Fenomena Citayam Fashion Week dan Potret Buram Pendidikan

Kamis, 04 Agustus 2022 - 15:22 WIB
loading...
Fenomena Citayam Fashion Week dan Potret Buram Pendidikan
Diah Ayu Candraningrum (Foto: Ist)
A A A
Diah Ayu Candraningrum
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara; Mahasiswa Program Doktor Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

FENOMENA Citayam Fashion Week (CFW) menghadirkan beragam gambaran realitas sosial yang memberikan pengaruh terhadap tatanan sosial masyarakat. Meski isu-isu terkait gelaran fashion di jalanan ini sudah banyak dikupas, namun masih banyak hal menarik untuk dibahas.

Dari suara daerah pinggiran di tengah jantung pusat bisnis ibukota, hingga cerita kesuksesan anak muda menyuarakan aspirasi mereka. Juga pentingnya keberadaan ruang publik supaya para remaja Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok (SCBD) ini punya kesempatan bergabung dengan peer group-nya, yakni para kalangan remaja pinggiran yang butuh ruang untuk eksistensi diri.

Namun tidak semua pihak setuju dengan keberadaan mereka. Beberapa pihak menyayangkan keberadaan anak-anak muda yang berlenggak-lenggok di areal zebra cross ini justru menimbulkan ekses sosial seperti kemacetan jalan utama, membuang sampah sembarangan, parkir liar, kehidupan malam yang bebas dan liar, pergaulan bebas antarremaja dan juga kentalnya nuansa LGBT di jalanan Ibu Kota.

Dari panggung jalanan itu sendiri, muncullah nama-nama selebriti baru asal Citayam, yang belakangan kerap bersliweran di media. Sebut saja Bonge, Kurma, Jeje Slebew maupun Roy Citayam. Mereka dianggap sebagai anak-anak muda yang menginisiasi popularitas Citayam Fashion Week lewat unggahan para content creator. Meski mereka sendiri mengaku sudah lama nongkrong di Kawasan Sudirman, namun sosok mereka kini berbeda. Lebih populer tepatnya.

Para seleb baru itu kini rajin diundang di berbagai podcast dan akun YouTube para public figure. Mereka juga laris menerima endorse aneka produk untuk dipromosikan. Di balik aksi viral Bonge, Jeje Slebew, maupun Roy Citayam cs, yang kini namanya semakin akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia, ada kisah pilu yang mampu mengentakkan perasaan kita sebagai sesama manusia. Sebagai presidensi G20 tahun ini, di Indonesia ternyata masih banyak remaja putus sekolah dan memilih menjadi penghasil konten video.

Memang profesi content creator amatlah menjanjikan terutama di era digital saat ini. Namun bukan berarti, urusan pendidikan dikesampingkan.

Bonge (17 tahun) yang bernama asli Eka Satria Saputra ini adalah remaja putus sekolah sejak kelas 3 SD. Kini, penduduk Kampung Cilebut Barat, Kawasan Bojonggede, Bogor, Jawa Barat ini aktif ngonten di akun Instagram dan Tiktok miliknya, dan mendapatkan banyak endorsement produk. Nama Bonge dikenal karena dia biasa nongkrong di sekitar Kawasan Sudirman. Sang Pangeran Bojong Gede ini memang bekerja sebagai pengamen dan biasa menghabiskan uang hasil ngamennya untuk biaya nongkrong.

Berbeda dengan kisah Jeje Slebew yang bernama asli Jasmin Laticia. Perempuan berusia 16 tahun ini memiliki ayah berasal dari Belanda dan ibu dari Indonesia. Seleb TikTok ini memiliki masa lalu yang memilukan, yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu. Dalam wawancara podcast bersama Atta Halilintar, perempuan lulusan SMP ini mengaku mengalami pelecehan seksual oleh orang dekatnya. Dia pun kabur dari rumah untuk menenangkan diri.

Berikutnya ada Roy Citayam yang memiliki nama asli Aji Alfiyandi. Cowok berusia 17 tahun ini dikenal sebagai pacar dari Jeje Slebew dan kerap nongkrong bahkan sering tidur di stasiun hingga kolong jembatan di Kawasan Sudirman juga.

