Perubahan Iklim, Bencana Alam, dan Anak Indonesia
Selasa, 05 April 2022 - 16:14 WIB
Bagaimana nasib Indonesia bila gletser terus mencair akibat pemanasan global? Indonesia merupakan salah negara dengan topografi yang bervariasi. Sebagian wilayahnya adalah pegunungan, sebagian lagi adalah lembah, lautan serta sungai. Hal ini membuat Indonesia merupakan surga bagi para pencinta alam. Namun yang perlu diingat adalah Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng tektonik mayor di dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia serta lempeng Pasifik.
Selain itu Indonesia juga berlokasi di Pacific ring of fire sehingga menjadikan Indonesia sebagai wilayah dengan aktivitas vulkanik dan aktivitas seismik yang tinggi. Sampai saat ini ada sekitar 129 gunung berapi aktif di Indonesia. Situasi yang digambarkan di atas membuat risiko bencana alam di Indonesia sangat tinggi. Belum lagi Indonesia saat ini menjadi daerah endemis untuk beberapa penyakit infeksi yang mematikan, salah satunya adalah demam berdarah dengue. Bahkan dalam 45 tahun terakhir kasus infeksi virus dengue meningkat secara dramatis mengikuti pola hiperendemis intermiten.
Lalu apa hubungannya pemanasan global dengan munculnya wabah seperti demam berdarah dengue? Ternyata temperatur punya peran penting terhadap siklus hidup serta reproduksi virus yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk virus dengue. Kelembapan yang disebabkan tingginya intensitas hujan membuat lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan nyamuk Aedes. Jadi jelas dampak pemanasan global terhadap Indonesia akan sangat besar bila tidak diantisipasi sebelum muncul bencana alam dan wabah penyakit. Pengalaman panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam yang sering terjadi harus digunakan sebagai strategi untuk mencegah dan mengurangi dampak akibat bencana di kemudian hari.
Hal yang sering terabaikan bila bencana alam terjadi adalah keadaan anak-anak. Anak-anak sering dinilai sebagai satu paket dengan orang tuanya. Padahal anak memiliki kebutuhan yang bersifat spesifik yang berbeda dengan orang tua dalam hal pertumbuhan dan perkembangan. Dampak bencana alam dan wabah penyakit bukan hanya terhadap fisik anak, tetapi juga terhadap sisi psikologis anak.
Data dari Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (Satgas Bencana IDAI) pada saat terjadi bencana gempa bumi di Lombok pada 2018, 836 anak mengalami permasalahan kesehatan selama di pengungsian dan harus diobati di rumah sakit lapangan serta di posko-posko kesehatan. Keadaan pengungsian yang padat membuat beberapa penyakit mudah sekali menular. Pada saat bencana gempa bumi di Lombok terjadi pergeseran pola penyakit pada anak-anak dari minggu ke minggu.
Pada saat awal terjadi bencana, anak-anak banyak dibawa ke posko kesehatan dan rumah sakit lapangan karena luka-luka dan patah tulang, tetapi pada akhir minggu pertama dan minggu kedua infeksi saluran pernapasan meningkat drastis, setelah itu pada minggu ketiga dan keempat kasus infeksi saluran pernapasan menurun dan diikuti dengan peningkatan kasus infeksi pada sistem saluran pencernaan. Pola penyakit seperti ini dapat digunakan sebagai strategi penanggulan bencana di kemudian hari dan terbukti pada saat bencana gempa bumi Palu. Tim relawan medis dari Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah mempersiapkan bantuan medis belajar pada kasus di bencana gempa bumi Lombok. Berbeda bencana, berbeda pula pendekatan bantuan medis, terutama terhadap anak-anak.
Pada Desember 2021, Gunung Semeru meletus dan berdampak luas, termasuk terhadap anak-anak.
Hal lain yang dikhawatirkan pada saat anak berada di pengungsian adalah dampak emosional dan stres. Namun dari pengamatan Satgas Bencana IDAI, dari minggu pertama sampai minggu kelima, anak-anak tidak mengalami gangguan emosional dan stres berdasar skala penilaian yang digunakan relawan. Saat bencana banyak relawan yang datang membawa mainan dan mengajak bermain, tetapi dampak jangka panjang harus diteliti setelah relawan meninggalkan lokasi pengungsian dan anak-anak yang menunggu relokasi rumah tempat tinggal mereka.
