Politik Makin Panas
Jum'at, 16 September 2022 - 12:54 WIB
Mengapa? Karena, para pemimpin negeri ini ternyata lebih memilih ego sektoral ketimbang membangun kebersamaan dalam perbedaan seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Para elite justru menunjukkan sikap yang jauh dari rasa kebersamaan sebagai komponen bangsa yang harusnya menjadi panutan akar rumput. Yang menonjol justru menang-menangan, sombong-sombongan, dan ego-egoan. Singkatnya adu kekuasaan dan jabatan.
Andaikan benar ada perbedaan dan ketidakharmonisan di internal TNI, mestinya cara mengurai masalahnya tidak demikian. Pertanyaan anggota DPR itu mestinya dijadikan bahan introspeksi bersama dalam suasana yang lebih sejuk. Membantah bahwa telah terjadi perpecahan di lingkungan TNI itu memang harus dilakukan.
Tapi, mestinya bukan sekadar bantahan kata-kata, tapi mesti ditunjukkan dengan tindakan atau aksi nyata agar masyarakat bisa melihat langsung bahwa para bintang di TNI baik-baik saja. Kalangan DPR pun diimbau mampu memilah dan memilih pertanyaan dan pernyataan untuk konsumsi internal atau konsumsi publik dengan pertimbangan dampak sosial politik yang ditimbulkan.
Kemudian yang tak kalah seru di pekan ini adalah masifnya serangan hacker yang menyebut dirinya Bjorka yang berhasil membobol data-data pribadi masyarakat dan para pejabat tinggi Republik dari menteri hingga presiden.
Pemerintah mengakui data-data rahasia negara sudah dibobol. Termasuk data pribadi Presiden Joko Widodo, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan, Mendagri Tito Karnavian, dan sejumlah pejabat lain. Tapi, pemerintah memastikan data yang dibocorkan ke publik itu data yang sifatnya umum atau biasa. Data-data lain yang sifatnya confidential masih aman.
Bjorka pun tak berhenti menjalankan aksinya. Seolah ingin menjawab tantangan pemerintah bahwa kemampuan mereka tidak bisa diremehkan. Karena itu, pemerintah membentuk tim khusus untuk mengejar dan menangkap para hacker itu. Ternyata setelah dicek dua pemuda yang dicurigai profilnya sangat jauh dengan apa yang disebut sebagai hacker. Tentu ini membuat kita juga trenyuh dan sedih.
Andaikan benar ada perbedaan dan ketidakharmonisan di internal TNI, mestinya cara mengurai masalahnya tidak demikian. Pertanyaan anggota DPR itu mestinya dijadikan bahan introspeksi bersama dalam suasana yang lebih sejuk. Membantah bahwa telah terjadi perpecahan di lingkungan TNI itu memang harus dilakukan.
Tapi, mestinya bukan sekadar bantahan kata-kata, tapi mesti ditunjukkan dengan tindakan atau aksi nyata agar masyarakat bisa melihat langsung bahwa para bintang di TNI baik-baik saja. Kalangan DPR pun diimbau mampu memilah dan memilih pertanyaan dan pernyataan untuk konsumsi internal atau konsumsi publik dengan pertimbangan dampak sosial politik yang ditimbulkan.
Kemudian yang tak kalah seru di pekan ini adalah masifnya serangan hacker yang menyebut dirinya Bjorka yang berhasil membobol data-data pribadi masyarakat dan para pejabat tinggi Republik dari menteri hingga presiden.
Pemerintah mengakui data-data rahasia negara sudah dibobol. Termasuk data pribadi Presiden Joko Widodo, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan, Mendagri Tito Karnavian, dan sejumlah pejabat lain. Tapi, pemerintah memastikan data yang dibocorkan ke publik itu data yang sifatnya umum atau biasa. Data-data lain yang sifatnya confidential masih aman.
Bjorka pun tak berhenti menjalankan aksinya. Seolah ingin menjawab tantangan pemerintah bahwa kemampuan mereka tidak bisa diremehkan. Karena itu, pemerintah membentuk tim khusus untuk mengejar dan menangkap para hacker itu. Ternyata setelah dicek dua pemuda yang dicurigai profilnya sangat jauh dengan apa yang disebut sebagai hacker. Tentu ini membuat kita juga trenyuh dan sedih.
Lihat Juga :