BJ Habibie Bapak Teknologi, Perintis Industri Pesawat Terbang Pertama di Indonesia
Rabu, 20 April 2022 - 03:05 WIB
Saat berusia 14 tahun, Habibie harus kehilangan sang ayah tercintanya. Setelah ayahnya meninggal dunia, Habibie memutuskan untuk ke Bandung menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Prestasi Habibie sangat menonjol terutama dalam pelajaran eksakta.
Setelah SMA, Habibie melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang saat ini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB). Karena prestasinya yang cemerlang, Habibie mendapat beasiswa di Rhenish Wesfalische Technische Hochschule, Jerman.
Baca juga: Mengapa Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme? Alasannya Bikin Salut se-Indonesia
Habibie pun berhasil meraih gelar insinyur pada 1960. Lima tahun kemudian, Habibie berhasil menyabet gelar doktor konstruksi pesawat terbang dengan predikat summa cumlaude dari perguruan tinggi tersebut.
Selanjutnya, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, perusahaan penerbangan di Hamburg, Jerman. Karena kejeniusannya, Habibie dijuluki sebagai Mr Crack. Julukan ini diberikan lantaran Habibie memiliki kontribusi yang sangat besar bagi teknologi pesawat terbang. Habibie menjadi ilmuwan yang sangat dihormati di negara tersebut.
Dalam buku biografi berjudul “The True Life of B.J. Habibie” disebutkan bahwa Presiden ke 2 RI Soeharto sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Habibie yang high-tech. Soeharto kemudian meminta Habibie untuk pulang ke Indonesia.
Pada 1973, Habibie akhirnya pulang ke Indonesia. Selanjutnya, pada 26 April 1976, Habibie mendirikan industri pesawat terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Asia Tenggara. Pada 11 Oktober 1985 industri pesawat terbang Nurtanio berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), sebelum akhirnya direstrukturisasi menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada Agustus 2000.
Setelah SMA, Habibie melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang saat ini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB). Karena prestasinya yang cemerlang, Habibie mendapat beasiswa di Rhenish Wesfalische Technische Hochschule, Jerman.
Baca juga: Mengapa Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme? Alasannya Bikin Salut se-Indonesia
Habibie pun berhasil meraih gelar insinyur pada 1960. Lima tahun kemudian, Habibie berhasil menyabet gelar doktor konstruksi pesawat terbang dengan predikat summa cumlaude dari perguruan tinggi tersebut.
Selanjutnya, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, perusahaan penerbangan di Hamburg, Jerman. Karena kejeniusannya, Habibie dijuluki sebagai Mr Crack. Julukan ini diberikan lantaran Habibie memiliki kontribusi yang sangat besar bagi teknologi pesawat terbang. Habibie menjadi ilmuwan yang sangat dihormati di negara tersebut.
Dalam buku biografi berjudul “The True Life of B.J. Habibie” disebutkan bahwa Presiden ke 2 RI Soeharto sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Habibie yang high-tech. Soeharto kemudian meminta Habibie untuk pulang ke Indonesia.
Pada 1973, Habibie akhirnya pulang ke Indonesia. Selanjutnya, pada 26 April 1976, Habibie mendirikan industri pesawat terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Asia Tenggara. Pada 11 Oktober 1985 industri pesawat terbang Nurtanio berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), sebelum akhirnya direstrukturisasi menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada Agustus 2000.
Lihat Juga :