Tabularasa Pancasila

Senin, 21 Februari 2022 - 09:30 WIB
Dalam konteks berbangsa dan bernegara kebutuhan adaptasi sudah menjadi semacam kebutuhan dalam kondisi kegentingan yang memaksa. Terlebih dalam rangka mencari alternatif dan kedaruratan untuk bertahan dan berdaya atas perubahan zaman yang serba cepat dengan banyak kompleksitas persoalan dan ketidakpastian masa depan yang melingkupinya.

Dibutuhkan pendekatan yang melibatkan semacam kemampuan menilai yang tinggi, seni mengelola masyarakat, kapasitas menangkap pola-pola perubahan baik dalam dimensi sosial, politik, kultural, ekonomi, ideologi, pertahanan maupun keamanan manusia dan bangsa. Semacam suatu kolaborasi yang melibatkan unsur citarasa seni, kebijaksanaan, kerja budaya, kedalaman pemikiran, spiritualitas juga visi progresif untuk dapat menangkap jiwa zaman yang ada.

Dalam konteks respons manusia sebagai warga bangsa dan warga negara bahkan warga dunia, dibutuhkan semacam sikap batin dan laku kembali ke kondisi kertas kosong. Dalam artian kembali kepada kepribadian manusia dan bangsa atau masyarakat Indonesia, kembali kepada pijakan sejarah awal mula, kembali kepada tujuan etisnya manusia hidup, serta kembali kepada pemenuhan cita-cita semula yang menjadi amanah pokok bangsa dan negara Indonesia.

Adalah Pancasila itu sendiri yang sejak mula kelahirannya mengandung amanah bernegara, jejak historis, sekaligus mengandung tujuan dan cita-cita otentik bangsa Indonesia. Untuk mengenalinya orisinalitasnya kembali atau untuk dapat menghidmatinya kembali Pancasila perlulah kiranya kita kembali ke awal sebagaimana kertas kosong atau semacam tabula rasa.

Tabularasa

Tabularasa berasal dari bahasa Latin yang bermakna kertas kosong. Istilah tabularasa di sini tidak dalam pengertian teori yang lebih jauh melainkan sekadar meminjam istilah untuk mencoba diterapkan dalam upaya menangkap pesan terkait Pancasila yang sejak mulanya oleh Bung Karno dinyatakan bukan sebagai pemikirannya, melainkan digali dari pengalaman dan sejarah panjang Bangsa Indonesia yang juga sekaligus dinyatakan sebagai ilham maupun semacam “inspirasi ilahi”.

Tabularasa di sini juga dapat dimaknai sebagai upaya mengosongkan diri dalam mencari keotentikan dan obyektivitas dari situasi pertentangan pandangan yang seringkali gampang terjadi jika berkaitan dengan pembahasan mengenai Pancasila di negara kita saat sekarang ini.

Mengapa Bung Karno? Hal ini tentu karena faktanya ia adalah orang yang pertama kali mempidatokan Pancasila sebagaimana yang kemudian hari telah menjadi dasar negara Indonesia. Hal lainnya adalah Proklamator Indonesia hanya Sukarno dan Hatta yang menjadi atas nama dari Bangsa Indonesia dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!