Mungkinkah Rusia Menginvasi Ukraina?

Kamis, 20 Januari 2022 - 13:59 WIB
Keduanya telah dihubungkan sejak abad ke-9 ketika Kyiv menjadi ibu kota negara Rusia kuno. Pada tahun 988 penguasanya, Pangeran Agung Vladimir, memperkenalkan agama Kristen Ortodoks ke Rusia. Dari 1654 Rusia dan Ukraina disatukan oleh perjanjian di bawah pemerintahan Tsar Rusia. Itulah mengapa, banyak orang Rusia merasakan ikatan dengan Ukraina, yang justru tidak mereka rasakan terhadap negara-negara bekas Soviet lainnya di Baltik, Kaukasus, dan Asia Tengah (Mark Trevelyan, 2021).

Putin, dalam artikelnya yang dimuat situs Kremlin (en.kremlin.ru), “On the Historical Unity of Russians and Ukrainians”, bahkan mengatakan Rusia dan Ukraina adalah satu orang—satu kesatuan—dan munculnya “tembok” di antara mereka dalam beberapa tahun terakhir adalah tragis.

Melalui faktor kesejarahan inilah, Putin merasa perlu menjebol tembok pemisah tersebut dengan menempuh jalan geopolitik yang berisiko perang.

Faktor Geopolitik

Sebetulnya terdapat keyakinan yang meluas di awal 1990 bahwa Rusia telah menjalani transformasi besar dalam pemikirannya mengenai politik internasional. Banyak elite di Rusia yang memahami bahwa kompetisi kekuasaan tidak mungkin lagi dapat memperkuat dan melindungi negaranya, dan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara Barat. Beberapa pendapat lain juga menyebutkan bahwa di era pasca-Perang Dingin, Eropa Barat telah menyediakan fondasi bagi tatanan politik yang lebih stabil di seluruh daratan Eropa (John Mearsheimer, 2002).

Namun, banyak ihwal yang tidak bekerja sebagaimana mestinya di kawasan Eropa. Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) misalnya hanya memberikan situasi stabil pada separuh bagian Barat daratan ini. Ekspansi NATO ke Timur telah membuat Rusia marah, yang kini kembali berpikir dengan cara-cara lama (realisme politik). Untuk merespons sikap NATO tersebut, Presiden Vladimir Putin dalam “The National Security Concept of the Russian Federation”, yang ditandatangani pada 10 Januari 2000, menyatakan bahwa, “the formations of international relations is accompanied by competition and also by the aspiration of a number of states to strengthen their influence on global politics, including by creating weapons of mass destruction. Military force and violence remain substantial aspects of international relations”.

Sejak Perang Dingin berakhir, NATO memang melakukan ekspansi ke Timur dengan menerima 13 negara anggota baru, termasuk negara-negara bekas Pakta Warsawa dan tiga negara Baltik yang pernah menjadi bagian Uni Soviet. Rusia melihat ini sebagai ancaman perambahan terhadap perbatasannya.

Dan, ancaman ekspansi tersebut semakin nyata sejak Ukraina menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan NATO. Sejak menggulingkan presiden pro-Rusia pada 2014, Ukraina telah bergerak lebih dekat ke Barat, mengadakan latihan militer bersama NATO dan menerima pengiriman senjata termasuk rudal antitank Javelin AS dan pesawat tak berawak Turki.

Kyiv dan Washington melihat ini sebagai langkah yang sah untuk memperkuat pertahanan Ukraina setelah Rusia merebut Krimea pada 2014 dan memberikan dukungan kepada separatis yang masih memerangi pasukan pemerintah di Ukraina Timur. Putin mengatakan hubungan Ukraina yang berkembang dengan aliansi itu dapat menjadikannya landasan peluncuran rudal NATO yang ditargetkan ke Rusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!