Jadi Ketua ASEAN, Indonesia Gunakan 3 Pendekatan untuk Atasi Masalah di Myanmar

Sabtu, 04 Februari 2023 - 01:07 WIB
loading...
Jadi Ketua ASEAN, Indonesia Gunakan 3 Pendekatan untuk Atasi Masalah di Myanmar
Menlu RI Retno Marsudi mengatakan, Indonesia akan menerapkan tiga pendekatan dalam mengatasi permasalahan di Myanmar. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Sebagai Ketua ASEAN, Indonesia akan menerapkan tiga pendekatan dalam mengatasi masalah di negara Myanmar. Hal itu dinilai efektif mengingat konflik di negara ASEAN tersebut hingga kini belum selesai.

Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi kepada para menteri luar negeri ASEAN hadir dalam serangkaian pertemuan The ASEAN Foreign Ministers' (AMM) Retreat di Sekretariat ASEAN, Jakarta, 3-4, Februari 2023.

Acara diawali dengan working lunch yang dedikasikan untuk membahas masalah Myanmar secara terbuka, mendalam, dan terus terang sebagai satu keluarga ASEAN. Sebagai Ketua ASEAN 2023, Menlu pun mengatakan Indonesia terus berpegang teguh pada penerapan Five Point of Consensus atau dikenal dengan (5PC).



Diketahui 5PC telah disepakati Jenderal Min Aung Hlaing pada April 2021 lalu. Konsensus 5 poin itu pun juga telah disepakati oleh para pemimpin ASEAN, termasuk perwakilan Myanmar.

"Saya menjelaskan pendekatan Indonesia ke Myanmar sebagai Ketua (ASEAN). Untuk Indonesia, 5PC adalah referensi utama untuk mengatasi krisis Myanmar,"kata Menlu dalam konferensi pers di Sekretariat ASEAN, Jumat (3/2/2023).



Dalam hal ini, Indonesia kata Menlu Retno juga akan melakukan tiga pendekatan untuk membantu krisis Myanmar. Pertama, Indonesia akan melibatkan semua pemangku kepentingan sebagai langkah pertama untuk memfasilitasi kemungkinan dialog nasional yang inklusif. "Saya juga membagikan keterlibatan awal saya kepada semua pemangku kepentingan,"katanya.

Kedua, Indonesia membangun kondisi kondusif untuk membuka jalan bagi dialog yang inklusif. Setidaknya ada dua isu penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif.

"Pertama adalah mengurangi tingkat kekerasan dan melanjutkan bantuan kemanusiaan. Kedua, kondisi ini sangat penting untuk membangun kepercayaan publik (trust) dan kepercayaan (confidence),"ujarnya.
Halaman :
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3193 seconds (11.97#12.26)