Bumerang
Senin, 21 Februari 2022 - 14:08 WIB
Pikiran positif atau negatif bila porsinya terlalu berlebihan, tetap saja tak akan berakhir baik. Banyak orang terjebak dengan skenario masa depannya sendiri. Maka ketika akhirnya dihantam realitas yang jauh sekali dari ekspektasi, ia akan merasa hancur. Skenario masa depan yang terlihat sempurna sering kali membuat seseorang ditampar lebih keras oleh kenyataan yang selalu menaik-turunkan alur kehidupannya. Terbang terlalu tinggi ketika sayap kita tak cukup kuat akan membuat kita jatuh dengan lebih sakit, karena kita belum bersiap (halaman 28-29).
Menyeimbangkan Emosi
Manusia adalah makhluk yang memiliki beragam emosi dan perasaan. Hal itulah yang akan menentukan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap sesuatu. Keterlibatan emosi sebagai aspek dalam kehidupan manusia adalah hal yang wajar.
Emosi yang kita miliki mempunyai peran penting dalam menentukan reaksi kita atas sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Sebuah peristiwa dapat membuat kita merasakan emosi yang tidak hanya satu, tapi beragam. Tak ada salahnya merasa menyesal, marah, kecewa, sedih, atau sekadar merasakan perasaaan tidak baik-baik saja. Itu hal yang normal dan wajar. Emosi memang diperlukan, selama porsinya pas dan tidak berlebihan (halaman 31).
Kesimpulannya, dalam menjalani hidup ini kita harus mampu menyeimbangkan beragam emosi yang muncul dalam situasi dan kondisi yang juga beragam (berbeda). Ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang membuat kita bersedih misalnya, tak perlu berpura-pura tampak baik-baik saja. Bersedih itu hal yang sangat wajar, asal jangan sampai berlebihan karena itu dapat menjadi bumerang bagi kita.
Begitu juga ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang membuat kita merasakan kebahagiaan, maka berbahagialah sewajarnya, jangan sampai berlebihan. Sebab kebahagiaan yang berlebihan itu akan menjadi bumerang yang berbahaya bagi kehidupan kita. Terima saja semua emosi yang memang seharusnya kita rasakan. Namun, kendalikan agar emosi-emosi yang kita punya itu tetap dalam skala wajar dan tidak berlebihan.
Jangan sampai menjadi terlalu bersedih hingga depresi, terlalu bahagia hingga tak bisa punya empati pada orang di sekitar kita yang mungkin sedang berduka cita, atau terlalu marah hingga gelap mata dan hidup hanya untuk membalas dendam. Bagaimana pun keadaannya, manusia adalah makhluk beragam emosi. Menonjolkan satu emosi saja dan meredam semua emosi yang lain jelas sebuah kesalahan. Bereaksilah sesuai dengan keadaan yang ada (halaman 31).
Melalui buku ini, semoga kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyikapi masa depan dan berusaha menjadikan masa lalu yang suram sebagai cara untuk meningkatkan kualitas diri.
Menyeimbangkan Emosi
Manusia adalah makhluk yang memiliki beragam emosi dan perasaan. Hal itulah yang akan menentukan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap sesuatu. Keterlibatan emosi sebagai aspek dalam kehidupan manusia adalah hal yang wajar.
Emosi yang kita miliki mempunyai peran penting dalam menentukan reaksi kita atas sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Sebuah peristiwa dapat membuat kita merasakan emosi yang tidak hanya satu, tapi beragam. Tak ada salahnya merasa menyesal, marah, kecewa, sedih, atau sekadar merasakan perasaaan tidak baik-baik saja. Itu hal yang normal dan wajar. Emosi memang diperlukan, selama porsinya pas dan tidak berlebihan (halaman 31).
Kesimpulannya, dalam menjalani hidup ini kita harus mampu menyeimbangkan beragam emosi yang muncul dalam situasi dan kondisi yang juga beragam (berbeda). Ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang membuat kita bersedih misalnya, tak perlu berpura-pura tampak baik-baik saja. Bersedih itu hal yang sangat wajar, asal jangan sampai berlebihan karena itu dapat menjadi bumerang bagi kita.
Begitu juga ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang membuat kita merasakan kebahagiaan, maka berbahagialah sewajarnya, jangan sampai berlebihan. Sebab kebahagiaan yang berlebihan itu akan menjadi bumerang yang berbahaya bagi kehidupan kita. Terima saja semua emosi yang memang seharusnya kita rasakan. Namun, kendalikan agar emosi-emosi yang kita punya itu tetap dalam skala wajar dan tidak berlebihan.
Jangan sampai menjadi terlalu bersedih hingga depresi, terlalu bahagia hingga tak bisa punya empati pada orang di sekitar kita yang mungkin sedang berduka cita, atau terlalu marah hingga gelap mata dan hidup hanya untuk membalas dendam. Bagaimana pun keadaannya, manusia adalah makhluk beragam emosi. Menonjolkan satu emosi saja dan meredam semua emosi yang lain jelas sebuah kesalahan. Bereaksilah sesuai dengan keadaan yang ada (halaman 31).
Melalui buku ini, semoga kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyikapi masa depan dan berusaha menjadikan masa lalu yang suram sebagai cara untuk meningkatkan kualitas diri.
Lihat Juga :