Selain itu Indonesia juga berlokasi di Pacific ring of fire sehingga menjadikan Indonesia sebagai wilayah dengan aktivitas vulkanik dan aktivitas seismik yang tinggi. Sampai saat ini ada sekitar 129 gunung berapi aktif di Indonesia. Situasi yang digambarkan di atas membuat risiko bencana alam di Indonesia sangat tinggi. Belum lagi Indonesia saat ini menjadi daerah endemis untuk beberapa penyakit infeksi yang mematikan, salah satunya adalah demam berdarah dengue. Bahkan dalam 45 tahun terakhir kasus infeksi virus dengue meningkat secara dramatis mengikuti pola hiperendemis intermiten.
Lalu apa hubungannya pemanasan global dengan munculnya wabah seperti demam berdarah dengue? Ternyata temperatur punya peran penting terhadap siklus hidup serta reproduksi virus yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk virus dengue. Kelembapan yang disebabkan tingginya intensitas hujan membuat lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan nyamuk Aedes. Jadi jelas dampak pemanasan global terhadap Indonesia akan sangat besar bila tidak diantisipasi sebelum muncul bencana alam dan wabah penyakit. Pengalaman panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam yang sering terjadi harus digunakan sebagai strategi untuk mencegah dan mengurangi dampak akibat bencana di kemudian hari.
Hal yang sering terabaikan bila bencana alam terjadi adalah keadaan anak-anak. Anak-anak sering dinilai sebagai satu paket dengan orang tuanya. Padahal anak memiliki kebutuhan yang bersifat spesifik yang berbeda dengan orang tua dalam hal pertumbuhan dan perkembangan. Dampak bencana alam dan wabah penyakit bukan hanya terhadap fisik anak, tetapi juga terhadap sisi psikologis anak.
Data dari Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (Satgas Bencana IDAI) pada saat terjadi bencana gempa bumi di Lombok pada 2018, 836 anak mengalami permasalahan kesehatan selama di pengungsian dan harus diobati di rumah sakit lapangan serta di posko-posko kesehatan. Keadaan pengungsian yang padat membuat beberapa penyakit mudah sekali menular. Pada saat bencana gempa bumi di Lombok terjadi pergeseran pola penyakit pada anak-anak dari minggu ke minggu.
Pada saat awal terjadi bencana, anak-anak banyak dibawa ke posko kesehatan dan rumah sakit lapangan karena luka-luka dan patah tulang, tetapi pada akhir minggu pertama dan minggu kedua infeksi saluran pernapasan meningkat drastis, setelah itu pada minggu ketiga dan keempat kasus infeksi saluran pernapasan menurun dan diikuti dengan peningkatan kasus infeksi pada sistem saluran pencernaan. Pola penyakit seperti ini dapat digunakan sebagai strategi penanggulan bencana di kemudian hari dan terbukti pada saat bencana gempa bumi Palu. Tim relawan medis dari Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah mempersiapkan bantuan medis belajar pada kasus di bencana gempa bumi Lombok. Berbeda bencana, berbeda pula pendekatan bantuan medis, terutama terhadap anak-anak.
Pada Desember 2021, Gunung Semeru meletus dan berdampak luas, termasuk terhadap anak-anak.
Hal lain yang dikhawatirkan pada saat anak berada di pengungsian adalah dampak emosional dan stres. Namun dari pengamatan Satgas Bencana IDAI, dari minggu pertama sampai minggu kelima, anak-anak tidak mengalami gangguan emosional dan stres berdasar skala penilaian yang digunakan relawan. Saat bencana banyak relawan yang datang membawa mainan dan mengajak bermain, tetapi dampak jangka panjang harus diteliti setelah relawan meninggalkan lokasi pengungsian dan anak-anak yang menunggu relokasi rumah tempat tinggal mereka.
Lihat Juga :