Tantangan Koperasi di Tengah Pandemi
Senin, 13 Juli 2020 - 06:43 WIB
Selain digitalisasi koperasi, likuiditas, dan inovasi produk, tantangan koperasi agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah kemampuan SDM pengurus. Digitalisasi koperasi tentu saja membutuhkan SDM yang menguasai IT dan telekomunikasi. Sama halnya dengan menjaga likuiditas, juga membutuhkan ahli akuntansi. Inovasi produk juga membutuhkan SDM yang menguasai marketing, packaging, dan branding. Oleh karena itu, koperasi perlu melakukan "upgrade " kemampuan SDM yang menguasai berbagai hal.
Peningkatan SDM tentu bukan hal mudah. Upaya tersebut perlu intervensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan dan pembinaan semua koperasi yang berada dalam binaannya. Diperlukan sinergisitas program antara Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan berbagai stakeholder lainnya.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa sejarah krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 membuktikan bahwa koperasi melalui kiprahnya dapat menjadi "pahlawan ekonomi". Hal itu lantaran di dalam koperasi terkandung nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang tidak sekadar mencari keuntungan semata. Itulah yang membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya, sehingga koperasi dapat bertahan pada waktu krisis keuangan. Harapan yang sama juga sedang digenggam oleh masyarakat Indonesia di masa pandemi ini. Koperasi melalui implementasi nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong diharapkan dapat tetap eksis dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat Indonesia. Selamat HUT Koperasi, kamulah soko guru perekonomian nasional.
Peningkatan SDM tentu bukan hal mudah. Upaya tersebut perlu intervensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan dan pembinaan semua koperasi yang berada dalam binaannya. Diperlukan sinergisitas program antara Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan berbagai stakeholder lainnya.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa sejarah krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 membuktikan bahwa koperasi melalui kiprahnya dapat menjadi "pahlawan ekonomi". Hal itu lantaran di dalam koperasi terkandung nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang tidak sekadar mencari keuntungan semata. Itulah yang membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya, sehingga koperasi dapat bertahan pada waktu krisis keuangan. Harapan yang sama juga sedang digenggam oleh masyarakat Indonesia di masa pandemi ini. Koperasi melalui implementasi nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong diharapkan dapat tetap eksis dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat Indonesia. Selamat HUT Koperasi, kamulah soko guru perekonomian nasional.
(ras)
Lihat Juga :