Jiwa ngonten telah menyatu dalam dirinya sehingga dia pernah tidak pulang ke rumah selama tiga minggu demi menjadi talent konten video. Roy yang pendidikan terakhirnya di bangku SMP ini ternyata mengaku tidak memiliki niat untuk kembali bersekolah karena menurutnya, tidak ada jaminan memiliki penghasilan tetap.

Dari ketiga sosok di atas selaku inisiator Kawasan “Haradukuh” (yang diplesetkan dari nama Kawasan Harajuku di Jepang), ketiganya merupakan remaja putus sekolah dan tak berpendidikan tinggi. Artinya Bonge, Jeje dan Roy termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka, yang jumlahnya mencapai 5,83% pada Februari 2022 versi Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS juga mencatat, sebanyak 22,40% kaum muda Indonesia pada 2021 justru termasuk golongan tidak produktif. Dengan kata lain, lebih dari seperlima penduduk Indonesia yang berusia 15-24 tahun justru tidak melakukan apa-apa. Padahal di usia tersebut, mereka seharusnya sedang mengenyam pendidikan atau berada di level pekerjaan tertentu. Mereka inilah yang masuk kategori NEET (Not Employment, Education or Training) yaitu mereka yang tidak masuk pasar tenaga kerja, tidak bersekolah dan tidak sedang mengikuti pelatihan.

Pada 2021, angka NEET untuk kaum muda berusia 15-24 tahun dengan tingkat pendidikan SD ke bawah adalah 30,44%. Angka ini paling tinggi bila dibandingkan para pengangguran untuk tingkat pendidikan SMP yakni 12,35%; tingkat pendidikan SMA sebesar 27,76% dan tingkat pendidikan perguruan tinggi yaitu 27,75%. Dari angka di atas dapat disimpulkan bahwa angka NEET tertinggi ada pada kaum muda dengan tingkat pendidikan rendah (SD ke bawah).

Apa dampaknya? Dengan tingginya angka NEET pada kaum muda dengan tingkat pendidikan rendah, akan memunculkan kurang optimalnya produktivitas sehingga akan menimbulkan masalah pengangguran pada generasi muda (Magdalena, 2022). Besarnya jumlah pengangguran di usia muda pun akan berpengaruh pada kualitas bonus demografi yang akan diterima Indonesia pada 2030.

Menurut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, setelah puncak bonus demografi, Indonesia akan menghadapi aging population atau populasi yang menua. Jika bonus demografi tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, sementara sudah masuk populasi yang menua, maka Indonesia akan mengalami middle income trap atau terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah (Kompas, 2022).

Tambahan lagi, maraknya generasi sandwich di era pascapandemi ini. Saat ini, banyak populasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi di sekitarnya, yakni orang tua, diri sendiri dan anaknya (Miller, 1981 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012). Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa generasi sandwich bertanggung jawab pula dalam urusan orang tua, orang yang dituakan dan juga dirinya sebagai pekerja profesional (Keene dan Prokos, 2007 dalam DeRigne dan Ferrrante, 2012).

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprediksi pada 2030 mendatang, akan terjadi limpahan penduduk usia tua dengan pendidikan rata-rata 8,3 tahun dan 80% di antaranya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karena itulah, remaja saat ini menjadi faktor penentu di masa depan.

Pada 2035, generasi muda akan menyokong kelompok lanjut usia dengan ekonomi yang rendah. Jika kualitas remaja saat ini tidak terbangun dengan baik, dikhawatirkan akselerasi pendapatan per kapita di Indonesia di masa datang akan berat (Kompas, 2022).

Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah terutama untuk mengurangi tingkat pengangguran pada kelompok usia muda? Dengan membangun sumber daya manusia yang berkualitas lewat pemerataan pendidikan. Hal ini penting sebab pendidikan akan mampu membekali individu dengan penanaman nilai-nilai yang berperan penting dalam dunia kerja.

Pemerintah sebaiknya memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan bagi kalangan muda ini, sebab terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia yang akan menjadi bonus demografi di masa datang. Jika tidak segera ditangani, alih-alih mendapatkan bonus demografi yang berkualitas, justru yang didapat adalah sumber daya manusia yang kurang potensial.

Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1012 seconds (10.55#12.26)