam negeri setelah mampu menguasai teknologinya.
Hal ini juga dilakukan Turki pada fase awal menguasai teknologi drone, dengan membeli mesin Rotax, modul kamera elektro-optik (EO ) dan kamera inframerah (IR) yang ternyata produk dari Kanada. Fakta ini mengemuka setelah Kanada mengumumkan embargo alutsista ke Turki.
BRIN, PT DI, maupun otoritas terkait tentu harus bisa belajar dari perjalanan Turki dari awal membangun program drone tempur hingga kini menjadi negara produsen terkemuka.
Pelajarannya adalah semangat pantang menyerah, melakukan segala cara untuk bisa membuat drone tempur, dan melakukan learning procces hingga bisa menguasai teknologinya. Bukan malah melemahkan program drone militer yang sangat strategis dengan berbagai alasan.
Dengan adanya kerjasama dengan Turki,tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk tidak meneruskan program Elang Hitam untuk keperluan militer. Apalagi Tubitak SAGE - lembaga riset Turki, sudah menawarkan sistem senjata yang bisa disemakatkan pada Elang Hitam.
Bila Elang Hitam terkendala teknologi kunci karena semua negara membatasi transfer teknologi kunci terkait militer seperti Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, maka kerjasama dengan Turki ini bisa menjembatani untuk mengatasi persoalan tersebut.Atau paling tidak menjadi momentum merayu Turki agar bersedia menjual teknologi dimaksud kepada Indonesia. Toh, tidak semua harus dibuat di dalam negeri atau pelan-pelan dibuat dalam negeri setelah mampu menguasai teknologinya.
Hal ini juga dilakukan Turki pada fase awal menguasai teknologi drone, dengan membeli mesin Rotax, modul kamera elektro-optik (EO ) dan kamera inframerah (IR) yang ternyata produk dari Kanada. Fakta ini mengemuka setelah Kanada mengumumkan embargo alutsista ke Turki.
BRIN, PT DI, maupun otoritas terkait tentu harus bisa belajar dari perjalanan Turki dari awal membangun program drone tempur hingga kini menjadi negara produsen terkemuka.
Pelajarannya adalah semangat pantang menyerah, melakukan segala cara untuk bisa membuat drone tempur, dan melakukan learning procces hingga bisa menguasai teknologinya. Bukan malah melemahkan program drone militer yang sangat strategis dengan berbagai alasan.
Dengan adanya kerjasama dengan Turki,tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk tidak meneruskan program Elang Hitam untuk keperluan militer. Apalagi Tubitak SAGE - lembaga riset Turki, sudah menawarkan sistem senjata yang bisa disemakatkan pada Elang Hitam.
(ynt)
Lihat Juga :