Membaca Tofan Mahdi
Sabtu, 11 Desember 2021 - 06:21 WIB
Menulis bebas kini sedang menjadi tren dan banyak dilakukan oleh penulis pemula. Dan sebenarnya menulis itu mudah. Pengalaman sehari-hari merupakan bahan menarik untuk menulis. Kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi dapat menjadi cerita yang asyik untuk ditulis. Menulis adalah ungkapan jiwa, sarana mengekspresikan diri, dan menuangkan kegelisahan. Menulis juga tak harus baku, disesuaikan saja dengan kemampuan dan karakteristik kita.
Nama Topan Mahdi memang tak setenar penulis-penulis kawakan. Makanya, dengan membaca buku Pena di Atas Langit 2, bisa sekilas mengenal dan membaca riwayat berikut karakteristik seorang Tofan Mahdi. Seseorang yang sangat tekun, teliti, pekerja keras, berselera humor tinggi, bersahabat serta sangat peduli kepada sesama terutama keluarga.
Dan membaca buku Pena di Atas Langit 2, betul-betul membuat rasa penasaran berkelindan. Bahkan setelah rampung membaca, ingin membaca ulang. Saya pribadi, karena berprofesi sebagai wartawan, sedikitnya ada dua bab dalam buku ini yang harus betul-betul saya seriusi membacanya. Dua bab itu, yakni Tantangan Komunikasi Digital (Bab 11), dan Perjalanan Menjadi Wartawan Jawa Pos (Bab 13).
baca juga: Kemenag Luncurkan Buku Moderasi Beragama dalam 3 Bahasa
Buku yang berupa bunga rampai ini juga tak ubahnya guide, bahkan bisa dikatakan modul. Bagi yang senang bepergian dan hobi menulis, terlebih yang rajin membuat catatan, penting sekali membaca dan mempelajari buku ini. Isi buku ini sebenarnya ringan-ringan berat, dengan tulisan sangat lugas, renyah, dan mengalir apa adanya. Saking enaknya dibaca, seperti tak sabar untuk membaca halaman-halaman berikutnya.
Pada buku ini ada cerita perjalanan si penulis ke mancanegara, mulai Singapura, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Turki, Norwegia, Amerika Serikat, dan satu topik yang tak pernah selesai dibahas, Palestina. Selain tentang cerita perjalanan, ada juga tulisan tentang dunia aviasi yang kembali berduka karena isu keselamatan penerbangan. Karena saat ini si penulis sebagai seorang profesional di industri kelapa sawit, sudah barang tentu juga ada isu-isu sawit yang ditulis dengan cara lugas, khas tulisan seorang wartawan.
Habitus Kewartawanan
Membaca buku Pena di Atas Langit 2 enjoy saja. Tak mesti runut per bab atau per judul, bisa lompat-lompat dari halaman/bab belakang, depan, tengah. Suka-suka saja. Buku ini ibarat tuturan yang menjelma tulisan. Nyata sekali, si penulis begitu piawai menuangkan hasrat dan kegelisahannya. Kelenturan menulis dengan cara berkisah bukan karena semata si penulis dulunya pernah menjadi wartawan. Ini lebih karena ia begitu kukuh untuk tetap setia menulis, terus menjaga dan merawat bakat menulisnya, sekalipun sekarang dirinya menjabat vice president kehumasan di sebuah perusahaan ternama.
Nama Topan Mahdi memang tak setenar penulis-penulis kawakan. Makanya, dengan membaca buku Pena di Atas Langit 2, bisa sekilas mengenal dan membaca riwayat berikut karakteristik seorang Tofan Mahdi. Seseorang yang sangat tekun, teliti, pekerja keras, berselera humor tinggi, bersahabat serta sangat peduli kepada sesama terutama keluarga.
Dan membaca buku Pena di Atas Langit 2, betul-betul membuat rasa penasaran berkelindan. Bahkan setelah rampung membaca, ingin membaca ulang. Saya pribadi, karena berprofesi sebagai wartawan, sedikitnya ada dua bab dalam buku ini yang harus betul-betul saya seriusi membacanya. Dua bab itu, yakni Tantangan Komunikasi Digital (Bab 11), dan Perjalanan Menjadi Wartawan Jawa Pos (Bab 13).
baca juga: Kemenag Luncurkan Buku Moderasi Beragama dalam 3 Bahasa
Buku yang berupa bunga rampai ini juga tak ubahnya guide, bahkan bisa dikatakan modul. Bagi yang senang bepergian dan hobi menulis, terlebih yang rajin membuat catatan, penting sekali membaca dan mempelajari buku ini. Isi buku ini sebenarnya ringan-ringan berat, dengan tulisan sangat lugas, renyah, dan mengalir apa adanya. Saking enaknya dibaca, seperti tak sabar untuk membaca halaman-halaman berikutnya.
Pada buku ini ada cerita perjalanan si penulis ke mancanegara, mulai Singapura, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Turki, Norwegia, Amerika Serikat, dan satu topik yang tak pernah selesai dibahas, Palestina. Selain tentang cerita perjalanan, ada juga tulisan tentang dunia aviasi yang kembali berduka karena isu keselamatan penerbangan. Karena saat ini si penulis sebagai seorang profesional di industri kelapa sawit, sudah barang tentu juga ada isu-isu sawit yang ditulis dengan cara lugas, khas tulisan seorang wartawan.
Habitus Kewartawanan
Membaca buku Pena di Atas Langit 2 enjoy saja. Tak mesti runut per bab atau per judul, bisa lompat-lompat dari halaman/bab belakang, depan, tengah. Suka-suka saja. Buku ini ibarat tuturan yang menjelma tulisan. Nyata sekali, si penulis begitu piawai menuangkan hasrat dan kegelisahannya. Kelenturan menulis dengan cara berkisah bukan karena semata si penulis dulunya pernah menjadi wartawan. Ini lebih karena ia begitu kukuh untuk tetap setia menulis, terus menjaga dan merawat bakat menulisnya, sekalipun sekarang dirinya menjabat vice president kehumasan di sebuah perusahaan ternama.
Lihat Juga :