Firasat Akhir Hayat, Jenderal Paling Dihormati Ini Keliling TMP Kalibata Sebelum Wafat

Sabtu, 17 September 2022 - 08:17 WIB
Mendung duka datang menggelayut pada 8 September 2004. Jusuf meninggal dengan tenang di rumahnya, Jalan Sungai Tangka, Makassar. Pemakaman yang dilakukan sehari berikutnya atau 9 September 2004 menjadi lautan belasungkawa. Ribuan orang mulai masyarakat biasa hingga tokoh nasional mendatangi rumah duka. Isak tangis mewarnai hari kelam itu.

Dari Jakarta Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto datang. Begitu juga tiga kepala staf angkatan. Sebelum upacara pemakaman, jenazah Jusuf dibaringkan 20 menit di Masjid Raya Al Markaz Al Islami yang didirikannya. Ribuan orang datang untuk ikut menyolati.

Andai saja di hari itu tidak terjadi ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Pusat, niscaya seluruh pemberitaan akan tertuju atas meninggalnya salah satu jenderal paling dihormati prajurit tersebut. Jusuf dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panekukang. Sosok sederhana itu dikebumikan dengan cara sederhana pula.

Lahir dari keluarga bangsawan Bugis, Jusuf melalui banyak perjalanan sejarah. Mula-mulai dia bergabung dengan Devosi Rakyat Indonesia dari Sulawesi (KRIS) ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Bersama rekan-rekannya mereka kemudian berlayar ke Jawa. Jusuf awalnya masuk Angkatan Laut dan pernah menjadi ajudan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar di Yogyakarta.

Pada 1949 dia masuk Angkatan Darat di bagian Polisi Militer. Setahun berikutnya dia menjadi ajudan Kolonel Alex Kawilarang, Pangdam Siliwangi yang juga tokoh di balik pembentukan pasukan elite Kesko III TT. Pasukan ini kelak berubah menjadi RPKAD, Kopassandha dan akhirnya Kopassus hingga kini. Karier Jusuf terus melesat hingga dia dipercaya memegang tongkat komando tertinggi di kampung halamannya, yakni menjadi Pangdam Hasanuddin.

Perjalanan waktu mengantar karier Jusuf ‘berakhir’ di militer. Selepas Pangdam itu, dia ditarik Presiden Soekarno masuk kabinet sebagai menteri. Meski demikian dia masih berstatus tentara aktif. Ketika Soeharto menjadi Presiden, Jusuf masih dipertahankan dalam kabinet. Namun suatu hal tak terduga. Pada 29 Maret 1978 dia dipercaya menjadi Panglima ABRI/Menhankam. Jusuf menggantikan Jenderal Maraden Panggabean.

Dalam karier militernya sebagai Pangab, Jusuf dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan prajurit. Dia kerap blusukan ke barak-barak dan asrama untuk menyapa para anggota ABRI. Tak heran, dia begitu dikenang. Begitu tingginya kesan baik itu sehingga Jusuf lekat dengan julukan ‘Panglima Para Prajurit’ atau ‘Bapak Para Prajurit’. Baca juga: Sederhana, Panglima TNI Kesayangan Prajurit Ini Tak Miliki Apa-apa di Rumahnya

Salah satu tokoh yang memiliki kenangan mendalam tersebut yakni Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. ”Saya sangat terkesan dengan Jenderal Jusuf. Hidupnya sangat sederhana. Beliau ini adalah prajurit, jenderal dan seorang panglima yang tidak ingin menyusahkan bekas anak buahnya yang sedang aktif dengan meminta berbagai fasilitas. Beliau ingin mandiri, berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Prabowo dalam bukunya Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman LetjenTNI (Purn) Prabowo Subianto.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!