Fenomena Citayam Fashion Week dan Potret Buram Pendidikan
Kamis, 04 Agustus 2022 - 15:22 WIB
Apa dampaknya? Dengan tingginya angka NEET pada kaum muda dengan tingkat pendidikan rendah, akan memunculkan kurang optimalnya produktivitas sehingga akan menimbulkan masalah pengangguran pada generasi muda (Magdalena, 2022). Besarnya jumlah pengangguran di usia muda pun akan berpengaruh pada kualitas bonus demografi yang akan diterima Indonesia pada 2030.
Menurut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, setelah puncak bonus demografi, Indonesia akan menghadapi aging population atau populasi yang menua. Jika bonus demografi tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, sementara sudah masuk populasi yang menua, maka Indonesia akan mengalami middle income trap atau terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah (Kompas, 2022).
Tambahan lagi, maraknya generasi sandwich di era pascapandemi ini. Saat ini, banyak populasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi di sekitarnya, yakni orang tua, diri sendiri dan anaknya (Miller, 1981 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012). Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa generasi sandwich bertanggung jawab pula dalam urusan orang tua, orang yang dituakan dan juga dirinya sebagai pekerja profesional (Keene dan Prokos, 2007 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprediksi pada 2030 mendatang, akan terjadi limpahan penduduk usia tua dengan pendidikan rata-rata 8,3 tahun dan 80% di antaranya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karena itulah, remaja saat ini menjadi faktor penentu di masa depan.
Pada 2035, generasi muda akan menyokong kelompok lanjut usia dengan ekonomi yang rendah. Jika kualitas remaja saat ini tidak terbangun dengan baik, dikhawatirkan akselerasi pendapatan per kapita di Indonesia di masa datang akan berat (Kompas, 2022).
Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah terutama untuk mengurangi tingkat pengangguran pada kelompok usia muda? Dengan membangun sumber daya manusia yang berkualitas lewat pemerataan pendidikan. Hal ini penting sebab pendidikan akan mampu membekali individu dengan penanaman nilai-nilai yang berperan penting dalam dunia kerja.
Pemerintah sebaiknya memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan bagi kalangan muda ini, sebab terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia yang akan menjadi bonus demografi di masa datang. Jika tidak segera ditangani, alih-alih mendapatkan bonus demografi yang berkualitas, justru yang didapat adalah sumber daya manusia yang kurang potensial.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Menurut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, setelah puncak bonus demografi, Indonesia akan menghadapi aging population atau populasi yang menua. Jika bonus demografi tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, sementara sudah masuk populasi yang menua, maka Indonesia akan mengalami middle income trap atau terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah (Kompas, 2022).
Tambahan lagi, maraknya generasi sandwich di era pascapandemi ini. Saat ini, banyak populasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi di sekitarnya, yakni orang tua, diri sendiri dan anaknya (Miller, 1981 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012). Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa generasi sandwich bertanggung jawab pula dalam urusan orang tua, orang yang dituakan dan juga dirinya sebagai pekerja profesional (Keene dan Prokos, 2007 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprediksi pada 2030 mendatang, akan terjadi limpahan penduduk usia tua dengan pendidikan rata-rata 8,3 tahun dan 80% di antaranya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karena itulah, remaja saat ini menjadi faktor penentu di masa depan.
Pada 2035, generasi muda akan menyokong kelompok lanjut usia dengan ekonomi yang rendah. Jika kualitas remaja saat ini tidak terbangun dengan baik, dikhawatirkan akselerasi pendapatan per kapita di Indonesia di masa datang akan berat (Kompas, 2022).
Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah terutama untuk mengurangi tingkat pengangguran pada kelompok usia muda? Dengan membangun sumber daya manusia yang berkualitas lewat pemerataan pendidikan. Hal ini penting sebab pendidikan akan mampu membekali individu dengan penanaman nilai-nilai yang berperan penting dalam dunia kerja.
Pemerintah sebaiknya memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan bagi kalangan muda ini, sebab terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia yang akan menjadi bonus demografi di masa datang. Jika tidak segera ditangani, alih-alih mendapatkan bonus demografi yang berkualitas, justru yang didapat adalah sumber daya manusia yang kurang potensial.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :