Artificial Intelligence Dinilai Akan Tentukan Masa Depan Dunia

Jum'at, 14 Januari 2022 - 20:09 WIB
Selain Hammam, hadir sebagai narasumber adalah Dosen Ilmu Komputer & Keamanan Siber University of South Carolina Aiken Houssain Kettani; Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian & Pengembangan, serta Kemajuan Digital UICI Jaswar Koto; dan Dekan Malaysia-Japan International Institute, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Prof Ali Selamat.

Pada kesempatan itu, Hammam menyampaikan, banyak negara saat ini telah membangun rencana strategis implementasi AI. Pengembangan AI sendiri saat ini masih dikuasai oleh Amerika Serikat.

Namun, perlahan hal itu akan disusul oleh China yang menjadikan AI sebagai prioritas negara pada tahun 2030.

Untuk Indonesia sendiri, Hammam menjelaskan BRIN-BPPT pada 2020 telah meluncurkan strategi nasional AI bersama 11 institusi litbang dan pemerintah, 11 perguruan tinggi, 6 komunitas, dan 9 industri.

"Kita fokus kepada 4 wilayah, yaitu etika dan kajian kebijakan AI, Infastruktur dan Data AI, Pengembangan talenta AI, dan Riset dan Inovasi industry AI. Ini adalah fondasi dasar pemanfaatan AI menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045," jelas Hammam.

Houssain Kettani yang menjadi narasumber pertama dalam kesempatan itu terlebih dahulu memaparkan tantangan dunia modern untuk pendidikan. Menurutnya, proses belajar mengajar di pendidikan tinggi terus berevolusi, dari penyampaian secara oral oleh seorang dosen hingga dimulainya secara online.

"Pendidikan online ini menemui tantangannya, yaitu di antaranya soal kerahasiaan; integritas, bagaimana Anda mengetahui seorang mahasiswa benar-benar mengikuti pembelajaran; ketersediaan jaringan internet; dan kualitas pendidikan," jelas Houssain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!