Pengeras Suara: Bid’ah yang Baik atau Buruk?

Jum'at, 25 Februari 2022 - 07:55 WIB
Al Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Foto/Dok. SINDOnews
Al Makin

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



SEMUA alat-alat teknologi hasil rekayasa manusia, termasuk pengeras suara, adalah inovasi. Inovasi dalam bahasa Arabnya kira-kira sepadan dengan bid’ah. Jadi pengeras suara itu bisa dikategorikan sebagai bid’ah, atau barang temuan baru yang belum ada zaman Nabi Muhammad SAW.

Bid’ah sendiri dalam kajian hadits (sabda Nabi Muhammad), sunnah (perilaku Nabi), dan fiqh (hukum Islam), terbagi dua macam secara umum: bid’ah yang baik (hasanah) dan yang tidak baik (zalalah). Apakah itu bid’ah hasanah, atau bid’ah zalalah tergantung dari cara pemakaian, kemanfaatan, atau mudarat dari barang-barang inovatif tadi.

Pisau untuk mengiris bawang bermanfaat. Tetapi pisau untuk menusuk orang, itu perbuatan menyakiti orang lain dan tentu dosa. Itu bid’ah zalalah. Instagram atau Twitter jelas bid’ah, atau inovasi mutaakhir. Sosial media untuk menyerang orang jelas zalalah. Tetapi sosial media untuk kampanye pemanasan global, hak asasi manusia, keadilan, kejujuran adalah bid’ah hasanah.

Pengeras suara juga tidak ada bedanya. Pengeras suara adalah jelas bid’ah, atau inovasi manusia terkini. Pengeras suara dengan suara bagus, merdu, dan orang yang mendengarnya terhibur, jelas hasanah (kebajikan). Jika pengeras suara itu mengganggu, mengusik, membisingkan, atau membangunkan yang sedang tidur tengah malam, dengan suara parau, serak, sumbang, tidak indah, dan tidak mendidik, itu jelas zalalah (keburukan).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!