Reformulasi Agama dalam Geopolitik Global
Kamis, 03 November 2022 - 13:04 WIB
Dimensi ini mengindikasikan teosentrisme pemeluk agama dengan pemahamannya yang beragam. Keberagamaan yang cenderung pada paradigma ini menfokuskan dirinya secara inward looking, pada ujungnya, menghadirkan agama secara eksklusif, yang gagal untuk menyandingkan agama-agama sebagai keragaman yang seimbang. Benturan dan konflik antara satu agama dengan agama lainnya yang dipertajam oleh pemeluknya memunculkan kekerasan dan ekstremisme.
Perspektif lain dengan dengan pendekatan antroposentrisme ditawarkan sebagai formula religious humanitarianism dalam mengadaptasikan ajaran agama secara universal. Agama hadir melayani kebutuhan dalam mencapai kebaikan kemanusiaan. Di sinilah penguatan agama yang diarahkan untuk melayani kedamaian penganutnya menjadi sentral kebermaknaan agama untuk perdamaian.
Pertemuan para tokoh agama dalam Religion Forum G20 menyadari fenomena keberagamaan yang masih memunculkan kekerasan dan konflik di masyarakat. Berbagai perspektif dalam konteks teologis dipaparkan dalam forum ini dibarengi dengan penjelasan pengalaman positif dan negative fenomena agama dari berbagai negara.
Namun kesadaran keberagamaan yang ditujukan untuk kedamaian dan kemanusiaan menjadi titik temu yang memunculkan harapan penting bagi dunia. Pengaruh agama mengindikasikan adanya komunitas yang terikat oleh nilai-nilai simbolik yang diajarkan agama, baik secara intra-pemeluk maupun antar-pemeluknya.
Fenomena ini menjadikan potensi dan problem agama yang sering menjadi potret penganut agama di dunia. Keberagamaan ideal perlu dibangun atas pemahaman dan kesadaran komprehensif pemeluknya.
Telah menjadi tantangan para pemeluk agama bahwa cara pandang eksklusif pada agama, dengan mengabaikan dengan mengabaikan komunitas lainnya mengakibatkan pertentangan dari pada titik temu untuk perdamaian. Para pemeluk agama perlu melihat permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dari doktrin dan pemahaman keagamaan.
Kemampuan mendalami permasalahan agama (religious obstacles) dibutuhkan kesepahaman dalam nilai-nilai universal yang memadukan kebersamaan dalam beragama. Agama untuk perdamaian dan keadilan adalah upaya pencapaian tujuan suci beragama.
Nilai-nilai agung bagi kemanusiaan yang terumuskan dalam shared values menjadi kesepahaman dan kebutuhan bersama yang bisa melunturkan egoisme keberagamaan. Masing-masing agama memiliki doktrin teologis yang unik, namun nilai-nilai kemanusiaan dari agama ditekankan untuk lebih dikedepankan.
Shared Values
Penguatan agama di masa krisis dan pengalaman wabah pandemi Covid-19 telah menyadarkan para tokoh agama untuk memperkuat nilai-nilai universal sebagai perekat antarpemeluk dan masyarakat dunia.
Musibah wabah memberikan pelajaran bagi dunia. Bahwa penyelesaian masalah dalam menjaga kehidupan dibutuhkan kebersamaan dan saling membantu, tanpa melihat perbedaan keyakinan agama. Secara sosiologis, kebergantungan negara-negara masyarakat dunia satu sama lain menurunkan egosentrime regional karena permasalahan tidak bisa diselasaikan secara mandiri.
Perspektif lain dengan dengan pendekatan antroposentrisme ditawarkan sebagai formula religious humanitarianism dalam mengadaptasikan ajaran agama secara universal. Agama hadir melayani kebutuhan dalam mencapai kebaikan kemanusiaan. Di sinilah penguatan agama yang diarahkan untuk melayani kedamaian penganutnya menjadi sentral kebermaknaan agama untuk perdamaian.
Pertemuan para tokoh agama dalam Religion Forum G20 menyadari fenomena keberagamaan yang masih memunculkan kekerasan dan konflik di masyarakat. Berbagai perspektif dalam konteks teologis dipaparkan dalam forum ini dibarengi dengan penjelasan pengalaman positif dan negative fenomena agama dari berbagai negara.
Namun kesadaran keberagamaan yang ditujukan untuk kedamaian dan kemanusiaan menjadi titik temu yang memunculkan harapan penting bagi dunia. Pengaruh agama mengindikasikan adanya komunitas yang terikat oleh nilai-nilai simbolik yang diajarkan agama, baik secara intra-pemeluk maupun antar-pemeluknya.
Fenomena ini menjadikan potensi dan problem agama yang sering menjadi potret penganut agama di dunia. Keberagamaan ideal perlu dibangun atas pemahaman dan kesadaran komprehensif pemeluknya.
Telah menjadi tantangan para pemeluk agama bahwa cara pandang eksklusif pada agama, dengan mengabaikan dengan mengabaikan komunitas lainnya mengakibatkan pertentangan dari pada titik temu untuk perdamaian. Para pemeluk agama perlu melihat permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dari doktrin dan pemahaman keagamaan.
Kemampuan mendalami permasalahan agama (religious obstacles) dibutuhkan kesepahaman dalam nilai-nilai universal yang memadukan kebersamaan dalam beragama. Agama untuk perdamaian dan keadilan adalah upaya pencapaian tujuan suci beragama.
Nilai-nilai agung bagi kemanusiaan yang terumuskan dalam shared values menjadi kesepahaman dan kebutuhan bersama yang bisa melunturkan egoisme keberagamaan. Masing-masing agama memiliki doktrin teologis yang unik, namun nilai-nilai kemanusiaan dari agama ditekankan untuk lebih dikedepankan.
Shared Values
Penguatan agama di masa krisis dan pengalaman wabah pandemi Covid-19 telah menyadarkan para tokoh agama untuk memperkuat nilai-nilai universal sebagai perekat antarpemeluk dan masyarakat dunia.
Musibah wabah memberikan pelajaran bagi dunia. Bahwa penyelesaian masalah dalam menjaga kehidupan dibutuhkan kebersamaan dan saling membantu, tanpa melihat perbedaan keyakinan agama. Secara sosiologis, kebergantungan negara-negara masyarakat dunia satu sama lain menurunkan egosentrime regional karena permasalahan tidak bisa diselasaikan secara mandiri.
Lihat Juga :