Perubahan Iklim, Bencana Alam, dan Anak Indonesia
Selasa, 05 April 2022 - 16:14 WIB
Siapakah yang memantau dampak kesehatan dan dampak psikologis anak-anak jangka panjang? Hal ini merupakan masalah yang harus dicari solusinya. Ketika terjadi bencana alam, banyak sekali masyarakat Indonesia yang berlomba-lomba membantu korban bencana, tetapi siapakah yang tetap konsisten membantu, terutama terhadap anak-anak sampai beberapa bulan ke depan? Pertanyaan retoris yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama.
Untuk wabah demam berdarah dengue, saat ini juga sedang merajalela. Banyak sekali anak yang menjadi korbannya. Berdasarkan data dari salah satu RS rujukan, dari Januari 2021 sampai dengan Maret 2022 terdapat 42 anak yang mengalami infeksi virus dengue berat dan harus dirawat di ruang intensif. Sebanyak 11,9% membutuhkan alat bantu napas yang bersifat invasif, 7,1% membutuhkan alat bantu napas yang bersifat noninvasif. Dari total pasien infeksi virus dengue (DBD) berat, 14,3% meninggal dunia.
Bila kondisi pemanasan global tidak segera diatasi, perubahan cuaca secara tidak langsung akan berdampak pada naiknya angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah dengue.
Secara filosofis bencana adalah interaksi antara hazard dengan objek berupa manusia atau lingkungan. Adapun upaya pencegahan adalah mencegah terjadinya interaksi dan upaya mengurangi atau menghilangkan hazard yang menjadi akar terjadinya bencana.
Lalu bagaimana dengan upaya penanggulangan bencana alam yang diakibatkan dampak perubahan iklim terhadap anak-anak? Anak-anak sudah harus diajari tentang apa yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana, pada saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana. Pada keadaan tidak terjadi bencana atau sebelum terjadi bencana, anak-anak perlu diajari peduli terhadap lingkungan. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan bertindak. Misalnya untuk meminimalkan penggunaan plastik, anak diajak menanam pohon di sekitar rumahnya, berhemat energi dengan mematikan lampu bila tidak digunakan.
Anak juga perlu diajari hal-hal yang harus dilakukan ketika terjadi bencana alam, misalnya apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami gempa bumi, banjir, erupsi gunung berapi, dan bencana yang lain. Selain itu anak juga diajari tentang penyakit-penyakit yang bisa ditularkan ketika harus berkumpul dengan banyak orang di pengungsian dan bagaimana cara mencegahnya, misalnya memakai masker untuk mencegah infeksi saluran pernapasan, Covid-19, menggunakan air bersih selama di pengungsian untuk mencegah penularan infeksi saluran pencernaan dan penyakit kulit.
Setelah terjadi bencana alam, anak-anak perlu diajari bagaimana tetap sehat dan kuat secara mental. Akan lebih efektif bila hal-hal tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Selain terhadap anak-anak, orang tua juga perlu mendapatkan penyuluhan tentang bencana alam dan apa yang harus dilakukan terhadap anaknya ketika menghadapi bencana. Vaksinasi juga merupakan hal yang sangat penting untuk menanggulangi wabah di tengah bencana, misalnya wabah campak di tengah bencana.
Anak dan orang tua perlu diberi pemahaman tentang pembatasan makanan junk food. Mengonsumsi makanan junk food yang berasal dari peternakan ruminansia secara tidak berlebihan selain bisa mengontrol berat badan anak tetap dalam berat badan yang ideal secara tidak langsung, juga mengurangi peningkatan suhu global dan dapat berkontribusi terhadap pencegahan bencana alam. Maka dengan perencanaan dan perilaku yang baik, bencana alam akibat perubahan iklim dapat dicegah.
Untuk wabah demam berdarah dengue, saat ini juga sedang merajalela. Banyak sekali anak yang menjadi korbannya. Berdasarkan data dari salah satu RS rujukan, dari Januari 2021 sampai dengan Maret 2022 terdapat 42 anak yang mengalami infeksi virus dengue berat dan harus dirawat di ruang intensif. Sebanyak 11,9% membutuhkan alat bantu napas yang bersifat invasif, 7,1% membutuhkan alat bantu napas yang bersifat noninvasif. Dari total pasien infeksi virus dengue (DBD) berat, 14,3% meninggal dunia.
Bila kondisi pemanasan global tidak segera diatasi, perubahan cuaca secara tidak langsung akan berdampak pada naiknya angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah dengue.
Secara filosofis bencana adalah interaksi antara hazard dengan objek berupa manusia atau lingkungan. Adapun upaya pencegahan adalah mencegah terjadinya interaksi dan upaya mengurangi atau menghilangkan hazard yang menjadi akar terjadinya bencana.
Lalu bagaimana dengan upaya penanggulangan bencana alam yang diakibatkan dampak perubahan iklim terhadap anak-anak? Anak-anak sudah harus diajari tentang apa yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana, pada saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana. Pada keadaan tidak terjadi bencana atau sebelum terjadi bencana, anak-anak perlu diajari peduli terhadap lingkungan. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan bertindak. Misalnya untuk meminimalkan penggunaan plastik, anak diajak menanam pohon di sekitar rumahnya, berhemat energi dengan mematikan lampu bila tidak digunakan.
Anak juga perlu diajari hal-hal yang harus dilakukan ketika terjadi bencana alam, misalnya apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami gempa bumi, banjir, erupsi gunung berapi, dan bencana yang lain. Selain itu anak juga diajari tentang penyakit-penyakit yang bisa ditularkan ketika harus berkumpul dengan banyak orang di pengungsian dan bagaimana cara mencegahnya, misalnya memakai masker untuk mencegah infeksi saluran pernapasan, Covid-19, menggunakan air bersih selama di pengungsian untuk mencegah penularan infeksi saluran pencernaan dan penyakit kulit.
Setelah terjadi bencana alam, anak-anak perlu diajari bagaimana tetap sehat dan kuat secara mental. Akan lebih efektif bila hal-hal tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Selain terhadap anak-anak, orang tua juga perlu mendapatkan penyuluhan tentang bencana alam dan apa yang harus dilakukan terhadap anaknya ketika menghadapi bencana. Vaksinasi juga merupakan hal yang sangat penting untuk menanggulangi wabah di tengah bencana, misalnya wabah campak di tengah bencana.
Anak dan orang tua perlu diberi pemahaman tentang pembatasan makanan junk food. Mengonsumsi makanan junk food yang berasal dari peternakan ruminansia secara tidak berlebihan selain bisa mengontrol berat badan anak tetap dalam berat badan yang ideal secara tidak langsung, juga mengurangi peningkatan suhu global dan dapat berkontribusi terhadap pencegahan bencana alam. Maka dengan perencanaan dan perilaku yang baik, bencana alam akibat perubahan iklim dapat dicegah.
(bmm)
Lihat Juga :