Dinamika Daerah Menghadapi Pandemi
Senin, 14 Februari 2022 - 09:56 WIB
Akan tetapi, lonjakan kasus Covid-19 akibat Varian Omicron berpotensi kembali menimbulkan adanya pemberlakuan containment measures yang dapat berimplikasi pada tertahannya konsumsi dan produksi.
Kini, hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami kenaikan kasus Covid-19, di mana lebih dari 90% penambahan kasus nasional disumbang oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Lonjakan kasus Covid-19 tersebut tak hanya memberi alarm bagi sektor kesehatan saja, melainkan juga sektor ekonomi.
Pasalnya, perekonomian nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu tercermin dari struktur perekonomian Indonesia yang secara spasial masih didominasi pertumbuhan provinsi di Jawa, dengan kontribusi PDB 57,89%. Ketimpangan struktur perekonomian pulau-pulau di Indonesia masih cukup tinggi.
Pulau Sumatera tercatat berkontribusi 21,7% terhadap PDB, lalu Kalimantan 8,25%, Sulawesi 6,89%, Bali dan Nusa Tenggara 2,78%, serta Maluku dan Papua 2,49% terhadap PDB. Tingginya perbedaan tingkat perekonomian antarwilayah di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya jumlah penduduk dan keberadaan industri penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar yang masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi tersebut mau tidak mau berpengaruh pada respons dan reaksi pemulihan ekonomi yang terjadi.
Respons Daerah dalam Pemulihan Ekonomi
Upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian bangsa yang sempat terhantam badai pandemi sejatinya harus dimulai dari daerah-daerah agar fondasi baru ekonomi negara kian kuat. Akan tetapi, pemulihan ekonomi di setiap daerah akan memiliki bobot tantangan yang berbeda satu sama lain. Daerah dengan basis ekonomi sektor jasa, khususnya pariwisata, akan memiliki bobot tantangan yang lebih tinggi untuk melakukan pemulihan ekonomi dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki basis ekonomi di bidang pertanian.
Hal itu diperkuat dengan data BPS yang menunjukkan bahwa pada 2021, Bali dan Nusa Tenggara hanya mencatat pertumbuhan ekonomi 0,07% dengan kontribusi 2,78%. Rendahnya pertumbuhan kedua wilayah ini tak lepas dari belum pulihnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19. Daerah yang pertumbuhan ekonominya bertumpu pada sektor pariwisata sulit untuk bertahan selama angka penularan Covid-19 belum dapat teratasi secara masif.
Kini, hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami kenaikan kasus Covid-19, di mana lebih dari 90% penambahan kasus nasional disumbang oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Lonjakan kasus Covid-19 tersebut tak hanya memberi alarm bagi sektor kesehatan saja, melainkan juga sektor ekonomi.
Pasalnya, perekonomian nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu tercermin dari struktur perekonomian Indonesia yang secara spasial masih didominasi pertumbuhan provinsi di Jawa, dengan kontribusi PDB 57,89%. Ketimpangan struktur perekonomian pulau-pulau di Indonesia masih cukup tinggi.
Pulau Sumatera tercatat berkontribusi 21,7% terhadap PDB, lalu Kalimantan 8,25%, Sulawesi 6,89%, Bali dan Nusa Tenggara 2,78%, serta Maluku dan Papua 2,49% terhadap PDB. Tingginya perbedaan tingkat perekonomian antarwilayah di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya jumlah penduduk dan keberadaan industri penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar yang masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi tersebut mau tidak mau berpengaruh pada respons dan reaksi pemulihan ekonomi yang terjadi.
Respons Daerah dalam Pemulihan Ekonomi
Upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian bangsa yang sempat terhantam badai pandemi sejatinya harus dimulai dari daerah-daerah agar fondasi baru ekonomi negara kian kuat. Akan tetapi, pemulihan ekonomi di setiap daerah akan memiliki bobot tantangan yang berbeda satu sama lain. Daerah dengan basis ekonomi sektor jasa, khususnya pariwisata, akan memiliki bobot tantangan yang lebih tinggi untuk melakukan pemulihan ekonomi dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki basis ekonomi di bidang pertanian.
Hal itu diperkuat dengan data BPS yang menunjukkan bahwa pada 2021, Bali dan Nusa Tenggara hanya mencatat pertumbuhan ekonomi 0,07% dengan kontribusi 2,78%. Rendahnya pertumbuhan kedua wilayah ini tak lepas dari belum pulihnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19. Daerah yang pertumbuhan ekonominya bertumpu pada sektor pariwisata sulit untuk bertahan selama angka penularan Covid-19 belum dapat teratasi secara masif.
Lihat Juga :