Revolusi Kertas Putih di China Bisa Mengubah Sistem Otoriter di Taiwan?

Selasa, 06 Desember 2022 - 21:09 WIB
Secara tidak langsung kita sering menghakimi bahwa yang namanya diktator dalam kasus ini adalah pemerintah China, tetapi kita sering lupa, bahwa beberapa kasus, yang menjadi diktator adalah Amerika Serikat, dan Taiwan seperti rakyat Amerika yang patuh kepada kediktatoran atau sistem otoriter Amerika. Kepatuhan Taiwan terhadap Amerika sering dianggap sebagai perjuangan demokratis untuk membebaskan diri dari Daratan China, sebaliknya, senyuman dan perhatian Amerika kepada Taiwan, sering dianggap kasih sayang dari negara super power kepada rakyat yang tertindas.

Baca juga: Kertas Putih Kosong Simbol Demo terhadap Xi Jinping di China, Ini Maksudnya

Kediktatoran Amerika terhadap Taiwan telah terlihat ketika Taiwan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam perlindungan Amerika. Taiwan menerima mentah-mentah semua kebijakan Amerika serikat, termasuk penjualan senjata, rudal, maupun perlengkapan militer kepada Taiwan. Taiwan selalu dilecehkan oleh Amerika Serikat, termasuk kasus pramugari salah satu maskapai Taiwan yang dipaksa membersihkan pantat seorang penumpang berbangsa barat di dalam pesawat. Akan tetapi, Taiwan tidak pernah merasakan bahwa ini adalah keotoriteran Amerika terhadap rakyat Taiwan yang patuh. Akhirnya dengan alasan perlindungan diri, kepatuhan rakyat Taiwan membuat keotoriteran Amerika mengakar di Asia timur, paling tidak terhadap Taiwan dan Jepang yang menyerahkan Okinawa sebagai pangkalan militer untuk Amerika.

Kebijakan Nol Covid-19 dari China memang terlalu ekstrem dan kejam. Rakyat yang selama ini patuh dan taat telah lelah, dan akhirnya mereka turun ke jalan sambil memegang kertas putih di atas kepala mereka, dan inilah yang dinamakan Revolusi Kertas Putih. Selain itu, muncul juga slogan-slogan seperti menuntut pengunduran diri Xi Jinping dan tidak ada masa jabatan presiden seumur hidup di China.

Mereka melampiaskan kemarahan mereka yang terpendam selama ini. Mereka mengubah wajah dan senyuman yang taat menjadi pandangan yang sinis dan penuh dendam kepada pemerintah otoriter komunis. Kepatuhan rakyat China dan kemampuan menyesuaikan diri rakyat China dengan diktator berubah dengan cepat hanya karena kebijakan pembatasan kebebasan bergerak selama hampir tiga tahun dari pemerintah. Kepatuhan rakyat terhadap pemerintah yang diktator menghilang dalam semalam saja.

Demikian juga hal yang sama terjadi di Taiwan. Para pemuda Taiwan yang mulai muak dengan propaganda China dan propaganda kelompok pro-kemerdekaan mulai menyuarakan pendapat mereka. Selama ini, para pemuda Taiwan yang terbuai oleh janji manis dari pemerintah yang manjanjikan kemerdekaan selalu menganggap diri mereka adalah sebuah entitas yang berbeda dengan China. Mereka selalu memandang saudara-saudara mereka di daratan China sebagai musuh yang terbelakang, tidak berpendidikan, kasar, dan tidak mengerti sopan santun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!