Sutradara Hanung Bramantyo Terkesan Syuting di Kota Lama Semarang
Jum'at, 19 Juni 2020 - 14:30 WIB
Sutradara Hanung Bramantyo saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, meminta izin melakukan syuting film Gatotkaca di Semarang. FOTO : Dok Pemprov Jateng
SEMARANG - Sutradara film, Hanung Bramantyo secara blak-blakan mengungkapkan kesan dan kenangannya tentang Kota Lama Semarang setelah empat kali syuting di sana. Meski saat ini kemolekannya susah didapat di tempat lain, siapa sangka Hanung pernah jadi korban mafia jalanan di sana saat hendak syuting.
Pengakuan Hanung Bramantyo tersebut diungkapkan melalui akun instagramnya, Rabu (17/6) malam. Sejak syuting film Ayat-ayat Cinta pada tahun 2008 silam, dia telah jatuh cinta pada Kota Lama Semarang. Bahkan karena eksotismenya, menurut Hanung wilayah itu layak jadi pusat kebudayaan dan kesenian.
"Sejak Shooting Ayat2 Cinta, saya sudah jatuh cinta dengan Kota Lama Semarang. Saya membayangkan kota lama jadi studio alam, pusat budaya, seni kayak Broadway, seniman-seniman berhamburan di jalan, nyanyi, berteater, pantomime," ungkap Hanung.
Tapi ketika itu, Hanung buru-buru mengubur angannya. Karena masih banyaknya persoalan domestik yang belum bisa diselesaikan. Dari persoalan pungli sampai tidak adanya perawatan pada gedung-gedung tua yang dibangun di masa kolonial Belanda itu. Aduannya ke Pemerintah Kota Semarang pun selalu buntu, karena persoalan tidak kunjung diselesaikan.
Pengakuan Hanung Bramantyo tersebut diungkapkan melalui akun instagramnya, Rabu (17/6) malam. Sejak syuting film Ayat-ayat Cinta pada tahun 2008 silam, dia telah jatuh cinta pada Kota Lama Semarang. Bahkan karena eksotismenya, menurut Hanung wilayah itu layak jadi pusat kebudayaan dan kesenian.
"Sejak Shooting Ayat2 Cinta, saya sudah jatuh cinta dengan Kota Lama Semarang. Saya membayangkan kota lama jadi studio alam, pusat budaya, seni kayak Broadway, seniman-seniman berhamburan di jalan, nyanyi, berteater, pantomime," ungkap Hanung.
Tapi ketika itu, Hanung buru-buru mengubur angannya. Karena masih banyaknya persoalan domestik yang belum bisa diselesaikan. Dari persoalan pungli sampai tidak adanya perawatan pada gedung-gedung tua yang dibangun di masa kolonial Belanda itu. Aduannya ke Pemerintah Kota Semarang pun selalu buntu, karena persoalan tidak kunjung diselesaikan.
Lihat Juga :