Bermain di Harga Pertamax
Kamis, 31 Maret 2022 - 18:02 WIB
Minyak yang diolah pun hanya jenis tertentu, yakni yang memiliki kadar sulfur rendah atau sweet crude. Di seluruh dunia, jenis minyak mentah tersebut hanya tersedia sekitar 3% dari seluruh jenis minyak mentah yang tersedia. Tentu menjadi pertanyaan besar, kenapa kilang-kilang Pertamina hanya bisa mengolah minyak mentah dunia yang suplainya hanya 3%? Tentunya patut dipertanyakan juga siapa pemasok sweet crude yang tentunya jika produksinya berkurang maka harganya akan melambung tinggi.
Tentu menjadi pertanyaan besar kenapa berpuluh tahun minyak produksi domestik tak diproduksi secara maksimal di kilang dalam negeri. Siapa pula pemasok atau pemenang tender produk-produk BBM selama ini?
Berkaca dari berpuluh tahun sebelumnya, setiap isu kenaikan harga BBM diembuskan, maka kenaikan harga-harga barang akan mendahului. Yang berarti harga barang-barang, bahkan bahan pokok pun berpotensi melambung tinggi. Karena kebijakan pengendalian BBM terkait langsung dengan kebijakan transportasi nasional. Pengendalian BBM bersubsidi baik melalui opsi pembatasan konsumsi maupun opsi kenaikan harga secara bertahap akan membebani masyarakat. Biaya logistik otomatis akan menyesuaikan, begitupula ongkos transportasi. Hal itu tentunya akan membuat masyarakat semakin babak belur ditengah menurunnya pendapatan akibat pandemi.
Dalam kebijakan BBM, transparansi alias keterbukaan perlu dijujung tinggi Perlu keterbukaan berapa besar sejatinya volume impor BBM. Apalagi di masa lalu masyarakat gampang menghitung berapa besar volume impor BBM tahunan karena menggunakan satuan barel, kini menggunakan satuan ton. Padahal satu jenis minyak dengan minyak lainnya memiliki perbedaan bobot. Untuk minyak Brent misalnya, 1 ton setara dengan 7,61 barel, sedangkan untuk minyak Ural 1 ton setara 7,28 barel.
Volume impor BBM selama 2021 hanya naik 5,5% menjadi 21,93 juta ton dari 29,79 juta ton sepanjang 2020. Volume impor BBM terbesar masih berasal dari produk bensin, seperti bensin dengan nilai oktan (RON) di atas atau sama dengan 90 berupa Pertalite, Pertamax dan sejenisnya.
Tentu menjadi pertanyaan besar kenapa berpuluh tahun minyak produksi domestik tak diproduksi secara maksimal di kilang dalam negeri. Siapa pula pemasok atau pemenang tender produk-produk BBM selama ini?
Berkaca dari berpuluh tahun sebelumnya, setiap isu kenaikan harga BBM diembuskan, maka kenaikan harga-harga barang akan mendahului. Yang berarti harga barang-barang, bahkan bahan pokok pun berpotensi melambung tinggi. Karena kebijakan pengendalian BBM terkait langsung dengan kebijakan transportasi nasional. Pengendalian BBM bersubsidi baik melalui opsi pembatasan konsumsi maupun opsi kenaikan harga secara bertahap akan membebani masyarakat. Biaya logistik otomatis akan menyesuaikan, begitupula ongkos transportasi. Hal itu tentunya akan membuat masyarakat semakin babak belur ditengah menurunnya pendapatan akibat pandemi.
Dalam kebijakan BBM, transparansi alias keterbukaan perlu dijujung tinggi Perlu keterbukaan berapa besar sejatinya volume impor BBM. Apalagi di masa lalu masyarakat gampang menghitung berapa besar volume impor BBM tahunan karena menggunakan satuan barel, kini menggunakan satuan ton. Padahal satu jenis minyak dengan minyak lainnya memiliki perbedaan bobot. Untuk minyak Brent misalnya, 1 ton setara dengan 7,61 barel, sedangkan untuk minyak Ural 1 ton setara 7,28 barel.
Volume impor BBM selama 2021 hanya naik 5,5% menjadi 21,93 juta ton dari 29,79 juta ton sepanjang 2020. Volume impor BBM terbesar masih berasal dari produk bensin, seperti bensin dengan nilai oktan (RON) di atas atau sama dengan 90 berupa Pertalite, Pertamax dan sejenisnya.
Lihat Juga :