Gagasan Inovasi Peneliti dan Industri: Tantangan yang Menjanjikan Perubahan
Rabu, 01 Juni 2022 - 09:32 WIB
Foto/ist
Budi Wiweko
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
HAMPIR di semua belahan dunia, penemuan yang lahir dari universitas mampu memberikan efek perubahan signifikan. Penemuan penicillin oleh Howard Florey dari University of Oxford tahun 1939, penemuan tes Pap oleh Nicolas Papanicolaou dari Cornell University tahun 1939, penemuan USG oleh Ian Donald dari University of Glasgow tahun 1958, penemuan LCD oleh James Fergason dari Kent State University tahun 1967, penemuan MRI oleh Paul Laterbur dari University of New York tahun 1970 dan penemuan teknologi DNA rekombinan oleh Stanley Cohen dari UCLA tahun 1974 merupakan bentuk nyata hasil dari penelitian yang dilakukan universitas.
Tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) sebuah invensi saat ini diukur mengikuti produk yang dilahirkan oleh NASA pada tahun 1974. Bagaimana terminologi ini membagi penelitian ke dalam klasifikasi riset dasar (TKT 1 – 3), riset translasional (TKT 4 – 6) dan riset terapan (TKT 7 – 9) menunjukkan kepada kita bahwa hampir tidak mungkin sebuah invensi lahir tanpa melalui penelitian yang panjang.
“Gap” yang terjadi umumnya di fase antara penelitian translasional dengan terapan membutuhkan dukungan kuat dari pihak industri. Komunikasi intensif, kondusif dan interaktif akan membuka peluang akselerasi prototipe riset ke ranah komersialisasi. Hampir semua universitas terkemuka di dunia menaruh perhatian besar pada bidang ini, dengan mengembangkan konsep technology transfer office (TTO), sebuah unit yang bertanggung jawab pada komunikasi antara peneliti dan industri dalam rangka membawa hasil penelitian ke ranah komersial atau terapan.
Baca juga: Sengkarut Pengangkatan Penjabat Kepala Daerah
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
HAMPIR di semua belahan dunia, penemuan yang lahir dari universitas mampu memberikan efek perubahan signifikan. Penemuan penicillin oleh Howard Florey dari University of Oxford tahun 1939, penemuan tes Pap oleh Nicolas Papanicolaou dari Cornell University tahun 1939, penemuan USG oleh Ian Donald dari University of Glasgow tahun 1958, penemuan LCD oleh James Fergason dari Kent State University tahun 1967, penemuan MRI oleh Paul Laterbur dari University of New York tahun 1970 dan penemuan teknologi DNA rekombinan oleh Stanley Cohen dari UCLA tahun 1974 merupakan bentuk nyata hasil dari penelitian yang dilakukan universitas.
Tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) sebuah invensi saat ini diukur mengikuti produk yang dilahirkan oleh NASA pada tahun 1974. Bagaimana terminologi ini membagi penelitian ke dalam klasifikasi riset dasar (TKT 1 – 3), riset translasional (TKT 4 – 6) dan riset terapan (TKT 7 – 9) menunjukkan kepada kita bahwa hampir tidak mungkin sebuah invensi lahir tanpa melalui penelitian yang panjang.
“Gap” yang terjadi umumnya di fase antara penelitian translasional dengan terapan membutuhkan dukungan kuat dari pihak industri. Komunikasi intensif, kondusif dan interaktif akan membuka peluang akselerasi prototipe riset ke ranah komersialisasi. Hampir semua universitas terkemuka di dunia menaruh perhatian besar pada bidang ini, dengan mengembangkan konsep technology transfer office (TTO), sebuah unit yang bertanggung jawab pada komunikasi antara peneliti dan industri dalam rangka membawa hasil penelitian ke ranah komersial atau terapan.
Baca juga: Sengkarut Pengangkatan Penjabat Kepala Daerah
Lihat Juga :