Mangkuk Merah, Rohana, dan Imlek
Rabu, 02 Februari 2022 - 15:24 WIB
Refleksi Imlek 2022
Soliditas hidup bermasyarakat seolah menjadi identitas langka yang harus dihidupkan kembali. Para elite bangsa dan seluruh komponen bangsa harus kembali memahami soliditas dalam perbedaan. Stuart Weiss (1996), seorang sosiolog menjelaskan bahwa soliditas adalah unsur yang harus ada dalam relasi antarmanusia karenanya tanpa soliditas dan kerekatan sosial suatu bangsa dapat tercerai berai.
Soliditas adalah keinsyafan akan hakikat manusia, sehingga dengan kerekatan sosial akan terbentuk penghargaan akan jati diri masing masing manusia. Dalam refleksi imlek 2022, manusia akan meletakkan manusia yang lainnya sama dan sebentuk, sehingga dengan soliditas dan kerekatan sosial antarsesama manusia tidak saling merendahkan. Banyak pihak menyerukan untuk saling menghargai dalam perbedaan dan perlunya menumbuhkan kesadaran kolektif akan persatuan dalam perbedaan pandangan agar hakikat manusia tidak menjadi serigala bagi manusia lainnya. Hal ini secara filosofis termanifestasi dalam Pancasila, khususnya sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bahwa dalam sejarah peradaban manusia justru perbedaan yang bermartabat akan memajukan sebuah peradaban manusia. Perbedaan harus disadari sebagai bentuk berkembangnya akal, cipta, rasa dan karsa pada perkembangan sebuah peradaban. Menghindari perbedaan justru sama artinya dengan menghancurkan kemajuan sebuah peradaban.
Soliditas dan kerekatan sosial akan melengkapi cipta, rasa dan karsa untuk merajut keinsyafan akan persatuan di tengah perbedaan. Rene Descartes, seorang filosof menjelaskan munculnya perbedaan pada relasi antarmanusia dengan teori cogito ergo sum, artinya aku berpikir maka aku ada. Dalam konteks pemikiran Descartes perbedaan harus dipandang sebagai tanda kekayaan hakikat manusia pada sebuah peradaban, karena perbedaan selalu lahir atas penyempurnaan pemikiran yang telah ada.
Menjelaskan perbedaan dalam relasi antarmanusia tidak terlepas dari pemikiran eksistensialisme Jean Paul Sartre. Memanusiakan dalam perbedaan sebagaimana yang saat ini diperlukan oleh bangsa Indonesia memang tidak terlepas dari tahap-tahap pemikiran eksistensialisme sebagaimana diuraikan oleh Sartre.
Secara kontekstual tahap paling dasar dalam menyikapi perbedaan adalah ketika masyarakat melihat perbedaan sebagai sesuatu yang membebani dan membuat saling menindas. Pada tahap ini manusia masih merasa sebagai serigala bagi manusia yang lainnya. Perbedaan dirasa sebagai sebuah ancaman peradaban, ketika mayoritas berusaha menyeragamkan segala sesuatunya.
Soliditas hidup bermasyarakat seolah menjadi identitas langka yang harus dihidupkan kembali. Para elite bangsa dan seluruh komponen bangsa harus kembali memahami soliditas dalam perbedaan. Stuart Weiss (1996), seorang sosiolog menjelaskan bahwa soliditas adalah unsur yang harus ada dalam relasi antarmanusia karenanya tanpa soliditas dan kerekatan sosial suatu bangsa dapat tercerai berai.
Soliditas adalah keinsyafan akan hakikat manusia, sehingga dengan kerekatan sosial akan terbentuk penghargaan akan jati diri masing masing manusia. Dalam refleksi imlek 2022, manusia akan meletakkan manusia yang lainnya sama dan sebentuk, sehingga dengan soliditas dan kerekatan sosial antarsesama manusia tidak saling merendahkan. Banyak pihak menyerukan untuk saling menghargai dalam perbedaan dan perlunya menumbuhkan kesadaran kolektif akan persatuan dalam perbedaan pandangan agar hakikat manusia tidak menjadi serigala bagi manusia lainnya. Hal ini secara filosofis termanifestasi dalam Pancasila, khususnya sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bahwa dalam sejarah peradaban manusia justru perbedaan yang bermartabat akan memajukan sebuah peradaban manusia. Perbedaan harus disadari sebagai bentuk berkembangnya akal, cipta, rasa dan karsa pada perkembangan sebuah peradaban. Menghindari perbedaan justru sama artinya dengan menghancurkan kemajuan sebuah peradaban.
Soliditas dan kerekatan sosial akan melengkapi cipta, rasa dan karsa untuk merajut keinsyafan akan persatuan di tengah perbedaan. Rene Descartes, seorang filosof menjelaskan munculnya perbedaan pada relasi antarmanusia dengan teori cogito ergo sum, artinya aku berpikir maka aku ada. Dalam konteks pemikiran Descartes perbedaan harus dipandang sebagai tanda kekayaan hakikat manusia pada sebuah peradaban, karena perbedaan selalu lahir atas penyempurnaan pemikiran yang telah ada.
Menjelaskan perbedaan dalam relasi antarmanusia tidak terlepas dari pemikiran eksistensialisme Jean Paul Sartre. Memanusiakan dalam perbedaan sebagaimana yang saat ini diperlukan oleh bangsa Indonesia memang tidak terlepas dari tahap-tahap pemikiran eksistensialisme sebagaimana diuraikan oleh Sartre.
Secara kontekstual tahap paling dasar dalam menyikapi perbedaan adalah ketika masyarakat melihat perbedaan sebagai sesuatu yang membebani dan membuat saling menindas. Pada tahap ini manusia masih merasa sebagai serigala bagi manusia yang lainnya. Perbedaan dirasa sebagai sebuah ancaman peradaban, ketika mayoritas berusaha menyeragamkan segala sesuatunya.
Lihat Juga :